Oleh: Rahmi Ummu Atsilah


Anak bangsa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menorehkan sebuah prestasi dengan menemukan inovasi alat pendeteksi Covid-19 yakni GeNose. GeNose menjadi harapan dalam pelaksanaan tracing dan tracking Covid-19 di Indonesia, di samping penggunaan rapid test dan PCR. Alat ini sudah diuji coba di fasilitas umum, seperti stasiun kereta api.


Hal ini pantas diapresiasi, meski menurut epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman penggunaan alat itu harus dalam proporsi yang tepat dan tidak mengabaikan prinsip ilmiah dan proporsional. Menurutnya, alat deteksi GeNose untuk Covid-19 sedikit lebih baik daripada tes suhu. Namun, posisinya hanya sebagai skrining awal dan tak bisa mengalahkan alat tes seperti rapid test antigen atau PCR. Selain alat tersebut masih dalam proses uji, GeNose menurut dia juga membutuhkan algoritma yang jelas. (kompas, 25/01/2021).


Cara kerja GeNose menurut Kepala Produksi Konsorsium GeNose C19, Eko Fajar Prasetyo, sistem GeNose dapat mendeteksi virus dalam waktu 50 detik dengan akurasi di atas 90 persen. (Liputan6.com, 24/1/2021). Alat ini mendeteksi virus melalui embusan napas yang di simpan di dalam kantung udara yang dihubungkan ke alat GeNose yang sudah didukung Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan (AI).

Melaui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyaksikan penggunaan alat deteksi Covid-19 “GeNose” di Stasiun KA Pasar Senen, Jakarta, Sabtu, 23 Januari 2021.


Pemerintah telah mengapresiasi tim GeNose dari Universitas Gajah Mada (UGM) yang sudah bekerja keras untuk menciptakan inovasi ini dan membantu pemerintah dalam melakukan upaya 4T (Tracking, Tracing, Testing dan Treatment).Dan mendorong penggunaan alat deteksi Covid-19 “GeNose” di simpul-simpul transportasi umum seperti di Stasiun Kereta Api, Bandara, Pelabuhan dan Terminal.

Budi menjelaskan, sesuai arahan Menkomarvest untuk mendorong penggunaan alat GeNose pada transportasi umum, Kemenhub telah berkoordinasi dengan Kemenkes, UGM, dan Satgas Penanganan Covid-19. 


Adapun Luhut mengatakan alat GeNose telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ia mengatakan, kelebihan dari alat ini antara lain bisa mendeteksi lebih cepat dari alat deteksi lainnya. Selain itu, harga pengetesan pun relatif lebih murah dengan akurasi di atas 90 persen. Luhut melanjutkan, harga yang dipatok untuk sekali tes dengan GeNose hanya Rp 20 ribu saja. Alatnya sendiri harganya mencapai Rp 62 juta.

"Alatnya hanya seharga 62 juta dan harga per orangnya hanya dikenakan sekitar Rp 20 ribu. Jika pemakaian lebih banyak, tentunya cost-nya akan semakin turun dan nantinya alat ini akan terus dikembangkan, sehingga mempunya akurasi yang akan lebih tajam. Dan tentunya kita harus bangga karena ini buatan Indonesia," jelas Menko Luhut. (kompas.com, 25/01/21).


Dukungan oleh pemerintah memang sudah selayaknya diberikan kepada para civitas akademika, ilmuwan, maupun para intelektual, juga kreator teknologi untuk senantiasa melakukan penelitian dan penemuan ilmiah. Hal ini sangat penting agar mereka termotivasi berkarya untuk memudahkan kehidupan serta menyelesaikan berbagai persoalannya, sesuai dengan perkembangan jaman terkini.


Hal ini pula yang dahulu diamalkan dalam sistem Islam. Sejarah keemasan peradaban Islam menorehkan tinta bertebarannya kisah-kisah kecerdasan ilmiah dan kreativitas teknologi canggih di masanya. Tidak hanya itu, kecerdasan dan kreativitas tersebut dilandasi spiritual yang tinggi. Artinya ada keseimbangan yang luar biasa  antara budaya rasional dan transendental, antara aqli dan naqli, dan antara kemajuan dunia dan keselamatan akhirat. Hal ini tidak lepas dari peran negara yang memberikan ruang serta motivasi yang tidak sekedar motivasi moral, tetapi juga motivasi material serta yang tidak kalah pentingnya motivasi ruhiyah kepada para ilmuwan muslimin di masa Islam.


Sebagaimana yang telah disampaikan, dukungan tersebut tidak melulu memberikan apresiasi berupa dukungan moril, tetapi juga dukungan materi dengan memberikan anggaran terbaik untuk penelitian dan penemuan ilmiah dari para intelektual dan ilmuwan. Lebih dari itu semua adalah manfaatkan hasil penemuan mereka untuk benar-benar menyelesaikan persoalan dan memudahkan kehidupan manusia utamanya rakyat. 


Mematok harga atas hasil jerih payah ilmuan kepada rakyat bukanlah mencerminkan sikap sebuah pemerintahan yang bertugas mengurusi setiap urusan ummat, guna meningkatkan kesejahteraan dan memakmurkan mereka. Apalagi dalam kondisi pandemi dan perekonomian yang krisis seperti sekarang ini. Pola pikir ini lahir dari sebuah sistem pemerintahan kapitalisme yang menjadi corak landasan pemerintahan. Segalanya diukur dengan keuntungan secara materi utamanya finansial. Sehingga untuk urusan keselamatan nyawa rakyat yang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab dan prioritas, harus ada kompensasi materi dari rakyat.


Berbeda sekali dengan Islam yang sangat memperhitungkan nyawa manusia, apalagi nyawa kaum muslimin. Dari al-Barra’ bin Azib ra., Nabi saw. bersabda yang artinya:


“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).


Maka dengan pandangan demikian Negara akan mengutamakan keselamatan rakyat tanpa memperhitungkan keuntungan secara materi. 

Wallahu a’lam bishshawwab.

 
Top