Antara Bencana Alam, Non Alam, dan Bencana Manusia


Oleh : Hana Sopiana


Dari awal tahun ini kita sudah dikejutkan dengan beberapa bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Bandung. Faktanya dana bencana Kabupaten Bandung untuk 2021 mencapai puluhan miliar. Ada dua anggaran bencana yang disediakan selama satu tahun ini, untuk bencana alam mengambil dari dana tidak terduga, anggarannya sekitar 10 miliar dan untuk bencana non alam yaitu Covid-19 sekitar 53 miliar. 

Anggaran bencana Kabupaten Bandung capai puluhan miliar, PJ Sekda kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, "Anggaran bencana 2021 mencapai kurang lebih sekitar 63 miliar. Terbagi untuk bencana alam dan non alam," lanjutnya, masyarakat Kabupaten Bandung dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hydro meteorologi, baik banjir, banjir bandang, dan longsor  maupun bencana lainnya yang berkaitan dengan curah hujan. (ayobandung.com)

Bencana alam dan non alam, sebenarnya rakyat sudah sangat familiar dengan kondisi saat ini, yaitu ketika curah hujan yang tinggi yang cenderung memicu terjadinya bencana alam maupun non alam dan bukan hal yang tabu bagi mereka. Walaupun setiap bencana disebabkan oleh gejala alami, namun memang manusialah yang sering disebut sebagai penyebab utama setiap bencana.

Berbagai cara dan upaya, serta segala sesuatu telah dikerahkan untuk memperbaiki semuanya agar tidak terjadi lagi bencana, akan tetapi manusia belum mampu menghentikan bencana ini. Inilah bagian dari bencana akibat ulah tangan manusia. Salah satu faktornya disebabkan sebagian besar masyarakat belum memiliki kesadaran untuk menjaga alam bahkan cenderung melakukan aktivitas-aktivitas yang merusak kelestarian alam. Setiap  anggaran disunat termasuk anggaran untuk melestarikan alam, kejahatan dan penipuan semakin meluas. Belum nampak perubahannya menuju kebaikan nilai-nilai kapitalisme telah nyata rusak dan merusak. Inilah bencana manusia yang hidup penuh nafsu tanpa syariat, inilah hidup di bawah naungan kapitalisme-sekularisme.

Dalam sistem Islam, bencana alam dan non alam bisa dikendalikan dan diatasi dengan baik. Yaitu dengan melibatkan peran negara (khilafah) dengan metode dan aturan Islam yang tentunya akan menyejahterakan rakyatnya, dan ini adalah cara yang efektif untuk mencegah dan menjaga masyarakat dari bahaya bencana alam dan virus Covid-19 ini. 

Langkah-langkah yang akan dilakukan oleh negara dalam sistem Islam yaitu:

Yang pertama, tidak membolehkan untuk memperjualbelikan hutan atau gunung, yang merupakan kepemilikan umum. Menggerakkan program menanam kembali pepohonan di pegunungan (reboisasi), memberikan sanksi tegas kepada orang-orang yang membuang sampah sembarangan, memberi pemahaman kepada orang-orang agar bisa lebih menjaga alam dan lingkungan. Pemimpin (Khalifah) nantinya akan selalu meny

ejahterakan rakyatnya dengan kembali merawat bumi, memberikan sarana atau kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi, memberi sanksi yang tegas untuk para koruptor dan tangan-tangan rakus lainnya, berdasarkan pada  aturan yang sudah dibuat oleh Allah Swt.

Yang kedua, untuk bencana non alam (Covid-19) sudah jelas-jelas Allah menjelaskan dengan rinci dalam Hadis Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Sedangkan di zaman ini pemerintah malah menyediakan sarana untuk para turis asing terbang ke Indonesia yang jelas jelas pemerintah tahu bahwa virus ini berasal dari negeri sebrang yang seharusnya kita menjaga atau melockdownnya. Tetapi saat ini yang terjadi adalah sebaliknya, dengan dalih untuk menjaga pemasukan negara dan investasi akhirnya pemerintah mengizinkankan gelombang TKA masuk ke wilayah Indonesia walaupun pada saat pandemi Covid-19.

Untuk menjaga bencana manusia dari faktor manusia itu sendiri Negara Khilafah mengikat mereka dengan hukum syara' dan tujuan syariat Islam diturunkan untuk menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga keturunan, menjaga kehormatan, menjaga akal, menjaga harta. Itulah tujuan utama diturunkannya syariat Islam di dunia ini tentu harus dengan hukum yang diturunkan Allah Swt., jika hukum buatan manusia yang diambil, maka dijamin bencana kemanusiaan akan semakin merajarela. 

Dan seterusnya kita terapkan hukum hukum Islam dalam aspek kehidupan, termasuk dalam hal penanganan bencana alam ini, Islam akan menerapkan sistem lockdown ketika ada penyakit menular tidak akan menunda apalagi sampai menyebarkan ke beberapa kota/negeri.

Dengan adanya hukum Allah yang diturunkan, di dalamnya terdapat kebaikan, maka bersegeralah berharap pada sistem Islam yang dijamin masyarakat akan senantiasa disejahterakan dan menjamin kemaslahatan bagi manusia. Sudah saatnya ubahlah mindset kita agar bisa berpikir ke arah yang lebih baik, ingin memajukan/menegakkan kembali negara Khilafah Islamiyah, dengan tidak melakukan banyak kemaksiatan, agar Allah senantiasa memberi kita banyak kebahagiaan keberkahan di bumi ini. 

Wallahu a'lam bishshawab.