100 Tahun Sudah Umat Tanpa Khilafah


Oleh Nelliya Azzahra


Tepat 1442H genap 100 tahun umat tanpa khilafah. Khilafah sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin.

Ketiadaan khilafah sampai hari ini membawa duka mendalam bagi umat muslim. Seperti tubuh tanpa kepala, umat tidak tahu arah. Mereka banyak, akan tetapi tersekat-sekat dan tercerai berai.

Bukan hanya itu saja. Hari ini nestapa yang menimpa umat sejak runtuhnya khilafah tidak berujung. Konflik di Suriah sejak puluhan tahun lalu entah kapan usai.

Dalam berita perang Suriah terkini, dilaporkan lebih dari 465.000 warga Suriah telah terbunuh dalam pertempuran itu, lebih dari satu juta orang terluka, dan lebih dari 12 juta—setengah populasi Suriah sebelum perang melanda negara itu—telah mengungsi. (Matamatapolitik, 16/11/2020)

Selain itu, Rohingya dengan penderitaannya sebagai warga yang terbuang dari negara sendiri. Puluhan tahun hidup terlunta-lunta hanya sekadar mencari tempat berteduh. Dan, tak jauh berbeda dengan kondisi muslim uighur di Cina. Tidak berhenti sampai di sini, nestapa itu terus berlanjut dan kaum muslimin di penjuru dunia merasakannya.

Hari ini nyawa tidak ada lagi harganya. Mudah sekali nyawa melayang dengan alasan sepele. Padahal Islam sangat menjaga nyawa seorang muslim.

"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani)

Hari ini pula kehormatan muslimah tidak lagi terjaga. Pelecehan seksual yang dialami muslimah seakan menjadi hal biasa. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Banyumas, HM, gadis 16 tahun asal Banyumas menjadi korban pelecehan seksual alias pencabulan ayah tirinya, Waris Supriyanto (35). Waris memaksa HM berhubungan intim dengan ancaman akan menyebar video saat HM mandi dan sebuah foto bugilnya. Liputan6.com. Kamis (28/1/2021).

Tidak sampai di sini saja, saat ini kaum muslim sukses di adu domba. Sesama muslim saling menyerang dan membenci. Hidup dalam sistem demokrasi yang sudah jelas gagal meriayah menambah daftar panjang derita umat.

Bila sudah seperti ini, kemana lagi umat akan mengadu. Sungguh, kehadiran khilafah di tengah-tengah umat sangat dinanti. Bukan hanya dirindukan, akan tetapi sangat dibutuhkan.

Umat Islam memahami kebutuhan dan kepentingan khilafah ini. Hal ini dirasakan saat kewafatan Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam). Di dalam Islam hal ini begitu terangnya, bagaikan siang dengan malam, dan merupakan bagian dari ajaran Islam, bahwa tanpa persatuan dan kekompakan kalian tidak akan dapat menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan benar. Ketika anda pergi ke masjid untuk melakukan salat lima waktu, maka diperlukan imam. Berdiri di belakang imam adalah wujud persatuan dalam masyarakat. Itulah mengapa Al-Qur'an secara khusus menekankan pentingnya salat berjemaah.

Ketiadaan kepemimpinan Islam (Imamah) melemahkan kehidupan umat Islam (secara general), dan menciptakan banyak celah untuk munculnya perpecahan di dunia Islam.

Kembalinya khilafah akan menjadi junah bagi umat. Bila bukan khilafah yang melindungi umat ini, maka siapa lagi yang dapat melakukannya.

"Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna, al-Imâm Junnat[un] [Imam/Khalifah itu laksana perisai] dijelaskan oleh Imam an-Nawawi:

Maksudnya, ibarat tameng. Karena dia mencegah musuh menyerang (menyakiti) kaum muslim. Mencegah masyarakat, satu dengan yang lain dari serangan. Melindungi keutuhan Islam, dia disegani masyarakat, dan mereka pun takut terhadap kekuatannya.

Begitu juga frasa berikutnya, “Yuqâtalu min warâ’ihi, wa yuttaqâ bihi” (Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng).

Mengapa hanya Imam/Khalîfah yang disebut sebagai Junnah (perisai)? Karena dialah satu-satunya yang bertanggung jawab sebagai perisai, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:

"Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a'lam bishshawab.