Anak Gugat Ayah, Potret Generasi Kapitalis


Oleh Nita Karlina

(Aktivis Muslimah Kendari)


Ayah kepala keluarga, sebagai imam keluarga. Memimpin dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Memberikan penghidupan terbaik, mengusahakan pendidikan terbaik untuk putra-putrinya dengan harapan menjadi kebanggaan orang tua. Namun apa jadinya apabila di masa senja yang seharusnya orang tua mendapatkan bakti dan cinta dari putra putrinya malah membawa petaka hanya karena harta.

Seperti yang di lansir Kompas TV, 23/01/2021 lalu, Gugatan anak kepada ayah kandungnya senilai Rp3 miliar di Bandung, Jawa Barat, menjadi sorotan. Selain karena nilai gugatan, perseteruan antara anak dan ayah ini juga menjadi sorotan karena melibatkan anggota keluarga kandung lainnya sebagai pengacara kasus ini.

Karena warung kelontong inilah, gugatan seorang anak kepada ayah kandungnya bermula. Deden sang penggugat adalah pemilik warung kelontong yang menyewa tanah milik almarhum kakeknya sejak 2012 lalu.

Saat ini salah satu ahli waris tanah itu adalah ayah Deden, yakni R E Koswara. Koswara dan saudaranya ingin menjual tanah itu, sehingga meminta Deden untuk menutup warungnya. Singkat cerita, Deden tidak terima.

Kemudian terjadi dinamika termasuk pelaporan Deden oleh ayahnya dengan tuduhan pencurian listrik PLN untuk warungnya. Deden pun menggugat ayah dan saudaranya, serta PLN dan BPN ke pengadilan.

Sementara itu, pakar hukum Universitas Trisakti, Asep Iwan Iriawan menjelaskan, kasus gugatan adalah hak keperdataan yang merupakan hak setiap orang untuk menggugat siapapun termasuk orang tua maupun saudara kandung.

Meski demikian, kasus keluarga seperti ini lebih baik bisa diselesaikan secara mediasi. Dalam perjalanan kasus ini, pengacara Deden yang merupakan adik kandungnya, yakni Masitoh meninggal dunia karena sakit jantung, pada Senin 18 Januari lalu.

Mengapa hal sedemikian rupa dapat terjadi?

Inilah hasil dari sekularisme, sebuah sistem yang menjadikan penganutnya jauh dari pemahaman agama. Sistem sekuler yang menjadi landasan demokrasi telah terbukti demi meraih keuntungan dan kepentingan individu atau kelompok mereka bebas berperilaku menghalalkan segala cara, dan menabrak rambu-rambu agama dan moralitas. Sekalipun itu berurusan dengan orang tua yang telah merawat dan membesarkannya.

Kasus di atas dapat dijadikan contoh atas kerusakan generasi saat ini, generasi yang menganut sistem kapitalisme. Lebih mementingkan urusan pribadi dan lebih mengutamakan asas manfaat, tanpa melihat halal dan haram. Keluarga di kesampingkan demi memuaskan kepentingan pribadinya. 

Kurangnya pemahaman agama atas setiap individu menjadi penyebab utama terjadinya kerusakan hubungan antara keluarga. Terlebih lagi faktor negara yang menjamin kebebasan untuk bertingkah laku dan melaporkan siapa saja yang dianggap mengganggu kepentingannya.

Tanpa orang tua, kita bukanlah siapa-siapa. Namun, ironisnya tak semua anak memahaminya, Latihan mencintai Tuhan ialah mencintai orang tua. 

Secara visual, kita telah merasakan dan akan terus merasakan betapa orang tua berjasa dalam hidup ini. Selain sangat tulus dan ikhlas, keduanya juga sangat konkret memberikan jasa itu kepada kita.

Sulit membayangkan ada cinta tulus kepada Allah Swt. tanpa ada cinta tulus kepada orang tua. 

Berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain) salah satu amal istimewa yang wajib dilakukan bagi setiap orang. 

Dalam Islam, warisan sudah diatur dengan jelas dan adil. Harta peninggalan yang diberikan kepada ahli waris atau keluarga ketika seseorang meninggal dunia disebut warisan. Hubungan ahli waris didasarkan pada hubungan darah, hubungan pernikahan, hubungan persaudaraan dan hubungan kerabat.

Warisan yang ditinggalkan bisa berupa harta bergerak dan harta tidak bergerak. Harta bergerak seperti perhiasan, kendaraan, tabungan, surat berharga, dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk harta tidak bergerak adalah tanah dan bangunan.

Namun, warisan tidak sebatas pada harta peninggalan semata karena bisa saja seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang yang belum sempat dibayarkan. Dalam hal ini, ahli waris turut bertanggung jawab menyelesaikan utang milik mendiang.

Pembagian warisan dalam Islam memiliki bidang ilmu tersendiri, yaitu ilmu faraidh. Ilmu faraidh adalah ilmu tentang pembagian harta warisan. Melalui kajian ilmu inilah pembagian warisan di dalam agama Islam dilakukan secara berhati-hati, cermat, dan dibagi seadil-adilnya berdasarkan petunjuk dari kitab suci Al-Qur'an.

Sedangkan dalam hukum waris Islam, sosok yang dipercaya untuk membagi warisan biasanya berasal dari kalangan yang memahami ilmu faraidh atau ilmu perhitungan pembagian warisan berdasarkan hukum Islam. Akan tetapi, perhitungan waris dalam Islam juga bisa meminta bantuan kepada tokoh agama yang memahami pembagian warisan dan mendapatkan kepercayaan dari seluruh ahli waris.

Hanya islam yang mampu memecahkan segala persoalan kehidupan manusia. Termasuk dalam permasalahan yang menerpa keluarga, aturan dari Sang Pencipta dan Rasul-Nya mampu mengentas masalah yang ada karena sesuai dengan fitrah juga akal manusia. Tentu aturan atau hukum Islam ini dapat tegak jika negara menerapkan aturan dari Sang Pencipta secara kafah. Sudah saatnya kita melihat ke depan, menjadikan generasi muda yang kuat akan iman dan takwa, birrulwalidain merupakan suatu kewajiban, dan menjadikan hukum syara di atas hukum lainnya.

Wallahu a'lam bishshawab.