Oleh : Rosi Kuriyah

(Muslimah Peduli Umat)


Di awal tahun 2021 ini, tepatnya di bulan Januari  masyarakat sudah mulai geram dengan maraknya miras dan obat terlarang lainnya. 

Seperti dilansir oleh Dejurnal.com, Bandung – Mewakili masyarakat, para Ketua RW, Kepala Dusun, tokoh masyarakat, Agama dan Pemuda Desa Banjaran Wetan, Kec. Banjaran Kab. Bandung untuk kedua kalinya kembali turun ke jalan memasang spanduk Anti Miras, Minggu (17/1/2021).

Aksi ini merupakan gerakan lanjutan dari aksi serupa yang dilakukan pada hari Minggu (10/1/2021) lalu. Bedanya, aksi kali ini lebih terorganisir dengan jumlah spanduk dan titik yang dipasangi spanduk lebih banyak lagi.

Dalam kegiatan ini hadir juga Kepala Desa Banjaran Wetan, Apep Cahya Sariman, Bhabinkamtibmas setempat Bripka Sobari dan Kepala Desa Banjaran Kota Dadang Hemayana.

Mereka memasang spanduk, tidak hanya di dekat toko atau tempat penjual miras, tapi juga di gang-gang atau tempat strategis lainnya di wilayah Desa Banjaran Wetan. Gerakan mereka menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

Sesungguhnya masyarakat sudah merasa geram, risih, tidak nyaman dengan banyaknya beredar miras dan obat terlarang di lingkungannya.

Bahkan para tokoh masyarakat juga menginginkan dengan tegas agar pihak aparat berwenang  tidak hanya melakukan razia saja, tapi memproses kasus penjualan miras ini hingga ke pengadilan.

Namun dalam sistem kapitalisme apakah hal ini dapat diharapkan? 

Karena sejatinya perekonomiannya yang berasaskan manfaat yang dicari, pastilah menjadi pertimbangan apabila dari miras dan obat terlarang ini sangat membawa keuntungan atau pemasukan kas negara. Bahkan pemerintah juga mengesahkan UU mengenai miras. Sehingga peredaran miras masih bisa dilindungi oleh negara.

Berbanding terbalik bila kita lihat dari sistem Islam dimana miras itu haram. Baik dalam memproduksi, mengedarkan, menjual, dan mengonsumsi minuman keras (miras) atau minuman beralkohol (minol) jelas haram. 

Miras/minol terkategori buruk (syarr) serta pasti mendatangkan bahaya (dharar). Karena itu miras/minol harus dijauhi. Inilah yang Allah Swt. tegaskan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah semua itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maidah [5]: 90)

Dalam pandangan syariat, minum khamr (miras/minol) merupakan kemaksiatan besar. Sanksi bagi pelakunya adalah dicambuk 40 kali dan bisa lebih dari itu. Islam juga melarang total semua hal yang terkait dengan khamr mulai dari pabrik produsen minuman beralkohol, distributor, toko yang menjual hingga konsumen (peminumnya).

Rasulullah saw. bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ

“Allah melaknat khamr, peminumnya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, orang yang mengambil hasil (keuntungan) dari perasannya, pengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dalam sistem Islam, pemerintah dan seluruh rakyat wajib mengacu  syariat dalam menetapkan baik-buruk serta dalam menentukan boleh-tidaknya sesuatu beredar di tengah masyarakat. Bila sesuatu telah dinyatakan haram menurut syariat Islam, pasti ia akan menimbulkan bahaya (dharar) di tengah masyarakat. Miras/minol tentu termasuk di dalamnya.

Karena itu miras/minol harus dilarang secara total. Menolak larangan miras/minol secara total dengan alasan apa pun, termasuk alasan bisnis/investasi, adalah tercela dan pasti mendatangkan azab Allah Swt. WalLahu a’lam bishshawab.

 
Top