Benarkah Dinar Dirham Mengancam?


Oleh Dewi Sartika

(Muslimah peduli Umat)


Beberapa Pekan lalu, perhatian masyarakat teralihkan kepada penangkapan aktivis pasar muamalah Depok Zaim Saidi yang menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi dalam aktivitas pasar tersebut. Selasa 2/2/2001 bareskrim Polri menangkap pendiri pasar muamalah Depok, Jawa Barat. Kabar penangkapan itu dikonfirmasi oleh karo penmas humas Polri Brigen Rusdiharto. Dia menjelaskan penangkapan dilakukan sub unit 4 bareskrim, dikutip dari okezone.com tanggal 3 Februari 2021.

Pendiri pasar muamalah Zain Saidi disangkakan 2 pasal sekaligus, kedua pasal tersebut adalah pasal 9 undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana, dan pasal 33 nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang.

Sungguh berlebihan respon pemerintah mengenai persoalan ini seolah penggunaan dinar dirham adalah sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Sehingga harus dibawa ke ranah hukum. Transaksi menggunakan dinar dan dirham di pasar muamalah tersebut telah terjadi sejak lama, namun, mengapa baru sekarang dipersoalkan? Pasal yang menjerat Zaim Saidi pun seolah mengada-ngada, sebab jika alasan pasar tersebut transaksinya tidak menggunakan rupiah, tetapi pada kenyataannya praktik transaksi serupa banyak terjadi di tempat-tempat lain seperti di wilayah perbatasan dan tempat wisata di Bali yang mana mereka menggunakan mata uang asing semisal dolar. Namun, yang demikian tidak menjadi masalah bagi pemerintah justru mereka diberi peluang sebesar-besarnya. Jika kita melihat lebih jauh transaksi tersebut dapat berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Karena, banyaknya transaksi yang menggunakan mata uang asing akan menurunkan permintaan terhadap rupiah.

Sementara transaksi yang terjadi di pasar muamalah tidak menggunakan mata uang asing. Keberadaan dinar dirham yang digunakan hanya sebatas  alat tukar menukar atau barter. Hal ini semakin menjelaskan bahwa rezim kapitalis saat ini begitu besar kebenciannya terhadap Islam. Masih segar diingatan kita, bagaimana kerudung disoal, dianggap sebagai intoleransi dan kini dinar dirham pun dipersoalkan. Tindakan pemerintah mengkriminalisasi transaksi dinar dirham semakin menegaskan bahwa mereka fobia terhadap Islam. Bukan karena ingin menertibkan pelanggaran administrasi terkait alat transaksi. Padahal dengan adanya transaksi memakai dinar dirham di pasar muamalah tersebut negara tidak dirugikan sedikitpun.

Semenjak Rasulullah Shalallahu Wassalam berhasil mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah setelah hijrah. Rasulullah menyetujui mata uang dinar dirham sebagai mata uang resmi negara. Namun, pada saat itu masih dalam skala sebagai alat barter karena dinar dirham dikenakan oleh masyarakat pada saat itu.

Sejarah mencatat bahwa emas dan perak merupakan alat tukar yang nilainya paling tinggi dan stabil yang pernah dikenal dunia. Peradaban Islam di era keemasan abad-abad lamanya menjelma menjadi kekuatan perekonomian dunia.

Transaksi menggunakan dinar dirham pada masa Khalifah Umar Bin Khattab, pertama kali umat Islam menggunakan Dinar pada tahun 642 Masehi satu dasawarsa setelah rasulullah wafat kemudian Khalifah Umar Bin Khattab pun mengganti dracha dengan dirham. Dan pada masa Khalifah Umar pula umat Islam mulai mencetak mata uang standar dengan teknik penempaan. Dirham dicetak umat Islam pada tahun 651 masehi pada era kepemimpinan Utsman bin Affan. Dinar dicetak pertama mencantumkan tulisan bismillah yang menjadi ciri khas koin yang dicetak pada masa itu. Kemudian  selanjutnya dinar dan dirham yang dicetak oleh umat Islam mencantumkan nama penguasa atau Amir yang berkuasa pada saat itu.

Pemerintah Umar telah menetapkan standar koin dinar dirham yang akan dibuat bersandarkan pada standar yang telah ditetapkan berat 7 dinar setara dengan 10 dirham. Khalifah juga menetapkan standar dinar dengan emas, sedangkan dirham atau perak haruslah menggunakan perak murni dengan berat 3,0 gram. Selain memiliki nilai yang paling stabil fakta keunggulan dinar dirham pun tidak diragukan lagi. Dinar dan dirham memiliki kelebihan dibandingkan dengan uang kertas yang kita gunakan saat ini karena uang kertas saat ini tidak memiliki nilai intrinsik, nilai intrinsiknya hanya sehelai kertas biasa.

Keunggulan dinar dan dirham di antaranya:

Pertama: Dinar dan dirham memenuhi unsur keadilan dibandingkan dengan uang kertas, dinar dan dirham memiliki basis yang riil berupa emas dan perak.

kedua: Dinar dan dirham lebih stabil tahan terhadap inflasi berdasarkan fakta sejarah emas dan perak merupakan salah satu mata uang yang relatif stabil dibandingkan dengan uang kertas.

Ketiga: Dinar dan dirham memiliki aspek penerimaan yang tinggi termasuk dalam pertukaran antara mata uang atau dalam perdagangan internasional. Sebab, dinar dan dirham tidak memerlukan perlindungan nilai karena nilai nominalnya dijamin penuh oleh emas dan perak.

Jika demikian faktanya mengapa dinar dan dirham harus dikriminalisasi. Sudah saatnya kita menggunakan mata uang yang dapat mengembalikan serta mengokohkan perekonomian negara. Kembali kepada mata uang yang telah disyariatkan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Wallahu a'lam bishshawab.