Oleh: Yulia Putbuha, S.Pd.I (Pemerhati Kebijakan Publik)


Tepatnya bulan ini Rajab 1442 H, seratus tahun sudah dunia tanpa khilafah. Seratus tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Berbagai problematika telah terjadi selama seratus tahun ini. Diskriminasi, tuduhan keji, pelecehan dan penyiksaan terjadi diberbagai negeri-negeri muslim.


Diskriminasi dan tuduhan-tuduhan keji pada pengemban dakwah Islam, nyata-nyata terjadi. Seperti halnya yang terjadi baru-baru ini di Arab Saudi pada seorang perempuan. Aparat Keamanan Arab Saudi menahan ustazah ternama, Aisha Al-Muhajiri, karena terus berdakwah dan mengajar Alquran di rumahnya di Mekkah. (Tempo.com,16/02)


Begitu pula dengan pelecehan dan penyiksaan kerap terjadi terhadap perempuan-perempuan di palestina dan negeri-negeri muslim yang terjajah lainnya.  namun umat tak mampu berbuat apa-apa.


Perempuan adalah makhluk yang lemah, yang butuh perlindungan dan negaralah yang seharusnya menjadi pelindung bagi perempuan. Namun, kenyataanya di negeri-negeri muslim sekalipun tidak ada yang memposisikan perempuan sebagai makhluk yang istimewa dan terhormat. Bahkan, banyak perempuan yang terdzolimi.


Banyaknya kedzoliman yang terjadi di berbagai negeri muslim tersebab tidak adanya prisai yang mampu melindungi umat. Keberadaan khilafah adalah prisai yang mampu melindungi umat dari berbagai serangan musuh-musuh Islam. Tanpa adanya prisai, umat tidak memiliki kekuatan. Umat lemah dan tidak berdaya. Khususnya bagi kaum perempuan, tidak ada penjaga kehormatan bagi kaum perempuan.


Tidak hanya itu, bahkan nyawapun seolah tidak berharga. Di Indonesia saja, banyak para ulama dan pengemban dakwah Islam yang dipenjarakan dikarenakan lantang dalam dakwah Islam dan berujung pada hilangnya nyawa tanpa alasan.


Sungguh, umat membutuhkan prisai sebagai pelindung dari perbuatan keji orang-orang pembenci Islam. Umat butuh khilafah yang bisa mempersatukan umat tanpa mengenal suku dan bangsa, namun mampu mempersatukan umat dalam satu ikatan yang kuat yakni ikatan akidah.


Keruntuhan Khilafah


Khilafah dulu pernah ada, keberadaannya sangat terasa oleh seluruh kaum muslimin. Namun, tepatnya 28 Rajab 1342 H khilafah diruntuhkan oleh seorang keturunan Yahudi yakni Mustafa Kemal Ataturk.


Khalifah yang saat itu diduduki oleh Abdul Hamid II, diusir secara tidak beradab oleh orang-orang munafiqun. Mereka menggantikan kekhilafahan dengan sistem demokrasi sekuler. Sebuah sistem yang mengagungkan akal manusia sebagai pencipta aturan.


Sejak saat itu umat dijauhkan dari hukum-hukum Islam, hukum Islam dianggap tabu, hukum Islam di jauhi dan dianggap tidak mampu memberikan solusi. Islam hanya dijadikan sebagai agama ritual saja dan tidak dilibatkan dalam urusan publik. Mereka telah berhasil memecah belah umat, mereka telah sukses menjajah pemikiran-pemikiran umat.


100 tahun sudah umat tanpa khilafah, kondisi umat saat ini kian terpuruk. Permasalahan demi permasalahan menimpa umat tanpa ada solusi, karena umat saat ini diatur oleh aturan yang memisahkan antara agama dengan kehidupan yaitu sistem sekuler.


Urgensi Penerapan Khilafah


Penerapan khilafah merupakan suatu kebutuhan umat. Selain itu Khilafah juga merupakan bisyarah yang sudah dijanjikan oleh Allah. Seperti yang ada dalam sebuah hadis. Dari Hudzaifah r.a., ia berkata:


Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:


“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.”  (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))


Kembalinya khilafah sudah terlihat indikasinya. Menilik pada bisyarah tentang keberadaan kekuasaan yang diktaktor yang menyengsarakan, sangat tepat jika disamakan dengan kondisi umat saat ini. itu artinya umat tinggal satu langkah lagi menjemput bisyarah tersebut yaitu tegaknya khilafah ala minhajin nubuwah.


Dengan tegaknya khilafah maka diskriminasi, tuduhan-tuduhan keji, pelecehan dan penyiksaan terhadap umat dan khususnya terhadap kaum perempuan tidak akan terjadi lagi, karena khilafah yang nanti akan menjadi prisai bagi umat.


Umat Islam akan menjadi satu kesatuan yang kokoh dan kuat. Seperti halnya dahulu ketika kaum muslim dipimpin oleh Rasulullah, kemudian digantikan oleh Khulafaurrasydin, Umayyah, Abbasyiah dan terakhir Utsmaniyah. Umat Islam harus yakin akan tegaknya kembali khilafah karena itu merupakan bisyarah dan perlu diingat bahwa 100 tahun yang lalu khilafah pernah ada.

Wallahu A'lam Bishshowab

 
Top