Tak Perlu Salahkan Alam Lagi, Manusia Turut Serta dalam Merusak Alam



Oleh : Afifah Nur Amalina Asfa

(Pelajar kelas XI)

Indonesia kembali berduka. Selepas tragedi Sriwijaya Air yang memakan banyak sekali korban, kini beragam musibah silih berganti menerpa Indonesia. Satu diantaranya yang mendapat banyak sorotan dari masyarakat adalah bencana banjir di Kalimantan Selatan.

Tercatat bahwa banjir kali ini merupakan banjir terparah yang pernah terjadi di Kalsel. Banjir tersebut menenggelamkan sebanyak 70 kecamatan dari 11 Kabupaten/Kota dengan air berkisar antara 2-3 meter. Total ada 120.284 KK dengan 342.987 jiwa menjadi korban bencana, sebanyak 63.608 jiwa mengungsi, 6 orang hilang dan 21 orang dinyatakan meninggal dunia.

Cuaca ekstrem merupakan salah satu faktor terjadinya banjir di Kalsel. Namun tak hanya itu, rusaknya ekologi juga memberikan andil yang cukup besar terhadap terjadinya bencana tersebut. Meluasnya lahan sawit dan maraknya pertambangan merupakan pemicu kuat terhadap kerusakan ekologi di Kalsel.

Pembukaan lahan perkebunan sawit dari tahun ke tahun terus terjadi. Alhasil, luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar. Antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun. Selain itu, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia. Dalam kurun waktu 2 tahun, terdapat peningkatan sebesar 13 persen dalam pembukaan lahan. 

Tentu saja hal tersebut merupakan buah dari sistem kapitalisme. Pemerintah yang seharusnya menyediakan sarana dan prasarana untuk kehidupan rakyat justru mengeksploitasi sumber daya alam tersebut yang hanya menguntungkan sebagian golongan saja. Mengabaikan seluruh prosedur AMDAL. Demi uang mereka menghalalkan seluruh cara walau sangat merugikan rakyat.

Di dalam Al-Quran, Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Seharusnya, ayat tersebut menjadi pengingat umat Islam untuk senantiasa menjaga lingkungan. Tidak melakukan aktivitas yang hanya memuaskan nafsu sebagian golongan saja, namun memperhatikan apakah hal tersebut berbahaya bagi lingkungan atau tidak.

Islam memiliki setidak-tidaknya dua ajaran dasar yang harus diperhatikan terkait etika lingkungan. Pertama, rabbul `alamin. Islam mengajarkan bahwa Allah SWT merupakan Tuhan semesta alam, bukan Tuhan manusia atau sekelompok manusia saja. Di hadapan Allah, semua manusia memiliki hak yang sama dalam memanfaatkan sumber daya alam. Kedua, rahmatan lil`alamin. Artinya manusia diberikan amanat untuk mewujudkan segala perilakunya dalam rangka kasih sayang terhadap seluruh alam. Manusia bertindak dalam semua tindakannya berdasarkan kasih sayang terhadap seluruh alam. Jika makna rabbul `alamin dan rahmatan lil `alamin dipahami dengan baik maka tidak akan merusak alam lingkungan.

Menurut Muhammad Idris, ada tiga tahapan dalam beragama yang dapat menjadi sebuah landasan etika lingkungan dalam perspektif Islam. Pertama ta`abbud. Bahwa menjaga lingkungan adalah merupakan implementasi kepatuhan kepada Allah. Karena menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah. Bahkan dalam ilmu fiqih, menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan berstatus hukum wajib. Karena perintahnya jelas, baik dalam Al Qur`an maupun sabda Rasulullah saw. Menurut Ali Yafie, masalah lingkungan dalam ilmu fiqih masuk dalam bab jinayat (pidana) sehingga jika ada orang yang melakukan perusakan terhadap lingkungan dapat dikenakan sanksi atau hukuman. Kedua, ta`aqquli. Perintah menjaga lingkungan secara logika dan akal pikiran memiliki tujuan yang sangat dapat dipahami. 

Lingkungan adalah tempat tinggal dan tempat hidup makhluk hidup. Lingkungan alam telah didesain sedemikian rupa oleh Allah dengan keseimbangan dan keserasiannya serta saling keterkaitan satu sama lain. Apabila ada ketidakseimbangan atau kerusakan yang dilakukan manusia. Maka akan menimbulkan bencana yang bukan hanya akan menimpa manusia itu sendiri tetapi semua makhluk yang tinggal dan hidup di tempat tersebut akan binasa. Ketiga, takhalluq. Menjaga lingkungan harus menjadi kebiasaan setiap orang. Karena sejatinya menjaga lingkungan ini menjadi sangat mudah dan sangat indah. Tentunya manakala bersumber dari kebiasaan atau keseharian setiap manusia,sehingga keseimbangan dan kelestarian alam akan terjadi dengan sendirinya tanpa harus ada ancaman hukuman.

Islam telah tegas mengatur mana yang merupakan kepemilikan umum dan mana yang merupakan kepemilikan individu. Adapun hutan merupakan salah satu hal yang termasuk kepemilikan umum (milkiyah ‘am). Artinya seluruh kekayaan tersebut merupakan milik bersama. Individu diperbolehkan mengambil manfaat dari kekayaan tersebut, namun terlarang memilikinya secara pribadi. Sehingga ketika aturan ini dijalankan dengan baik, maka bencana alam pun akan dapat terminimalisir.

Aturan Islam merupakan aturan yang sangat hebat dan menyeluruh. Tak hanya mengatur soal ibadah mahdo yang merupakan rutinitas sebagai seorang muslim saja, namun juga terkait hubungan manusia dengan lingkungan. Korelasi itu menjadikan manusia untuk terus menjaga kelestarian lingkungannya, sebagai upaya untuk menjaga sumber daya alam untuk menopang hidup manusia.  

Wallahu a’lam bishshawab