Wafatnya Ulama, Bencana Bagi Umat Islam

 


Oleh : Ummu Najla

(Komunitas Ibu Peduli Generasi ) 

Miris, di awal tahun Indonesia kini dikepung musibah dan bencana dari segala sisi. Setidaknya, tercatat oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) ada 136 bencana yang terjadi di awal tahun ini sejak 1-16 Januari 2021. Dari sekian banyak bencana alam itu, sudah merenggut 80 korban jiwa dan 858 orang luka-luka. Bencana alam terbanyak yang terjadi adalah banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 kejadian, gempa bumi 2 kejadian dan gelombang pasang 2 kejadian. Akibatnya, sebanyak 405.584 orang terdampak dan mengungsi. Gunung semeru pun memuntahkan awan panas Sabtu (16/1/2021), walaupun belum tercatat ada korban jiwa.

Di sisi lain, Umat Islam kini dirundung kesedihan. Pasalnya banyak ulama yang wafat di awal tahun baru ini. Tercatat lebih dari 15 ulama yang wafat di waktu yang hampir berurutan. Berikut Daftar Ulama Wafat di bulan Januari 2021: Habib Ja'far bin Muhammad Al Kaff Kudus (1 Januari 2021), KH R Muhaimin Asnawi – PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021), KH R Abdullah Nachrowi – PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021), KH R Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir – PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021), Drs M Sai M.HI – PP Nurul Yakin Malaka (5 Januari 2021), KH Muhammad Fatih Naim - Ulama asal Cipete (5 Januari 2021), KH Muhammad Nuruddin A Rahman – PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021), Habib Abubakar bin Salim Al Hamid Bondowoso (9 Januari 2021), KH Zainuddin Badrus – PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021), KH A Yasin Asmuni – PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021), Drs H Ibnu Hazen – LTMNU (12 Januari 2021), Habib Thohir Bin Husain Pimpinan Majelis Raudhatul Mustofa Semarang (13 Januari 2021), Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (14 Januari 2021), Sayyidil Walid Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf - Pengasuh Majelis Ta'lim Al-Afaf Tebet Jakarta (15 Januari 2021), KH Mahmudi Zukry – Pengasuh Pesantren Darul Muttaqien Batu (17 Januari 2021). Dan masih banyak daftar ulama wafat lainnya yang tidak bisa disebutkan semua dalam tulisan yang terbatas ini.

Ulama Wafat, Sekulerisme Berkibar

Musibah dan bencana dahsyat yang bertubi-tubi menimpa Ibu pertiwi kini, menyisakan duka yang mendalam. Tak hanya kerugian material, korban luka dan nyawapun ikut melayang. Namun ada bencana yang lebih dahsyat dari bencana tersebut yaitu dengan wafatnya banyak ulama. Pasalnya, Ulama adalah pewaris Nabi saw yang akan meneruskan risalah dakwah Islam. Ulama adalah telaga ilmu yang menjadi pelita dalam kegelapan.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68).

Jelas keberadaan ulama sangat penting bagi kaum Muslimin. Ulama adalah kader-kader pilihan yang ditempa dari hasil pembinaan yang tidak instan. Butuh perjuangan dan pengorbanan ekstra keras untuk menuntut ilmu demi mengantarkan pada derajat kealiman. Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577)

Ulama bahkan bisa membawa berkah dan barakah bagi umat manusia. Ulama yang akan menyelamatkan umat dari kesesatan di kala nafsu dan syahwat di agung-agungkan dan syariat ditinggalkan. Hal tersebut senada dengan sabda Rasulullah Saw berikut:

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Naasnya, wafatnya para ulama adalah sebuah pertanda bahwa Allah hendak mengangkat ilmu dari bumi ini. Ketika ilmu dan kebenaran sudah diangkat dari bumi, niscaya orang-orang dzalim akan berkuasa di muka bumi. Mereka akan memimpin dengan semena-mena tanpa takut dosa dan neraka. Wajar, karena agama akan dicampakkan. Sementara hawa nafsu dan syahwatlah yang akan berkuasa. Sekulerisme akan semakin subur tumbuh merebak bak jamur yang berkecambah di musim hujan.

Terbukti, kini banyak ulama dikriminalisasi. Organisasinya dikebiri. Dananya dibekukan dan pesantrenya tak boleh beroperasi. Pengikutnya dibunuh dengan keji dengan segala dalih. Pelakunya bahkan tak tersentuh jeruji. Atas nama hak asasi basi yang bisa dibeli dengan teror dan intimidasi. Keadilanpun seakan mati. Lenyap dari bumi pertiwi. Demi sebuah ambisi kekuasaan yang tak terkendali.

Rasulullah Saw mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)

Sistem Islam Pencetak Ulama

Ironisnya, sistem Kapitalis seperti saat ini, tak akan pernah sukses mengantarkan umat Islam menjadi generasi pencetak ulama. Jelas, karena sistem yang sekuler ini hanya mampu melahirkan generasi micin yang instan, hedonis dan pragmatis. Akhlak dan moral bisa dibuang jauh-jauh demi mengejar materi dan kekuasaan. Walaupun, kurikulum sekolah saat ini menekankan pembentukan budi pekerti. Nyatanya, tak ada sedikitpun urgensi karena ilmu hanya bersifat teoriritis minim implementasi. Sementara akidah Islam dicampakkan dalam kehidupan, karena dianggap rana agama tak mampu menyentuh tatanan dunia. Alhasil, mereka berduyun-duyun membuat undang-undang dan aturan yang nota bene syarat kepentingan dan ambisi politik semata. Sementara aturan dari Allah dicampakkan begitu saja.

Praktis, sistem Islam berbeda dengan Kapitalis. Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan aqidah Islam. Strategi pendidikan dirancang untuk membentuk pola pikir (aqliyah) dan pola jiwa (nafsiyah) Islami. Tujuan pendidikan berbasic kepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyyah), namun Iptek dan sains tak ditinggalkan. Negara pun turut mengfasilitasi segala sarana dan prasarana yang menunjang pendidikan, seperti perpustakaan, labolatorium, dan sarana ilmu pengetahuan lainnya. Penelitian dan penemuan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan didukung dan dibiayai Negara. Alhasil, lahirlah para ulama polymath yang mahir di segala bidang seperti ushul fiqh, fiqh, hadits, dan tafsir, termasuk juga dibidang pemikiran, kedokteran, teknik, kimia, serta penemuan, inovasi, dan lain-lain.

Tak ayal, sejarah telah mencatat gemilangnya para ulama dan ilmuwan hebat di berbagai bidang. Beberapa diantaranya seperti, Ibnu Sina (kedokteran modern), Az zahrawi (ilmu bedah modern), Al khawarizmi/ Al Jabar (ahli matematika), Abbas ibnu Firnas (penemu pesawat terbang), Ibn Al Haytam (Penemu ilmu optik), Jabir Ibn Hayyan (ahli kimia), Ahmad Ibnu Tulun (perawat modern), Al Battani (astronom), Ibnu Kaldun (pendiri ilmu historiografi, sosiologi, ekonomi), Al Jazari (ilmu mekanik) .Begitu juga para Imam Madzhab yang terkenal seperti Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hambali dan Imam Ahmad.

Terbukti hanya sistem Islamnya yang mampu berjaya di segala bidang dan mencetak para Ulama hebat. Maka sudah saatnya kita kembali pada sistem buatan Allah SWT yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akherat. dan mencampakkan sistem buatan manusia yang menyesatkan dan membahayakan umat. Wallahu alam bishowab