Serba Serbi Kebijakan Pendidikan di Tengah Pandemi, Demi Apa?


Oleh : Widya Amidyas Fillah

Pendidik Generasi


“Hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga, untuk itu diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari” ~ Emha Ainun Najib. 

Begitu pula yang terjadi di masa pandemi ini. Berbagai persoalan yang dihadapi menuntut kebijakan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari agar apa pun yang terjadi, kita dapat menyikapi dan menjalaninya dengan penuh rasa sabar, ikhlas, dan meyakini bahwa semuanya akan berbuah hikmah. Di dunia pendidikan, begitu banyak permasalahan yang muncul, baik ketika kondisi normal maupun di masa pandemi. Berbagai kebijakan yang digulirkan di negeri ini sebagai upaya mencapai tujuan pendidikan. Mulai dari kebijakan BDR, anjuran Gerakan sedekah untuk BDR, adaptasi, normalisasi dan digitalisasi, penerapan kurikulum pendidikan 4.0, rekonstruksi pelajaran sejarah, moderasi beragama, penghapusan UN, hingga gonta-ganti kebijakan BDR-Belajar Tatap Muka. Serba-serbi kebijakan di dunia pendidikan ini menimbulkan kegamangan di tengah masyarakat. Pun mendatangkan berbagai respon di tengah masyarakat. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Semuanya terjadi akibat kebijakan yang dinilai mencla-mencle, terkesan tidak mau mengambil risiko disalahkan, dan keserakahan yang bersifat kapitalistik. Sehingga penyebaran Covid-19 tidak kunjung menurun bahkan hilang yang berakibat pada ketidakefektifan kegiatan pembelajaran dan bidang kehidupan lainnya.

Sebagai contoh, kebijakan yang tadinya akan melaksanakan kegiatan belajar tatap muka di sekolah pada semester genap tahun pelajaran 2020/2021 ini, ternyata kebijakannya diubah kembali menjadi BDR berdasarkan SKB 4 menteri dalam upaya mencegah sebaran Covid-19. Saat ini, di Kabupaten Bandung khususnya, pembelajaran tatap muka dibatalkan. Kadisdik Kabupaten Bandung, Juhana menjelaskan, sistem pembalajaran dari rumah penting dilakukan karena untuk menekan dan mencegah terjadinya klaster Covid-19 di sekolah. Iya pun melanjutkan, “Kalau ketinggalan pelajaran itu kan gampang, bisa remedial dan bisa ikut susulan di semester berikutnya. Karena risiko terburuk kalau pembelajaran tatap muka dilaksanakan terus terpapar, apalagi sampai titik kematian apa yang mau disusulkan” pada selasa, 5 Januari 2021. (jurnalsoreang.pikiran-rakyat.com)

Padahal berbagai kebijakan yang menimbulkan kegamangan ini tidak perlu terjadi jika penanganan Covid-19 ini dilakukan dengan tepat sasaran, cepat dan tanpa berbagai pertimbangan rancu yang memprioritaskan aspek untung dan rugi.

Jika dari awal metode, strategi dan langkah mengatasi wabah dilakukan dengan cara yang sudah terbukti keberhasilannya, yakni cara Islam. Islam telah memberikan anjuran untuk mengatasi sebaran penyakit. Dari kitab sahih Muslim Rasulullah saw. bersabda, 

“Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain solusi nyata, Islam juga memberikan tuntunan sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Untuk melaksanakan itu semua, butuh totalitas peran negara dalam mengatasi wabah penyakit yang sudah menjadi pandemi. Negara dalam hal ini pemerintah haruslah berada di garda terdepan menangani bencana seperti ini. dengan mengisolasi masyarakat dalam hal ini sering disebut lockdown secara total dalam kurun waktu tertentu hingga virus tidak lagi menyebar, dengan tetap memperhatikan dan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, seperti sandang dan pangannya selama lockdown diberlakukan.

Wallaahu a’lam bishshawab. []