Anak Anugerah Terindah



Oleh Nabila Zidane

(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)


Setiap kita ketemu dengan teman lama ada satu pertanyaan yang hampir tak pernah ketinggalan selalu di berikan kepada kita, "Anakmu berapa sekarang?." Kenapa tidak bertanya, "Rumahmu berapa?," atau "Mobilmu berapa?."


Hal tersebut menandakan bahwa anak adalah lebih segalanya dari harta apapun di dunia. Anak merupakan kebanggaan orang tuanya. Orang tua rela bekerja siang dan malam agar dapat menyekolahkan anak ke tempat yang terbaik. Terkadang tidak cukup bapak saja yang bekerja namun ibu juga terpaksa bekerja demi membantu ekonomi keluarga.


Pertanyaannya, apakah jika kita sudah mencari nafkah akan menggugurkan kewajiban mendidik anak? Mendidik anak adalah tugas guru disekolah saja atau tugas guru ngajinya?


Apakah mencari nafkah itu satu-satunya kewajiban? Segala peluh, letih, beratnya pekerjaan tidak boleh menjadi alasan orang tua ketika sampai rumah lalu "abai" dengan anak. Kenapa?


Karena anak adalah amanah dari Allah Swt. Anak bukan milik kita, maka kita harus siap dan ikhlas dan pasti akan datang juga peristiwa itu: perpisahan dengan anak.


Apakah karena mereka menikah, bekerja di luar pulau bahkan di luar negeri, mencari ilmu, mondok di pesantren, menjelajah kehidupan di segala penjuru bumi, atau mungkin kematian yang memisahkan.


Suatu saat pasti anak kita akan pergi dari rumah kita. Tugas kita hanya mempersiapkan mereka siap berpisah dengan kita. Berpisah untuk menjalani kehidupan, sebagai hamba Allah, sebagai suami ataupun istri, sebagai calon orangtua, sebagai anggota masyarakat, sebagai individu tersendiri.


Anak Wajib Dididik Dengan Syariat Islam


Tujuan mulia dari mempunyai anak menurut syariat Islam yaitu menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih, anak-anak yang hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan demikian mereka adalah juga anak-anak yang akan berbuat baik kepada kedua orang tuanya.


Anak merupakan anugerah terindah bahkan terbaik. karena anak yang shalih akan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.


”Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda, apabila manusia telah mati, maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara. Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak shalih yang mendoakannya”. 

(HR. Muslim)


Mumpung Allah masih memberikan kesempatan anak-anak di rumah kita, maka tidak boleh kesempatan ini disiakan. Setiap hari masih dapat bertemu anak tapi hanya di dekat anak. Pulang hanya membawa badan tanpa perhatian sedikitpun dengan segala permasalahan yang dihadapi anak seharian ketika di sekolah ataupun di rumah.


Jangan sampai ada diantara kita memiliki banyak binaan, memiliki banyak mad'u dakwah, mengkader banyak orang shalih, membina banyak orang, tetapi anak sendiri tidak dibina?


Renungkanlah


Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang ilmu yang barokah adalah yang mampu menjadikan seorang menghabiskan waktunya, tenaganya serta hartanya bahkan nyawanya dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah Swt.


Penghasilan barakah juga bukan gaji yang besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana harta itu dapat menjadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang dapat teringankan kesulitannya dengan penghasilan tersebut.


Anak-anak yang barakah bukanlah saat kecil mereka lucu, imut serta menggemaskan atau setelah dewasa mereka sukses bergelar serta  mempunyai pekerjaan bergengsi dan jabatan tinggi, akan tetapi anak yang barokah adalah mereka yang senantiasa taat kepada syariat Allah Swt dan kelak di antara mereka ada yang lebih saleh dan tak henti-hentinya mendo'akan serta memohonkan ampun untuk kedua orangtuanya.


Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda rasulullah saw. ”Sesungguhnya ada seseorang yang diangkat (ditinggikan) derajatnya di jannah (surga)”. Lalu ia bertanya (terheran-heran), ”Bagaimana aku bisa mendapat ini (yakni derajat yang tinggi di surga)?”. Dikatakan kepadanya, ”(Ini) disebabkan istighfar (permohonan ampun) dari anakmu (kepada Allah) untukmu”.


Oleh karena itu, anak bukanlah beban namun investasi dunia akhirat kita. Jika kita benar-benar membina mereka dan mendidik dengan Islam yang benar, maka di dunia mereka akan saling menolong dalam kebaikan. Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya serta merawat kita dengan baik di masa tua


Saat nyawa terlepas dari raga, maka doa merekalah akan menjadi amal yang bermanfaat ketika orang tuanya sudah tidak bisa lagi beramal (telah meninggal dunia).


Jika ditakdirkan anaknya meninggal ketika masih kecil (belum baligh), maka insyaAllah akan menjadi syafaat (penghalang masuknya seseorang ke dalam neraka) bagi orang tuanya di akhirat kelak.

Wallahu a'lam