Oleh: Sri Rahayu


Hidup ini penuh cobaan, tentu akan terasa berat jika tak memiliki pondasi kuat. Seperti bangunan harus punya pondasi kuat agar tetap kokoh tak mudah goyah. Pun tanaman ketika memiliki akar kuat, tentu tak mudah tumbang manakala angin atau badai menerjang. 


Begitulah keimanan bagi seorang muslim harus kokoh agar tetap tegak menjadi muslim yang kuat. Kuat aqidahnya, berakhlak mulia, tunduk dan taat padaNya.


Agar keimanan tetap kokoh menghunjam, maka seorang muslim harus senantiasa memperbarui keimanan. Apa saja kiat kita untuk terus memperbarui iman, agar keimanan kita produktif berbuah amal? 


Terlebih di alam kapitalisme liberalisme sekarang, tentu kita harus lebih memperhatikan perkara ini. Agar kehidupan kita baik di dunia yang fana ini dan juga di akhirat yang kekal senantiasa berada dalam kebaikan, selamat dan bahagia dalam ridhoNya. Berikut kiat-kiat memperbarui iman :


1. Terus menuntut ilmu memperdalam Islam. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Syakhsiyah Islam jilid satu menjelaskan harus berilmu sebelum taqwa. Karena timbulnya taqwa setelah mendapatkan Ilmu. Ini merupakan urutan secara akal, mengharuskan adanya ilmu lebih dulu, baru amal. Jadi ilmu harus didahulukan sebelum amal.


Sebagaimana hadits yang retak kepalanya, Rasulullah Saw bersabda, "Tidakkah mereka bertanya apabila tidak mengetahui. Sesungguhnya obat kebodohan itu hanyalah bertanya."


Bahkan saking pentingnya ilmu itu untuk disebarluaskan, Rasulullah Saw melarang menyembunyikan ilmu, "Barangsiapa menyembunyikan ilmu yang diketahuinya maka ia akan dipasangkan kendali (belenggu) pada hari kiamat dengan belenggu dari api neraka."


2. Bertaqarub (mendekatkan diri pada Allah) dengan amalan nawafil (tambahan) : ibadah shalat, puasa membaca, mentadaburi Al Quran. Merenungkan kandungan isinya dan dikaitkan dengan realitas hidup kita dan bagaimana Islam mengatur perkara hidup kita. 


3. Mengenal para sahabat lebih dekat, agar energi taat sahabat menjalar pada kita. Kisah para sahabat akan memberi gambaran dan inspirasi manusia mulia dengan Islam. Tentu kita akan menempa diri untuk layak menjadi pembela Islam sebagaimana para sahabat.


4. Mengenal tokoh-tokoh pembela Islam yang senantiasa istikamah dalam  dakwah dan perjuangan Islam di berbagai jaman. Terlebih di jaman penuh fitnah hari ini.


5. Mendatangi orang-orang shaleh. Apa yang kita dapatkan ketika bertemu orang shalih? Tentu nasehat berharga dan ilmu yang bermanfaat sebagai sebaik-baik bekal kita. Orang yang mencurahkan hidupnya untuk Islam, akan menularkan energi taat pada kita. Berbahagialah orang-orang yang selalu mengunjungi ulama. 


6. Ziarah kubur. Mengunjungi orang yang sudah meninggal akan menjadi nasihat terbaik untuk kita. Bahkan ketika seorang sahabiyah mendatangi ummul mukminin Aisyah radhiallahu anha meminta nasehat agar hatinya tidak keras, maka Ibunda Aisyah menasehati agar sering mengingat mati.


Berita Kematian baik orang yang kita kenal atau tidak sangat cukup menjadi pengingat. Bahwa ajal kita sangat dekat. Kita tak tahu kapan ajal menjemput, esok, lusa, atau nanti,. Yang jelas sesuatu yang pasti itu dekat.


7. Mengingat hari-hari kemengangan Islam. Kejayaan dan kemenangan Islam akan membangkitkan ghirah perjuangan di jalan Allah. Misalnya kemenangan kaum muslimin pada Perang Badar, telah mengalirkan ruh perjuangan Islam. Saat itu Allah menurunkan ribuan tentaraNya untuk menolong pasukan kaum muslimin yang hanya berjumlah 300 orang. Sedangkan pasukan kafir Quraisy 1000 orang. Doa sangat penuh harap dari Rasulullah Saw untuk menurunkan pertolonganNya. Mengingat ini pertempuran pertama setelah hijrahnya Rasulullah Saw dan membangun daulah Islam di Madinah.Rasulullah Saw kala itu mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke langit, dengan doa yang panjang, hingga sorban beliau jatuh. Hingga Sayidina Abu Bakar ra menghampiri Rasulullah Saw.


Demikianlah tujuh kiat untuk memperbarui iman, agar di tengah belantara dunia yang fana ini kita tak lupa. Pengembaraan kita disini hanya sementara. Harta, jabatan, kekuasaan, anak, keluarga semuanya hanyalah pinjaman sekaligus ujian. Akankah kita tetap taat saat rizki melimpah ruah atau sebaliknya saat kehidupan sempit? Semoga ulasan singkat ini bermanfaat agar kita senantiasa memperbarui iman kita. Wallahu a'lam bishawab.[]

 
Top