Oleh : Aminah Darminah, S.Pd.I.

(Muslimah Peduli Generasi)


Publik dikejutkan dengan kasus hukum yang menimpa seorang ibu yang dilaporkan oleh anak kandungnya sendiri. Ibarat air susu dibalas air tuba untuk menggambarkan perilaku anak, sebesar apa pun kesalahan seorang ibu dia adalah wanita yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anaknya.

Seorang anak berinisial A (19) telah mencabut laporan di polisi terhadap ibu kandungnya S (39). Alasan pencabutan laporan itu atas inisiatif sendiri tanpa paksaan. Anggota DPR RI Dedi Mulyadi turut prihatin dengan kasus yang dialami S menurutnya tidak layak seorang anak memenjarakan ibu kandung dengan alasan apa pun apalagi hanya persoalan pakaian. (GrifPop.ID, 13/1/2021) 

Kejadian serupa pernah terjadi di Lombok, seorang anak berinisial M (40) tega ingin memenjarakan ibu kandungnya, K (50). Perseteruan berawal dari harta warisan peninggalan ayah M yang dijual seharga 200 juta dan sang ibu mendapatkan bagian 15 juta untuk membeli motor. Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Prio Suhartono menolak laporan tersebut dan memerintahkan anak buahnya tidak menindaklanjuti kasus tersebut. (Tribunnews.com, 29/6/2020)

Orangtua adalah sosok yang wajib dihormati, diurusi dan diperlakukan dengan baik. Orangtua adalah orang yang telah berjasa kepada anak-anaknya apa pun keadaan mereka. Maka, wajib bagi anak untuk terus mengabdi, tidak layak apa pun alasannya seorang anak berbuat buruk kepada orangtua yang telah mengalir darahnya di dalam tubuh sang anak. 

Kasus pelaporan yang dilakukan anak kepada ibunya membuktikan bahwa generasi bangsa ini miskin adab, pendidikan yang diterima tidak mampu menjadikan anak menjadi orang yang memiliki adab dan sopan santun. Hal ini wajar sebab, kehidupan kita berdiri di atas sistem kapitalis sekuler dimana tatanan ekonomi yang kapitalistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang individualistik, pendidikan yang materialistik. 

Dalam sistem pendidikan sekuler tujuan pendidikan hanya bersifat materialistik semata, siswa menguasai sains teknologi tapi kering dari nilai ruhiyah. Maka lahirlah generasi yang hanya memiliki standar materi semata tanpa memiliki akhlak dan kepribadian. Hal ini wajar sebab, asas atau nilai dasar dari penyelenggaraan pendidikan adalah sekularistik, tujuan pendidikan hanya sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.

Kondisi ini diperparah dengan lemahnya unsur pelaksana pendidikan yaitu kacaunya kurikulum, guru dan lingkungan yang tidak kondusif, faktor keluarga tidak mendukung  dan masyarakat dan negara yang cenderung abai.

Dalam Islam wajib bagi seorang anak untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orangtua, lemah lembut dan penuh kasih sayang, generasi seperti ini hanya akan lahir dari sistem pendidikan berbasis akidah Islam memilki tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang berkarakter yaitu: 

Pertama, berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) bahwa seorang muslim wajib memegang identitas keislamannya yang tampak dari cara berpikir dan cara bersikapnya yang senantiasa berlandaskan kepada ajaran Islam. 

Kepribadian ini akan terbentuk dengan menanamkan akidah Islam yang menggugah akal, menggetarkan jiwa dan menyentuh perasaan. Mengembangkan kepribadian dengan sungguh-sungguh mengisi pemikiran dengan tsaqofah Islam dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupsn dalam rangka taat kepada Allah Swt. 

Kedua, menguasai tsaqofah Islam. Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan mewajibkan menuntut ilmu baik ide, pemikiran, fiqih, bahasa Arab, sirah nabawiyah, Al-Qur'an dan Hadis. 

Ketiga, menguasai sains dan teknologi. Iptek sangat diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga mampu menjalankan misinya sebagai khalifah di muka bumi dengan baik. Sains yang harus dikuasai seperti ilmu kimia, biologi, fisika, kedokteran, pertanian, tehnik.

Sistem pendidikan dalam Islam memiliki kurikulum dan metodologi pendidikan berdiri di atas akidah Islam, memiki tenaga pendidik yang berkualitas, amanah, himmah dan didukung sarana dan prasarana yang lengkap seperti gedung sekolah, asrama, perpustakaan, laboratorium, sarana olahraga lengkap, kantin dan bus sekolah.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam Islam harus ada sinergi antara pihak sekolah, keluarga, masyarakat dan negara.

Dengan penerapan sistem pendidikan berbasis akidah Islam akan lahirlah generasi-generasi yang berkarakter, cerdas, betanggung jawab, berjiwa pemimpin mampu bertanggung jawab terhadap anggota keluarganya terutama kedua orangtuanya, memiliki akhlak yang baik senantiasa birrul walidain. 

Saatnya kaum muslimin berjuang bersungguh-sungguh agar sistem pendidikan warisan Rasulullah dan para sahabat diterapkan di negeri ini

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top