Stabilkan Harga Daging Sapi dengan Islam


Oleh : Shofi Lidinilah

Member AMK


Setelah produsen tahu dan tempe mogok jualan kini produsen sapi pun mulai berencana mogok jualan. Hal ini disebabkan harga daging sapi dalam beberapa hari terakhir terus melonjak. Hal tersebut menyebabkan pedagang daging merugi.

Dilansir oleh ayobandung.com, Walaupun tidak terlalu besar, kenaikan harga daging sapi terus merangkak dan menembus angka Rp125.000/kg. Kondisi tersebut membuat banyak pelanggan yang keberatan, pedagang daging lainnya mengatakan karena banyak pelanggannya yang keberatan, sehingga membuat jualan menjadi sepi. Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang berencana mogok berjualan, agar daging sapi bisa kembali turun ke harga normal.

Dilansir oleh ayobandung.com, Pemerintah Kabupaten Bandung menyiapkan antisipasi apabila pedagang daging mogok berjualan menyusul harga daging sapi yang merangkak naik.

Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung mengatakan, salah satu hal yang dilakukan adalah operasi pasar. Operasi pasar bisa dilakukan bekerjasama dengan bulog untuk menjual daging sapi secara langsung kepada masyarakat. Walaupun daging beku kurang diminati, tetapi ia akan tetap melakukan operasi pasar jika diperlukan untuk menyetabilkan harga.

Kepala UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Kabupaten Bandung ada dua penyebab kenaikan harga daging sapi dalam beberapa waktu terakhir. Penyebab pertama adalah kenaikan harga bobot hidup sapi impor. Sapi hidup impor Indonesia sebagian besar didatangkan dari Australia dan saat ini harganya mengalami kenaikan. Naiknya harga bobot sapi hidup secara langsung mempengaruhi harga daging sapi di pasaran. Kedua, nilai tukar dolar terhadap rupiah juga mengalami pelemahan sehingga turut mempengaruhi harga pembelian sapi impor.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah meredam gejolak harga daging sapi dengan mengimpor. Sungguh ini bukan sebuah solusi hakiki karena melonjaknya harga daging sapi berulang-ulang terjadi. Persoalan utamanya adalah ketergantungan negeri ini terhadap daging sapi impor. Jika penguasa serius dengan target swasembada, seharusnya ketika terjadi kekurangan pasokan daging, yang ditingkatkan adalah produksi sapi lokal. Namun nyatanya, impor lebih disukai.

Sejatinya rakyat berhak mendapat pasokan pangan yang bergizi dengan harga terjangkau dan stabil. Kecukupan pasokan pangan akan menjamin kualitas kesehatan masyarakat yang berujung pada peningkatan produktivitas rakyat.

Persoalan pangan merupakan perkara yang sangat penting. Ketahanan pangan merupakan syarat agar sebuah negara menjadi besar dan berpengaruh.

Dilansir dari muslimahnews.com, Menurut Prof. Fahmi Amhar (Tabloid Mediaumat Edisi 223), ada lima prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang dijalankan di masa Kekhilafahan Islam dan tetap relevan hingga kini.

Pertama, optimalisasi produksi, yaitu dengan mendorong peningkatan produksi sapi lokal.

Kedua, adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi daging.

Ketiga, manajemen logistik, yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.

Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan.

Inilah yang dilakukan ketika negara mengambil aturan Islam, bukan hanya impor, impor, dan impor. Islam mengedepankan kemaslahatan umat, bukan kepentingan pengusaha. Maka sudah sepatutnya Islam diterapkan secara universal dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bishshawab.