Tahun Baru Tiba Maksiat Merajalela


Oleh : Anna Ummu Maryam

Pegiat Literasi Peduli Generasi


Satpol PP Kabupaten Cirebon mengamankan 21 pasangan bukan suami istri dan tiga laki-laki homoseksual pada Selasa malam (29/12). Mereka tertangkap basah dalam satu kamar di hotel melati kawasan Gronggong, Kecamatan Beber dan hotel Kecamatan Kedawung. 

“Razia menjelang Tahun Baru 2021 ini, kami berhasil mengamankan 21 pasang di wilayah Beber dan Kedawung. Kami juga mengamankan tiga laki-laki diduga homo yang ditemukan dalam satu kamar tanpa busana,” kata Kasatpol PP Kabupaten Cirebon Mochamad Syafrudin melalui Kabid Tibumtranmas Dadang Priyono. (JPNN.com, 31/12/2020)

Dimana sebelumnya kita juga dikejutkan dengan sebanyak 18 pasangan bukan suami istri kena razia yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cirebon, Rabu (26/12/2020).

Para pelaku diperkirakan berusia di bawah 25 tahun, yang sejatinya sudah memiliki akal yang sempurna dan tahu konsekuensi dari tindakan mereka. Namun anehnya mereka tidak memperdulikan hal tersebut bahwa sangat acuh dengan kondisi yang ada.

Sungguh sangat miris kita melihatnya. Bagaimana tidak, bahwa seharusnya di tengah Covid-19 yang belum juga Indonesia terlepas dengannya ditambah lagi dengan tingkah para remaja yang kian hari semakin jatuh moralnya. 

Mereka seolah tak perduli dengan wabah yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Malah mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk berkumpul melampiaskan syahwat bejatnya dengan alasan berkumpul menikmati tahun baru.

Generasi Kehilangan Kendali

Inilah yang terjadi pada remaja generasi masa depan negeri ini. Mereka seolah tak perduli dengan kondisi yang ada. Adanya peringatan dan himbauan dalam mencegah wabah Covid-19 yang belum selesai malah sebagian lainnya mencari cara untuk berkumpul bersama.

Tahun baru seolah menjadi celah bagi sebagian orang untuk membolehkan aktivitas berkumpul tanpa kepentingan. Padahal setiap kepala daerah telah mengeluarkan larangan untuk berkumpul guna mencegah penyebaran virus Corona, namun semuanya seolah tak memiliki pengaruh apa pun.

Sebenarnya negara ini memiliki banyak wabah bahkan lebih dulu dari Covid-19 yaitu salah satunya adalah seks bebas. Dimana hal ini sangat penting untuk diatasi dan dicari solusi tuntasnya. Karena aktivitas ini tak kenal waktu dan tempat tetapi hanya mengikuti hawa nafsu bejat.

Tentu hal ini amat membahayakan akan keberlangsungan terciptanya generasi manusia yang cerdas di masa depan. Dan juga pencegahan penyebaran Covid -19. Maka tentu dibutuhkan solusi tuntas untuk mengarahkan masa depan lebih baik.

Jika kita mau tahu apa yang menyebabkan seks bebas di berbagai kalangan ini kian marak padahal ada wabah Covid-19 yang harus diwaspadai. Maka kita dapati bahwa sumbernya adalah penerapan sistem kapitalis liberal sekuler.

Mengapa demikian? Karena dalam sistem ini manusia dianggap sebagai Tuhan yang mampu mengatur seluruh tatanan kehidupan interaksi manusia. Sehingga aturan manusia lebih baik dan pantas untuk dijadikan sebagai aturan dan membuang aturan Allah Swt.

Dalam aturan kapitalis liberal sekuler, kekuasaan ada di tangan para pemilik modal, merekalah sejatinya yang berkuasa dan pemberi pengaruh dalam kebijakan. Sehingga wajar kita dapati solusi yang lemah karena ada kepentingan dan keuntungan di dalamnya.

Sehingga solusinya bersifat tawar menawar dan melihat keuntungan yang didapatkan dalam setiap dikeluarkannya peraturan bukan fokus pada derita rakyat.

Dalam sistem ini pula manusia diberikan kebebasan atau liberal dalam bertingkah laku. Sehingga manusia memiliki hak dalam melakukan apa pun tanpa harus dikontrol oleh negara. 

Bahkan negara menjamin setiap kebebasan individu atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) tanpa batas. Jadi negara adalah sebagai pelaksana sekaligus penjaga kebebasan tersebut.

Maka wajar jika kita dapati bahwa setiap penyakit masyarakat yang dalam berbagai bentuknya gagal untuk dicari solusinya, karena akan berbenturan dengan peraturan yang lainnya.

Dan yang paling amat penting adalah dalam sistem kapitalisme liberalisme ini agama dianggap sebagai candu yang mematikan, sehingga harus dijauhkan pengamalannya dari segala aspek interaksi manusia. Sehingga manusia dibiarkan bebas melakukan apa saja dan tidak boleh diatur oleh agama.

Padahal aturan yang berasal dari agama yaitu Islam adalah sumber kehidupan bagi keberlangsungan manusia solusi tuntas atas setiap permasalahan manusia.

Generasi Cemerlang dalam Islam

Agama Islam adalah agama yang mulia dimana di dalamnya menjelaskan bagaimana kehidupan ini harus dijalankan sekaligus mengatur manusia agar hidup selaras dan seimbang di dalam mengarungi kehidupan. Sebagaimana firman Allah Swt.:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ

Artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. al-Maidah : 2)

Islam bukan hanya mengharuskan setiap individu muslim taat dalam ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji tapi Islam juga mengatur untuk taat dalam interaksi laki laki-laki dan perempuan. Dalam pandangan Islam interaksi manusia dibagi 2 bentuk interaksi yaitu:

Pertama, interaksi umum. Dimana dalam interaksi ini dibolehkan untuk saling terjadinya diskusi. Adapun aktivitas yang dianggap umum adalah  dalam pendidikan, kesehatan, pengadilan, pasar, pekerjaan dan segala hal yang bersifat umum. 

Maka hal tersebut dibolehkan dengan sekadar keperluannya saja. Maka di luar hal tersebut adalah dosa dan akan dikenai sanksi oleh negara.

Kedua, interaksi khusus. Yaitu interaksi yang bersifat khusus. Dimana di dalam interaksi ini hanya diperbolehkan bagi mahram dan muhrim saja. Sehingga yang tidak termasuk kategori tersebut dianggap melakukan dosa dan dikenai sanksi.

Selain itu Islam juga melarang aktivitas ikhtilat (campur baur) antara  laki-laki  dan perempuan tanpa disertai mahram dan berduaan tanpa disertai dengan mahram. 

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Al-Hakim kemudian menyatakan bahwa hadits ini sahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim. Pendapat ini disepakati pula oleh Adz-Dzahabi)

Keteraturan hidup dan keamanan manusia bukan hanya ditunjang dari ketakwaan individu saja, namun juga hadirnya negara sebagai pelaksana dan penjaga sekaligus pelayan dalam peraturan yang ada di seluruh sisi interaksi manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»

“Hendaklah kalian berdiri di atas sunnahku, dan sunnah para khalifah al-râsyidîn al-mahdiyyîn (khalifah empat yang mendapatkan petunjuk), gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)[9]

Walaupun kini keberadaan sistem Islam yaitu khilafah ini dipersekusi dan difitnah dengan keji, namun sejatinya sistem Islam inilah satu-satunya sistem yang pantas memimpin dunia dan menjadi peraturan yang harus dipakai oleh setiap manusia dan negara.

Negaralah yang berhak memberikan hukuman bagi pelaku kemaksiatan seperti penyuka sesama jenis atau LGBT.

Bahkan Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa yang telah mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (sodomi) sebagaimana yang telah di lakukan oleh kaum Nabi Luth as., maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut.”

Sedangkan telah dijelaskan secara terang oleh Rasulullah saw. 

Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya pada rahim wanita yang tidak halal baginya," (Ibnu Abi al-Dunya)

Al-Qur'an Surat an-Nur ayat 2, yang artinya:

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman itu disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman."

Solusi ini akan dijalankan secara sempurna jika berada dalam sistem Khilafah Islam bukan yang lain. Karena rentan terjadinya tawar menawar dalam pelaksanaannya. Sistem yang berasal dari Allah Swt. telah teruji sejak masa Rasulullah saw. beserta sahabat dan dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya.

Maka jelaslah sistem ini telah teruji dan bertahan paling lama dalam memimpin dunia yaitu 1300 tahun lamanya. Maka kembalilah dalam sistem Islam agar generasi cemerlang dan masa depan berada dalam kegemilangannya kembali.

Wallahu a'lam bishshawab.