Beginilah Derita Umat Islam 100 Tahun Tanpa Khilafah

 



Oleh Tri S, S.Si


Sebagai seorang muslim, tujuan dalam hidupnya adalah menggapai rida Allah. Hal itu bisa dicapai ketika hukum dan aturan Allah dilaksanakan dengan penuh ketaatan. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. 

Sebab, Allah mengutus Nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul, sekaligus menjadi uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagi umatnya. " Laqod kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun."

"Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab [33] :21)

Saat ini 100 tahun sudah runtuhnya kekhilafahan. Dimana kaum muslimin tidak lagi mempunyai seorang pemimpin. Sehingga kaum muslimin kehilangan legitimasi kepemimpinan. Tidak ada lagi yang mengatur penerapan dan pelaksanaan hukum dan aturan Islam. Akhirnya berbagai macam persoalan muncul di tengah kehidupan. Kriminalitas dan kejahatan merajalela. Perzinaan dan kemaksiatan semakin meningkat. Tidak ada lagi rasa aman. Kaum muslimin hidup dalam ketakutan.

Di sektor pendidikan, banyak anak yang putus sekolah disebabkan tidak adanya biaya. Krisis ekonomi telah menyebabkan kebodohan. Buta huruf dalam pengetahuan. Sehingga umat Islam menjadi lemah, mudah diadu domba dan dijajah oleh negara kafir. Banyak sumber daya alam yang akhirnya dikuasai oleh musuh-musuh Islam. 

Negeri-negeri kaum muslimin menjadi terpecah belah. Terpuruk dalam kehinaan, kegelapan, terombang ambing oleh pedoman yang salah. Aturan Allah ditinggalkan lebih menghamba pada aturan buatan manusia yang berlabel demokrasi kapitalis. Sehingga pemikiran kaum muslimin menjadi teracuni. 

Paham sekularisme telah merasuk ke dalam tubuh kaum muslimin. Kaum muslimin buta terhadap ajaran Islam. Sebab, agama dipisahkan dari kehidupan. Kehidupan kaum muslimin dipenuhi dengan hawa nafsu dan keserakahan. Mereka tidak lagi memikirkan halal dan haram sebagai tolok ukur perbuatan. Hanya memikirkan keuntungan semata dan menjunjung tinggi asas manfaat. Mengukur kebahagiaan dari materi saja. Menghalalkan segala macam cara untuk mencapai kebahagiaannya. 

Maka ketika duduk di pemerintahan, yang dilakukan hanya untuk memenuhi kepentingannya. Sehingga ketika mengeluarkan kebijakan tidak untuk kepentingan rakyat. Malah rela berkompromi dengan asing untuk mencapai tujuannya.

Masalah kaum muslimin menjadi sistemik. Sebab, Islam sudah tidak lagi dijadikan sebagai arah pandang. Tunduk disetir oleh pemikiran asing. Baik dari segi budaya, sosial, politik dan gaya hidup.

Bahkan dari sumber kekayaan alam sudah banyak yang dikuasai oleh asing. Negeri kaum muslimin terpuruk. Tidak ada lagi kesejahteraan. Tidak ada lagi kewibawaan. Tidak ada lagi kehormatan. Tidak ada lagi keselamatan dan keamanan. Kaum muslimin tidak lagi mempunyai seorang pemimpin, junnah (perisai) yang akan melindungi rakyatnya. Kaum muslimin dihinakan. Tidak dapat lagi melakukan ibadah dengan aman. Tidak dapat lagi salat di Masjidil Aqsha. Penderitaan bangsa Palestina hanya menjadi tontonan di depan mata. 

Negeri kaum muslimin terpecah belah, kalah, terjajah dan tertindas. Dunia Islam menjadi gelap dalam cengkeraman kafir imperialis. Penderitaan negeri muslim menjadi problem pribadi. Sebab, kaum muslimin tidak satu tubuh lagi. Ibarat tangan terpotong seluruh tubuh akan merasakan sakitnya. Kesatuan kaum muslimin telah tercerai berai.

Maka, harus ada seorang pemimpin bagi kaum muslimin untuk dapat mempersatukannya. Sebab, tugas seorang pemimpin di dalam Islam adalah ri'ayatus su-uunil ummah. Pemimpin yang mengurusi urusan rakyatnya. Untuk bisa mengatur, mengelola dan memakmurkan bumi untuk kesejahteraan rakyatnya. 

Allah Swt. berfirman, "Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurannya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan telah memperkenankan (do'a hamba-Nya)." (QS. Hud [11]: 61)

Allah telah menciptakan manusia dengan segala aturan-Nya. Ketakwaan individu dibarengi dengan adanya seorang pemimpin yang bisa menerapkan aturan Islam maka keselamatan dan kebahagiaan akan terwujud.

Allah Swt. berfirman, "Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahayanya dengan izin-Nya dan menunjukkan ke jalan yang lurus." (QS. Al Ma'idah [5]: 16)

Mendung itu akan segera berakhir. Gelap akan berubah menjadi terang benderang. Bersatulah kaum muslimin dalam naungan khilafah!