Oleh Haniefa Amanniya 

Santri SMA Khoiru Ummah Sumedang


Kita tidak bisa menolak Sunnatullah yang sudah ditetapkan. Musibah itu bisa datang kapan saja, dimana saja dan bisa mengenai siapapun, bukan hanya orang kafir, orang berdosa, yang lalai, bahkan orang yang beriman pun bisa terkena akibatnya.

Negeri ini, sekarang sedang dirundung duka, terkena musibah bertubi-tubi, di antaranya yang terjadi di Kalimantan. Banjir melanda sejumlah daerah di Kalimantan Selatan beberapa waktu yang lalu. Hujan deras selama beberapa hari merendam sekitar 1500 rumah warga di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, dengan ketinggian 2-3 meter selama sepekan. (Kompas.com 15/1/2021)

Dikonfirmasi oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), banjir tahun ini merupakan yang terparah dari tahun-tahun sebelumnya. Meskipun demikian, hujan deras bukanlah penyebab utama terjadinya banjir, tetapi akibat rusaknya ekologi tanah di Kalimantan. (Suara.com 15/1/2021)

Penyebab rusaknya ekologi tanah salah satunya terjadi karena faktor ulah manusia. Pembukaan lahan secara terus menerus untuk perkebunan sawit meningkat secara signifikan dan kondisi sekitar dari tahun ke tahun mengalami perubahan.

Berdasarkan tahun 2020, sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah. Dari total luas wilayah 3,7 hektar hampir 50% sudah diberi izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. (Kompas.com 15/1/2021)

Dari bencana banjir hingga longsor terjadi di awal tahun ini. Bencana alam harus disikapi dengan sabar, ridha, dan selalu berhusnudzon dengan segala kehendak-Nya, karena ini merupakan ketetapan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: [57]: 22)

Indonesia sebagai negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, tetapi negeri ini juga memiliki potensi bencana alam yang amat besar. Bencana alam akibat kerusakan ekologis adalah buah busuk yang mengiringi pembangunan eksploitatif yang sekuler kapitalistik. 

Masalah lingkungan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa semua ini adalah akibat dari keserahan para kapitalis yang membuat peraturan sesuai hawa nafsu mereka sendiri. Dari segi manfaat yang menjadi tolak ukur untuk kenyamanan dan kemaslahatan mereka.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum [30]: 41)

Ayat di atas menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi tidak hanya faktor alam, namun akibat manusia yang menentang peraturan Allah. Manusia tidak melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi untuk bertanggung jawab terhadap pemeliharaan alam semesta. Sebab, terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah karena ketaatan dan ketakwaan kepada Allah. 

Sistem pemerintahan yang menerapkan demokrasi yang berlandaskan paradigma sekulerisme liberalisme dimana ideologi tersebut dilandaskan pada asas kompromi. Kebebasan dalam kepemilikan memberikan hak kepada siapa saja untuk memiliki dan menanam modal dengan cara dan sarana apapun. Semata-mata hanya mengejar keuntungan kemudian menafikan kepentingan rakyat. 

Hal ini sangat bertentangan dengan Islam. Islam tidak melarang eksplorasi kekayaan alam, tetapi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Meskipun kepemilikan umum, masyarakat boleh mengambil manfaat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan dieksploitasi sesuka hati. 

Islam mengatur pengelolaan kepemilikan antara individu, umum, dan negara. Negara sebagai pihak berwenang mempunyai tanggung jawab sepenuhnya dalam mengelola hutan. Pengelolaan lingkungan jika mengalami ketidakseimbangan akan menimbulkan dampak khususnya untuk keberlangsungan hidup manusia. Hutan merupakan harta milik umum, memberikan hak pemanfaatan baik untuk perkebunan sawit maupun pembangunan infrastruktur tidak dibenarkan apapun alasannya. 

“Tidak ada hima (hak pemanfaatan khusus) kecuali milik Allah dan rasul-nya.” (HR. Abu Daud) 

Islam sebagai diin yang sempurna. Berbagai problematika dan tantangan dapat dipecahkan termasuk bencana alam. Bencana datang sebagai bentuk peringatan kepada manusia untuk menghentikan segala kemaksiatan maupun kezaliman sistem. Islam mengajak umatnya untuk mencintai alam dan lingkungan serta mengajarkan konsep perlindungan lingkungan hidup. Sistem ekonomi Islam mencegah keserakahan dan konsumerisme yang keluar dari aspek pemanfaatan sumber daya alam. 

Suatu kehidupan yang ideal yang tercatat sejarah selama belasan abad yaitu saat Islam berada di bawah naungan sistem Islam. Khalifah sebagai pemimpin akan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian negara sebagai pemilik kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan agama. Sistem yang benar harus berasal dari Zat Yang Mahabenar yaitu Allah Swt.

Karena itu, seluruh masyarakat harus bersedia menerapkan hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Maka, ketika hukum Islam diterapkan secara menyeluruh maka Allah Swt. akan memberikan keberkahan yang berlimpah di muka bumi. Ketakwaan juga merupakan wujud dari penerapan hukum Islam sehingga keberkahan akan datang dari langit dan bumi.

“Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat.” (QS al-A’raf [7]: 96)

 
Top