Oleh : Rohmah, SE.Sy

 

Kabar duka hampir setiap hari mewarnai negeri Indonesia yang kita cintai, bencana dan musibah di awal tahun yang bertubi-tubi telah menambah derita di masa pandemi. Setidaknya, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 1-16 Januari 2021, telah terjadi 136 bencana alam di Indonesia.

Bencana alam yang terjadi didominasi banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor (25), puting beliung (12), gempa bumi (2), dan gelombang pasang (2). Ratusan bencana alam itu mengakibatkan 80 korban jiwa, 858 orang luka-luka, dan 405.584 orang terdampak dan mengungsi. (tirto.id 18/1/2021)

Bencana di atas belum termasuk musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di Perairan Kepulauan Seribu pada (9/1/2021) lalu. Pesawat tersebut mengangkut 62 orang yang terdiri dari 12 awak kabin dan 50 penumpang.

Pada hari yang sama, bencana tanah longsor terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jabar saat hujan deras meliputi desa tersebut. Sebanyak 32 korban jiwa dan 8 orang masih belum ditemukan.

Tak berselang lama, bencana banjir melanda hampir seluruh wilayah di Kalimantan Selatan akibat tingginya intensitas hujan. Banjir ini menyebabkan ribuan rumah terendam, puluhan ribu jiwa terdampak dan jalan/akses transportasi tertutup.

Bencana banjir pun terjadi di provinsi Sumatra Selatan dan Maluku Utara, juga kabupaten Cirebon Jawa Barat. Banjir dan longsor Manado Sulawesi Utara pada (16/1/2021) pun melengkapi permasalahan curah hujan yang tinggi.

Pada 14/1/2021, bencana gempa bumi mengguncang kawasan Majene, Mamuju Sulawesi Barat dengan magnitude 5,9 dan gempa susulan pada 15/1/2021 dengan 6,2 magnitudo. Sampai saat ini menurut PNPB terdata 81 korban jiwa, 1.150 unit rumah rusak, dan 15 unit sekolah terdampak.

Keesokan harinya (16/1/2021), gunung pun seolah tak ingin tertinggal. Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang Jawa Timur meletus. Warga yang bermukim di sekitar diimbau untuk waspada karena intensitas banjir yang tinggi akan memicu terjadinya banjir lahar dingin. Dan erupsi gunung Sinabung Sumatra Utara pada 17/1/2021 menambah deretan bencana. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Apa sebenarnya yang membuat musibah ini datang Bertubi-tubi? Setidaknya ada 7 hal:

1). Disebabkan banyaknya maksiat yang dilakukan oleh manusia seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Yasin ayat 19.

2). Banyaknya orang zalim seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah al-Qashas ayat 59.

3). Kelakuan tangan-tangan manusia seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah ar-Rum ayat 41.

4). Para tokoh/para pemimpin/ulama melakukan kemaksiatan,seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah al-Isra ayat 16.

5). Orang Saleh dan orang baik diam ketika melakukan kemaksiatan atau kemungkaran seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah al-Anfal ayat 25.

6). Rahmat Allah seperti dalam Al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 155-157.

7). Allah Maha Adil seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Hud ayat 15-16.

Sungguh awal tahun yang memilukan. Melihat Indonesia yang terus menerus mendapatkan musibah dari Allah rasanya sedih dan tidak percaya. Tapi seperti inilah jika Allah memberikan musibah bagi manusia yang tidak mau taat kepada Allah.

Mengapa bencana terus menerus terjadi? Bagaimanakah peran negara dalam mengatasi bencana dan musibah? Bagaimana sikap kaum muslim terhadap bencana yang melanda ini

Bencana adalah Ketetapan-Nya

Pertama, yang harus dipahami seorang muslim bahwa bencana adalah ketetapan Allah Swt. yang harus disikapi dengan sabar dan rida terhadap segala kehendak-Nya. Maka, bagi para korban, bila ia bersabar, musibah tersebut akan menjadi penghapus dosa baginya.

“Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapus (dosa orang itu) dengannya, bahkan duri yang menyakitinya sekalipun.” (HR. Al-Bukhari)

Jika kita perhatikan di balik itu semua, ternyata ada hal-hal di luar qadha Allah Swt. yang diduga kuat menjadi penyebab datangnya bencana, yaitu dosa dan kemaksiatan manusia.

Dalam Surah Ar-Rum ayat 41 Allah Swt. berfirman,

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dari ayat di atas, Allah Swt. telah jelas menyampaikan adanya kerusakan alam diakibatkan tangan manusia. Terjadinya banjir di Kalimantan Selatan diduga kuat akibat ulah keserakahan korporasi.

Keserakahan Korporasi

Organisasi swadaya masyarakat Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia menyebut, tanah kosong (landbank) untuk tanaman kelapa sawit seluas 5,8 juta hektare dikuasai 25 konglomerat Taipan pada 2017.

Perinciannya adalah 3,3 juta ha atau 57 persen dari total landbank berada di Kalimantan. Lalu 1,9 juta ha atau 33 persennya berlokasi di Sumatra. Sisanya masing-masing 4 persen di Sulawesi dan Papua. (cnnindonesia.com, 2019)

Data di atas baru perusahaan sawit, belum ditambah perusahaan tambang yang jumlahnya pun sangat besar. Jika lahan sudah dikuasai korporasi, penggunaan lahan akan berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya. Tak peduli kerusakan lingkungan dan penderitaan rakyat akibat bencana, korporasi akan terus berjalan.

Seperti dugaan Greenpeace Indonesia, banjir bandang yang melanda Kalimantan Selatan diakibatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah kehilangan sekitar 304.225 hektare tutupan hutan sepanjang 2001-2019.

Sebagian besarnya sudah berubah jadi kelapa sawit. Padahal, DAS itu merupakan wilayah yang seharusnya menampung air hujan di Kalsel. Namun, karena tutupan hutannya berkurang drastis, kemampuan menampung air jadi berkurang. (cnnindonesia.com 18/1/2021)

Selain karena daya tampung air yang berkurang, deforestasi (hilangnya hutan akibat kegiatan manusia) yang semakin masif mendorong terjadinya iklim yang bisa berpengaruh besar pada curah hujan ekstrem.

Artinya, curah hujan yang begitu ekstrem di Kalsel ini, diduga kuat akibat deforestasi yang tinggi. Wajarlah terjadi banjir bandang, selain curah hujan yang tinggi, dibarengi pula oleh daya tampung yang rendah.

Korporasi Berjabat Erat dengan Birokrasi

Lihatlah bagaimana sistem kapitalisme sekuler bekerja. Hutan-hutan di Kalsel menjadi gundul akibat keserakahan korporasi kelapa sawit dan tambang. Tak mungkin korporasi bisa dengan leluasa membakar hutan-hutan tanpa adanya izin dari penguasa.

Adanya birokrasi yang mempermudah adanya izin alih fungsi lahan adalah konsekuensi diterapkannya sistem kapitalis sekuler. Inilah yang dinamakan negara korporatokrasi, hasil perselingkuhan yang haram antara birokrasi dan korporasi.

Sistem inilah melegalkan eksploitasi SDA. Sistem ini pula yang memasifkan alih fungsi lahan dan pembangunan infrastruktur demi memperlancar investasi. Semua ini dilakukan dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi yang akan menghantarkan pada kesejahteraan masyarakat.

Namun sungguh sayang, jangankan kesejahteraan, penerapan sistem yang melegalkan hegemoni asing ini justru membuat masyarakat semakin menderita.

Bencana alam bukan satu-satunya problem yang lahir dari sistem ini. Telah banyak deretan problem umat seperti kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, kesehatan, pendidikan, hingga problem sosial. Semua menumpuk menjadi PR yang tak pernah diselesaikan.

Maksiat Terbesar adalah Dicampakkannya Syariat Islam Kafah

Syariat mengajarkan, langkah utama ketika menghadapi bencana adalah bertobat. Saat terjadi gempa, Umar bin Khaththab ra. berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Begitu pun apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barang siapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Sungguh, kemaksiatan terbesar negeri ini adalah dicampakkannya hukum Islam. Selain lalai atas korban bencana, dibolehkannya korporasi mengeksploitasi SDA adalah akibat negeri ini tak menerapkan syariat Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.

Sungguh, jika negeri ini menerapkan syariat Islam secara total, keberkahan akan berlimpah ruah, seperti firman Allah Swt.:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." ( QS. al-A’raf : 96)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top