Oleh Deny Rahma

(Anggota Komunitas Setajam Pena)


Isu seragam kerudung yang sempat viral di SMK Negeri 2 Padang beberapa hari yang lalu berbuntut panjang. Pasalnya ada tiga menteri yang telah mengeluarkan peraturan terkait penggunaan atribut sekolah bagi pelajar. Menteri tersebut yakni Nadiem Makarim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tito Karnavian dari Kementerian Dalam Negeri serta Yaqut Cholil Qumas dari Kementerian Agama. Mereka menyatakan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, bahwa Pemda maupun sekolah tidak diperbolehkan untuk mewajibkan atau melarang murid untuk mengenakan seragam beratribut agama. Menurut Menag bahwa lahirnya SKB 3 Menteri tersebut adalah upaya untuk mencari titik persamaan dari berbagai perbedaan yang ada di masyarakat.

Dalam SKB 3 Menteri tersebut ada 6 poin penting yang menjadi sorotan. Pertama, keputusan bersama ini mengatur sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda). Kedua, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara: 1) Seragam dan atribut tanpa kekhususan agama, 2) Seragam dan atribut dengan kekhususan agama. “Hak untuk memakai atribut keagamaan adanya di individu. Individu itu adalah guru, murid, dan tentunya orang tua, bukan keputusan sekolah negeri tersebut,” ujar Mendikbud Nadiem. 

Ketiga, pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

Keempat, pemda dan kepala sekolah wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama paling lama 30 hari kerja sejak keputusan bersama ini ditetapkan.

Kelima, jika terjadi pelanggaran terhadap keputusan bersama ini, maka sanksi akan diberikan kepada pihak yang melanggar.

Keenam, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan beragama Islam di Provinsi Aceh dikecualikan dari ketentuan keputusan bersama ini sesuai kekhususan Aceh berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait pemerintahan Aceh.

Padahal jika ditinjau lebih dalam bahwa dengan mengatasnamakan hak setiap siswa SKB 3 Menteri tersebut justru bertentangan dengan tujuan pendidikan untuk menciptakan insan bertakwa. Alih-alih mendidik untuk taat kepada aturan agama, justru mendorong untuk bebas dalam berperilaku. 

Dikutip dari laman hidayatullah.com 06/02/2021, Ketua MUI Pusat Dr. Cholil Nafis memberikan pandangannya melalui akun twitter beliau terkait dikeluarkanya SKB 3 Menteri tesebut.

“Kalau pendidikan tak boleh melarang dan tak boleh mewajibkan soal pakaian atribut keagamaan, ini tak lagi mencerminkan pendidikan. Memang usia sekolah itu perlu dipaksa melakukan yang baik dari perintah agama karena untuk pembiasaan pelajar. Jadi SKB 3 menteri itu ditinjau kembali atau dicabut. Saya sudah pisahkan. Makanya jangan dilarang ketika guru agama Islam mewajibkan jilbab kepada murid muslimahnya, karena itu kewajiban dari Allah. Pakai sepatu yang kewajiban sekolah aja bisa dipaksakan ko’. Yaopo,”cetusnya.

Lebih dari itu, siswa muslim di daerah minoritas justru akan terus dirugikan, karena SKB ini tidak mungkin menghapus regulasi daerah yang melarang memakai identitas agama. Jadi, harapan adanya kebebasan berjilbab bagi siswi muslimah di Bali dan tempat lain tidak terwujud melalui SKB ini. Dan Ini hanya menegaskan bahwa rezim sekuler yang berkuasa saat ini fobia terhadap syariah Islam. Dimana asas sekularisme adalah asas yang ingin memisahkan kehidupan dengan agama. Padahal dalam Islam kehidupan dan agama adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Dan telah ditegaskan oleh Allah Swt. Sang Pembuat Aturan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yakni agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Terkait peraturan berpakaian, Allah juga mewajibkan umatnya untuk menutup aurat sesuai syariat-Nya. Hal tersebut telah tercantum jelas dalam Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 26 yang berbunyi: 

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Aturan yang Allah turunkan untuk manusia adalah bukti bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Aturan dan adab berpakaian sesuai syariat Islam adalah bentuk pembiasaan bagi umatnya agar selalu taat kepada Allah. Aturan tersebut adalah aturan yang membawa kemaslahatan bagi umatnya, sehingga kita diwajibkan untuk taat kepada peraturan-Nya daripada aturan manusia yang jelas-jelas tak menjamin keselamatan. Dan aturan tersebut dapat diwujudkan jika negara menerapkan hukum-hukum Islam. Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top