Oleh Reka

(Pendidik Generasi dan Aktivis Dakwah)


Menghangat pembahasan tentang penggunaan Dinar dan Dirham, dikarenakan penggunaan dinar dan dirham oleh sebagian masyarakat, diperkarakan hukum. Pekan ini, Bareskrim Mabes Polri resmi menahan Zaim Saidi, pendiri Pasar Muamalah di Depok, Jawa Barat. Zaim menjadi tersangka setelah pemberitaan terkait koin dinar dan dirham menjadi alat transaksi pembayaran di pasar tersebut viral. (CNN Indonesia)

Namun, ada pihak juga yang meragukan tindakan pemerintah yang terkesan sebagai tindakan kriminalisasi transaksi dinar dirham yang merupakan dari Islam. Salah satunya adalah ungkapan tokoh, PP Muhammadiyah mempertanyakan proses hukum terhadap aktivitas Pasar Muamalah yang menggunakan dinar dan dirham dalam bertransaksi. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas, membandingkanya dengan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar, dalam transaksi wisatawan asing di Bali.

Tapi KH Anwar Abbas menilai, transaksi di Pasar Muamalah Depok, tidak menggunakan mata uang asing. Dinar dan dirham yang digunakan, menurutnya bukan mata uang resmi negara asing, melainkan koin dari emas dan perak yang dibeli dari PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) atau dari pihak lainnya.

Menurutnya aspek hukum persoalan ini dia tidak memahami. Tapi yang pasti Ketua PP Muhammadiyah itu penggunaan dinar dan dirham di Pasar Muamalah tidak masuk ke dalam kategori mempergunakan mata uang asing.

Seperti yang kita ketahui transaksi menggunakan dinar dan dirham erat kaitannya dengan kejayaan Islam dulu. Sebelum sistem kapitalisme saat ini menguasai dunia, Islam lebih dulu menjadi negara adidaya, berawal dari masa Rasulullah sebagai kepala negara sampai runtuhnya kekhilafahan di Turki, yakni Khilafah Utsmaniyah. Dinar dan dirham sudah menjadi alat tukar atau alat transaksi dari zaman Rasulullah sampai kekhilafahan terakhir, maka ketika kita dengar kalimat "transaksi menggunakan dinar dan dirham," pada saat yang sama terbayang juga di dalamnya ada kehidupan Islam yang sangat kental, walaupun misalnya hanya dalam wilayah kecil yakni Pasar Muamalah. Dinar dan dirham adalah Islam, dinar dan dirham adalah kejayaan Islam, dinar dan dirham adalah milik kaum muslim atau orang-orang yang berada di bawah naungan sistem Islam seperti dulu, kurang lebih begitulah gambaran umum mengenai penggunaan dinar dan dirham.

Tindakan aparatur hukum yang memperkarakan pendiri pasar muamalah merupakan suatu tindakan yang terindikasi adanya kriminalisasi terhadap sesuatu yang "berbau" Islam seperti dinar dan dirham, bahkan bisa terindikasi adanya penggiringan fobia terhadap Islam. Padahal pemerintah sama sekali tidak diragukan dari adanya transaksi dinar dan dirham. Walaupun suatu saat nanti dinar dan dirham menjadi mata uang dunia, maka pada saat itu pula negara yang mengemban mata uang dari Islam akan terhindar dari inflasi, sampai saat ini mata uang yang aman terhadap inflasi adalah dinar dan dirham.

Islam adalah rahmatan lil 'alamin tetapi saat ini hukum dan pemerintahan terkesan selalu sensitif terhadap apa pun yang datangnya dari Islam, ini tergambar dari apa yang dilakukan pemerintah yang mengemban sistem kapitalisme saat ini. Maka Islam akan menjadi rahmat ketika Islam disokong dan didukung oleh sistem pemerintahan, seperti pada zaman dahulu, Islam menjadi negara adidaya yang memberikan rahmat kepada seluruh alam ketika sistem Islam diterapkan dalam bingkai khilafah. Wallahu a’lam bishshawab.[]

 
Top