Anak Gugat Orang tua, Bukti agalnya Kapitalisme Mewujudkan Keutuhan Keluarga

 



Oleh : Sisi Yanti, S.E.

Dikutip dari kompastv (20/1/2021), gugatan anak kepada ayah kandungnya senilai Rp 3 miliar di Bandung, Jawa Barat, menjadi sorotan. Selain karena nilai gugatan, perseteruan antara anak dan ayah ini juga menjadi sorotan karena melibatkan anggota keluarga kandung lainnya sebagai pengacara kasus ini.


Karena warung kelontong inilah, gugatan seorang anak kepada ayah kandungnya bermula. Deden sang penggugat adalah pemilik warung kelontong yang menyewa tanah milik almarhum kakeknya sejak 2012 lalu. Saat ini salah satu ahli waris tanah itu adalah ayah Deden, yakni R E Koswara. Koswara dan saudaranya ingin menjual tanah itu, sehingga meminta Deden untuk menutup warungnya. Singkat cerita, Deden tidak terima. Kemudian terjadi dinamika termasuk pelaporan Deden oleh ayahnya dengan tuduhan pencurian listrik PLN untuk warungnya. Deden pun menggugat ayah dan saudaranya, serta PLN dan BPN ke pengadilan.


Sementara itu, pihak Pengadilan Negeri Bandung berharap kasus ini bisa diselesaikan di tingkat mediasi dan berujung damai. Pakar hukum Universitas Trisakti, Asep Iwan Iriawan menjelaskan, kasus gugatan adalah hak keperdataan yang merupakan hak setiap orang untuk menggugat siapa pun termasuk orang tua maupun saudara kandung. Meski demikian, kasus keluarga seperti ini lebih baik bisa diselesaikan secara mediasi.

Ini lah potret buram keluarga dalam sistem kapitalis-liberal. Tidak ada lagi rasa hormat terhadap orang tua, bahkan anak menjadi durhaka, yang di picu alasan materi(uang), kerasnya tekanan gaya hidup, ketidak adilan ekonomi serta lemahnya penanaman ketakwaan membuat individu kehilangan fitrah kemanusiaan.


Selain kekerasan terhadap lansia, masih banyak kasus lain yang terjadi  di dalam keluarga seperti kekerasan terhadap anak, kekerasan suami terhadap isteri dan lain sebagainya.


Mari kita bandingkan potret keluarga dalam naungan sistem Islam yakni Khilafah. Islam mendidik generasi untuk menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yg lebih muda, menghargai sesama  bahkan mewajibkan anak "Birrul Walidayn" dan memuliakan orang tuanya.


Allah Swt berfirman dalam Al-Qur.'an surat al-Isra ayat 23:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا.

" Rabb kalian telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah kalian berbakti pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaan kalian, maka sekali-kali janganlah kalian mengatakan kepada keduanya perkataan ah, dan janganlah kalian membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. "


Kandungan ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah. Allah Swt menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya, yaitu berkasih sayang kepada sesama terutama kepada kedua orang tua. Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua pun tidaklah gugur meskipun seorang anak telah berkeluarga atau orang tua telah meninggal dunia.


Kewajiban berbuat baik kepada orang tua, oleh Allah Swt di posisikan setelah beribadah& mentauhidkan-Nya.karena itu, didalam sistem Islam  bersuara lebih keras tanpa sebab atau mengucapkan  kata "ahh" saja dilarang, apalagi sampai menggugat ke pengadilan Nauzubillah....(tafsir azhm, 1/611).


Namun hal itu mustahil terlaksana sempurna di dalam sistem kapitalis  seperti saat ini.

Oleh karena itu, marilah kita sama-sama berjuang agar syariat Islam segera di tegak kan dalam bingkai "Khilafah ala Minhaj Annubuwwah", agar kasus kekerasan baik itu di dalam keluarga, lingkungan Masyarakat dan negara segera terbebaskan.

Terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.

Wallahu a'lam