Oleh Purnama Sari

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Baru-baru ini ada salah satu yang diklaim sebagai program pengembangan syariat untuk mendukung percepatan pembangunan sosial. Pemerintah Indonesia meluncurkannya dengan sebutan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU). 


Badan Wakaf Indonesia (BWI) telah menunjuk sejumlah lembaga keuangan syariah untuk memudahkan masyarakat menyetorkan dana wakaf uang. Menurut BWI, wakaf uang juga bisa diinvestasikan melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk untuk membiayai program sosial dan pemberdayaan ekonomi. Maka sesungguhnya aliran wakaf uang ini bukan mengarah pada kas negara.


Rupanya gerakan wakaf uang tersebut menuai pro kontra. Masyarakat banyak yang menolaknya. Apalagi pada saat terjadi penyalahgunaan uang Bansos. Dimana hal itu membuat keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat meningkat terhadap sikap amanah penguasa.


Mengingat bahwa selama ini penguasa kerap memojokkan ajaran Islam. Apalagi jika berkaitan dengan syariat yang mengatur wilayah publik dan negara.


Sering terjadi juga perlakuan yang tidak adil bahkan kriminalisasi diberlakukan terhadap ulama dan aktivis Islam yang dipandang tidak sepaham dengan penguasa.


Hukum Wakaf Uang


Adapun terkait wakaf tunai adalah wakaf dalam bentuk uang. Hal ini sebagai upaya menjadikan uang wakaf sebagai akad kerja sama dimana tidak ada modal dari pengelola. Dalam pengertian singkatnya bahwa akad mudharabah yaitu suatu akad kerja sama dimana tidak ada modal dari pengelola, karena modal uang 100% berasal dari pemilik modal. Contoh bahwa dalam kehidupan sehari-hari adalah pola kerja sama usaha menggunakan sistem bagi hasil secara syariat yang keuntungannya disalurkan sebagai wakaf.


Pada tanggal 11 Mei 2002 MUI Pusat telah memfatwakan kebolehannya di Indonesia untuk menjalankan aktivitas wakaf tunai dimana telah mendapat legalitas berdasarkan UU No 41/2004 tentang Wakaf.


Sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih mengenai hukum wakaf tunai.


Pertama, yang mengatakan wakaf tunai tidak sah. 


Kedua, yang membolehkan wakaf tunai. 


Sesungguhnya dengan uang sebagai barang wakaf itu adalah sumber perbedaan pendapat di atas, apakah bendanya tetap ada atau akan hilang.


Alasan pendapat yang tidak membolehkan, yaitu karena wakaf tersebut akan menahan harta pokok dan memanfaatkan buahnya.


Akan halnya yang berpendapat membolehkan bahwa sebenarnya uang yang diwakafkan tidak hilang, karena ada penggantinya yang sudah disediakan yaitu uang yang senilai.


Tak Patut Mengambil Sebagian, Meninggalkan Sebagian Lainnya


Sesungguhnya yang menjadi masalah bukan pada perbedaan pendapatnya, namun lebih pada ketidakkonsistenan pemerintah dalam mengambil aturan syariat. Sampai saat ini, bahwa pemerintah terkesan ramah terhadap sebagian hukum Islam dan mewaspadai hukum Islam yang lain. Dan hal itu makin terasa kuat. Peran negara yang lebih condong menerima syariat Islam yang bersifat pribadi dan keluarga, juga yang memiliki nilai finansial tertentu (semisal zakat, haji dan wakaf), sementara meninggalkan syariat lain yang bersifat politik kemasyarakatan.

 

Lebih jauh bahwa yang terjadi justru kebalikannya. Sesuai fakta yang terjadi saat ini, umat Islam yang ingin menerapkan syariat Islam secara Kaffah malah dianggap intoleran dan radikal. Bahkan terlihat lebih memusuhi syariat Islam lainnya dalam bidang sosial, politik, hukum dan pemerintahan. Semua hal itu disebabkan prinsip kapitalisme sekuler dianut di negeri ini.


Padahal apabila syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, sudah pasti akan membawa kebaikan. Karena Islam adalah din (agama) yang sempurna dan solusi atas semua permasalahan kehidupan.


Hidup akan tetap mengalami kesempitan, apabila syariat ditinggalkan walau hanya sebagian. Buktinya adalah munculnya defisit anggaran negara, utang negara semakin tinggi bahkan mencapai lebih dari ribuan triliun, kekayaan milik publik dikuasai oleh pemilik modal dan korupsi menjamur di mana-mana. Negara yang tidak dikelola berdasarkan syariat Islam akan mengakibatkan merebaknya kesempitan dan sirnanya keberkahan hidup. Semua itu baru sebagian kecil saja. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya pada Al-Qur'an surat Thaha [20] ayat 124.


Jangan Munafik


Sungguh kita selaku muslim itu tidak boleh memilih-milih mana hukum yang kita ambil hanya sesuai dengan yang kita sukai layaknya seperti orang yang sedang makan di prasmanan. Hal tersebut merupakan perbuatan yang biasa dikerjakan oleh orang-orang munafik Bani Israil. Dan tentunya dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam.


Salah satu ciri orang munafik adalah mereka yang menempuh berbagai upaya untuk menghancurkan aktivitas penegakan syariat dan hukum Allah Swt. Demi mempertahankan keberadaan hukum yang dibuat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat an-Nisa’ [4] ayat 61.


Agar kita tidak tergolong ke dalam barisan kaum munafik, maka tentu kita wajib mengamalkan seluruh syariat Islam.


Wakaf dan Peradaban


Pada saat era kekhilafahan dulu, dimana negara dikelola oleh orang-orang yang amanah, wakaf telah memberikan sumbangan luar biasa pada pembangunan peradaban umat manusia. Tentunya itu karena ada dalam sistem yang baik.


Wakaf sebagaimana zakat, adalah terkategori ibadah. Bukan semata-mata instrumen ekonomi dan pembangunan. Tetapi, kebaikannya sudah ikut andil dalam membangun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.


Tercatat dalam sejarah, bagaimana sumber air (sumur), pasar, rumah sakit, hingga sekolah-universitas dibangun dengan skema wakaf oleh umat Islam. Kebaikannya lestari hingga kini.


Wakaf Nabi saw., keluarga beliau (ahlul bait) dan kaum Muhajirin terkenal luas di Madinah dan Makkah.  Lebih dari delapan puluh sahabat dari kalangan Anshar juga mewakafkan sebagian besar hartanya. Harta wakaf mereka masih ada hingga sekarang.


Tradisi berwakaf ini terus dipelihara oleh setiap generasi muslim pasca sahabat (tabi’in), pasca tabi’in (tabi’ at-tabi’in) dan era setelah mereka sepanjang sejarah kekhilafahan Islam. 


Salah satu wakaf terbesar dan terkenal, khususnya di bidang pendidikan, adalah pusat pendidikan Islam yakni Universitas Al-Azhar di Mesir. Lembaga yang didirikan pada tahun 970 M itu telah memberikan pendidikan gratis kepada pelajar dan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Universitas ini eksis hingga sekarang dan telah melahirkan ribuan bahkan ratusan ribu ulama terkemuka di seluruh dunia hingga saat ini.


Syariat Islam adalah Solusi


Kita harus yakin bahwa hanya dengan syariat Islamlah yang akan menjadi solusi semuanya. Bukan hanya zakat wakaf saja dan bukan juga hanya sebatas masalah ekonomi, tetapi juga atas semua masalah kehidupan.


Pembelajaran dengan adanya kasus wakaf ini bahwa sudah semestinya kita lebih taat lagi kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya dengan kita mengamalkan semua syariat-Nya. Hal ini juga seharusnya menyadarkan kita akan urgensi adanya sistem yang bisa menerapkan syariat secara kaffah menyeluruh. Itulah Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah sebagaimana yang dicontohan oleh Baginda Rasulullah saw. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

 
Top