Sistem Islam Mengatur Perayaan Hari Raya Agama Lain


Oleh : Ati Solihati, S.TP

(Aktivis Muslimah, Penulis dan Praktisi Pendidikan)


Euforia Hari Raya Agama lain

Setiap menjelang pergantian tahun Masehi, kita senantiasa disuguhi "euforia"nya umat manusia, tidak terkecuali sebagian besar kaum muslimin, menyambut datangnya tahun baru. Beberapa hari sebelumnya, yaitu tanggal 25 Desember, mereka pun tak kalah ber"euforia" dengan perayaan hari Natal. Hari Raya umat Nashrani, yang diyakini sebagai hari kelahiran Isa Al Masih, yang mereka yakini sebagai anak Tuhan. 

Terkait perayaan hari Natal, sekalipun sudah jelas merupakan perayaan orang kafir, namun tidak jarang kaum muslimin dengan toleransi kebablasan turut merayakannya. 

Terlebih lagi perayaan tahun baru, dimana sebagian besar kaum muslimin masih ikut bereuforia merayakan, karena dianggap bukan perayaan agama lain. Benarkah demikian?  

Hukum Merayakan Hari Raya Agama Lain

Sepatutnya setiap muslim memahami kaidah ushul: "Al ashlu fil af'aali taqoyyudun fii hukmin syar'iyin". Yang artinya: "Asal dari perbuatan adalah terikat dengan hukum syara."

Makna dari kaidah tersebut, bahwa sebelum melakukan suatu perbuatan kewajiban setiap muslim adalah mencari tahu terlebih dahulu hukum dari perbuatan tersebut. 

Terkait dengan perayaan tahun baru, hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullaah saw. Demikian juga para sahabat, para tabi'in,  tabi'uttabi'in, dan para imam madzhab tidak pernah merayakannya. 

Jika melihat sejarahnya, ternyata perayaan tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM, tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai Kaisar Romawi. Yang kemudian, ketetapan perayaan tahun baru tanggal 1 Januari ini diresmikan ulang oleh Paus Gregorius XII. Pemimpin tertinggi katholik pada tahun 1582 M. Kemudian ketetapan tersebut diadopsi oleh semua negara Eropa Barat yang Kristen. Sebelum mereka mengadopsi Kalender Gregorian tahun 1782 M. 

Berkaca pada sejarah tersebut, mestinya tidak ada kekaburan lagi bahwa perayaan tahun baru,  sebagaimana perayaan hari natal adalah merupakan perayaan orang kafir. Terlebih lagi sudah merupakan hal yang lazim, ucapan tahniah kedua hari raya tersebut selalu beriringan,  "Merry christmas and happy new year" "Selamat hari natal dan tahun baru". Sehingga perayaan tahun baru menjadi satu rangkaian dengan perayaan natal. 

Terkait perayaan hari raya agama lain, setiap muslim haram turut bereuforia dengan cara apa pun. Dalil keharamannya terkait dengan 2 hal:

1. Keharaman "tasyabbuh bi al kufar". Keharaman bagi setiap muslim dalam menyerupai kaum kafir secara umum. 

2. Keharaman "tasyabbuh bi al kuffar fi ayaadihim". Keharaman bagi setiap muslim dalam menyerupai kaum kafir khususnya terkait turut merayakan hari-hari raya agama lain. 

Dalil keharaman "tasyabbuh bi al kuffar", di antaranya adalah QS. al-Baqarah : 120, yang artinya: "Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." 

Baginda Rasulullah saw. bersabda,  yang artinya: "Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai golongan selain kami." (HR. Tirmidzi) 

Fenomena turut bereuforianya umat Islam dalam perayaan orang kafir, telah diperingatkan oleh Baginda Rasulullah saw. dalam hadisnya, yang artinya, "Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak, pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, "Lantas siapa lagi?" (HR. Bukhari)

Adapun terkait keharaman "Tasyabbuh bi al kuffar fii ayaadihim" menyerupai orang kafir dengan merayakan hari raya mereka, dalilnya antara lain: "Dari Anas Ra. Rasul datang ke Madinah,  sementara umat Islam saat itu masih memiliki 2 hari raya. Rasul bertanya,  "Dua hari raya apa itu?" Mereka pun menjawab, "Dahulu kami bermain-main dalam 2 hari raya tersebut, pada masa jahiliyah". Maka Rasulullah saw. pun bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menggantikan 2 hari tersebut dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri." (HR. Abu Daud) 

Dengan demikian jelaslah keharaman bagi kaum muslimin turut merayakan hari raya agama lain. 

Namun, bagi para pemeluk agama lain tersebut,  kita bertoleransi dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk merayakan hari raya keagamaannya, di lingkungan komunitas mereka. 

Sistem Islam, yang tegak dalam naungan Negara Khilafah, pun memberikan jaminan kebebasan tersebut. 

Khilafah, meski dibangun berdasarkan akidah Islam dan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, tetapi Negara Khilafah tetap memberikan toleransi dan kebebasan kepada umat non-Islam untuk memeluk dan menjalankan agamanya. Mereka dibiarkan memeluk keyakinannya dan tidak akan dipaksa untuk memeluk Islam.

Jaminan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, “La ikraha fi ad-din." (Tidak ada paksaan dalam memeluk [agama] Islam) (QS. al-Baqarah [02]: 256). Nabi saw. juga bersabda, “Man kana ‘ala Yahudiyyatihi au Nashraniyyatihi fainnahu la yuftannu” (Siapa saja yang tetap dengan keyahudiannya, atau kenasraniannya, maka tidak akan dihasut [untuk meninggalkan agamanya]).

Begitulah Islam menjaga dan melindungi penganut agama non-Islam yang hidup dalam naungan Negara Khilafah. Mereka mendapatkan perlindungan itu, karena dzimmah yang diberikan negara kepada mereka.

Hak Beragama

Perlu dicatat, Ahli Dzimmah adalah nonmuslim yang tunduk di bawah sistem Islam dengan tetap memeluk agamanya. Mereka berkewajiban untuk membayar jizyah dan tunduk kepada sistem Islam.

Sebagai imbalannya, mereka diberi hak untuk hidup di dalam naungan khilafah dengan tetap memeluk agama mereka, serta bebas menjalankan ibadah, makan, minum, berpakaian, nikah, dan talak menurut agama mereka.

Hanya saja, karena mereka hidup di bawah naungan khilafah, yaitu negara yang berdasarkan akidah Islam serta menjalankan syariat Islam, maka tentu tidak mungkin agama lain selain Islam lebih menonjol, atau setidaknya sama dengan Islam, baik dalam hal syiar, simbol maupun atribut yang tampak di permukaan.

Karena Nabi Saw. menegaskan, “al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi” (Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam).

Karena itu, di zaman Khilafah Islam, orang-orang nonmuslim yang hidup di dalam wilayah Negara Khilafah menyadari betul posisi dan kedudukan mereka. Ketika mereka hendak mengajukan dzimmah kepada khilafah, mereka membuat proposal yang membuat khalifah berkenan menerima dzimmah mereka.

Maka wajar, jika kemudian dalam proposal mereka, misalnya menyatakan tidak akan mengajak atau memengaruhi orang Islam untuk mengikuti agama mereka. Termasuk tidak akan mendirikan gereja-gereja yang baru.

Mereka tidak akan membunyikan lonceng gereja, memakai atribut agama mereka di depan kaum muslim, dan banyak lagi yang lain.

Begitulah di antara klausul proposal yang mereka ajukan kepada khalifah agar bisa mendapatkan dzimmah dari Negara Khilafah.

Karena kesadaran itulah, maka orang-orang nonmuslim yang mendapatkan dzimmah dari Negara Khilafah itu tidak neko-neko. Karena, kalau mereka neko-neko, jaminan dzimmah itu bisa dicabut dan mereka diusir dari wilayah khilafah, tanpa perlindungan dari khilafah. 

Karena itu, mereka tidak pernah menuntut lebih dari hak yang mereka ajukan kepada negara. Mereka juga tidak akan minta ditoleransi oleh umat Islam dan negara dalam menjalankan agama mereka, lebih dari apa yang telah menjadi haknya.

Namun, meskipun perayaan agama lain oleh para pemeluknya tidak dilarang, tetapi perayaan ini tetap diatur oleh Negara Khilafah. Selain berdasarkan klausul dzimmah mereka, juga filosofi “al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam) tetap harus dipegang teguh.

Karena itu, perayaan ini dibatasi dalam gereja, asrama dan komunitas mereka. Di ruang publik, seperti televisi, radio, internet atau jejaring sosial yang bisa diakses dengan bebas oleh masyarakat, tidak boleh ditampilkan.

Alasannya, karena ini bertentangan dengan akad dzimmah mereka. Selain itu, ini juga menyalahi filosofi “al-Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi” (Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam). Para ulama juga telah membahas larangan mengucapkan selamat kepada mereka, baik secara pribadi apalagi sebagai pejabat publik.

Begitulah Islam memberikan toleransi kepada mereka. Begitulah Islam menjaga dan melindungi agama dan keyakinan mereka. Mereka tidak diusik dan diprovokasi untuk meninggalkan agamanya.

Namun, mereka juga tidak dibenarkan untuk mendemonstrasikan dan memprovokasi orang Islam untuk turut serta merayakan hari raya agama mereka, terlebih lagi memprovokasi agar memeluk keyakinan mereka. Begitulah cara Negara Khilafah memberi ruang kepada mereka. 

Wallahu a’lam bishshawab.