Seragam Jilbab di Sekolah, Benarkah Intoleransi?


Oleh : Dewi Humairah

(Muslimah Millenial dan Member AMK)


Layaknya sebuah perhiasan yang harus dijaga, maka perempuan juga begitu. Dunia ini seperti perhiasan, tapi sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah.

Kepala SMK Negeri 2 Padang, Rusmadi mengungkap ada 46 siswi nonmuslim yang berada di sekolah tersebut. Rusmadi menyebut, seluruh siswi nonmuslim di SMK tersebut mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-hari, kecuali Jeni Cahyani Hia.

"Secara keseluruhan, di SMK Negeri 2 Padang, ada 46 (siswi) nonmuslim, termasuk ananda Jeni. Semuanya (kecuali Jeni) mengenakan kerudung seperti teman-temannya yang muslim. Senin sampai Kamis, anak-anak tetap menggunakan kerudung walaupun nonmuslim," kata Rusmadi saat pertemuan dengan wartawan.

Belakangan terungkap, Jeni Cahyani Hia merupakan salah satu murid nonmuslim di sekolah tersebut yang menolak mengenakan hijab. Video argumen antara orangtua Jeni dan pihak sekolah pun viral di media sosial.

Rusmadi lantas menegaskan, pihak sekolah tak pernah melakukan paksaan apa pun terkait pakaian seragam bagi nonmuslim. Dia mengklaim siswi nonmuslim di SMK tersebut memakai hijab atas keinginan sendiri. 

"Tidak ada memaksa anak-anak di luar aturan sekolah, memakai pakaian seperti itu adalah juga keinginan anak-anak itu sendiri. Kami pernah menanyakan nyaman nggak memakainya. Anak-anak menjawab nyaman, karena semuanya memakai pakaian yang sama di sekolah ini tidak ada yang berbeda. Bahkan dalam kegiatan keagamaan Islam yang kami adakan, anak-anak nonmuslim juga datang, walaupun sudah kami dispensasi untuk tidak datang. Artinya, nyaman anak-anak selama ini," jelas Rusmadi. (Detik.com,23/1/21)

Fauzi Bahar selaku mantan Wali Kota Padang (2004-2014) angkat bicara terkait mencuatnya kontroversi siswi SMK 2 Padang yang keberatan memakai kerudung atau berpakaian ala muslimah di sekolah. Fauzi menyebut, aturan siswi harus memakai baju kurung dan pakai kerudung di sekolah sudah dibuat sejak dirinya menjabat Wako Padang, yakni di tahun 2005 lalu. 

Menurut Fauzi, aturan itu sudah bagus. Karena tujuannya untuk melindungi generasi muda Sumatera Barat. (IHRAM.CO.ID)

Fakta di atas menunjukkan ketakutan musuh Islam akan kebangkitan umat. Nonmuslim pun yang biasanya tak menutup aurat justru nyaman memakainya, padahal tidak ada paksaan di sekolah tersebut. Dengan adanya kejadian seperti itu jelas sekali mereka ingin menakut-nakuti umat. Seolah-olah umat Islam itu tidak toleransi hingga muncullah Islamofobia.

Islam seolah memaksa nonmuslim untuk memakai hijab. Padahal, dulu di masa Rasulullah saw., seorang kafir juga dilindungi daulah, maka mereka harus patuh dengan apa yang ditetapkan daulah. Termasuk ketika berada di tempat umum, nonmuslim harus menutup aurat walau tak harus sempurna. Berbeda dengan perempuan muslimah yang beragama Islam sudah pasti wajib menutup aurat dengan sempurna sebagaimana dalam firman-Nya:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَا رِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَآئِهِنَّ اَوْ اٰبَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِ رْبَةِ مِنَ الرِّجَا لِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَ رْجُلِهِنَّ لِيُـعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ ۗ وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."

(QS. An-Nur [24]: 31)

Jadi, itu bukan sekadar perintah manusia tapi titah dari Rabb-Nya. Jika aturan diwajibkan oleh sekolah, maka ketika di luar sekolah bisa jadi mereka membuka auratnya atau bebas berbuat semaunya. 

Perempuan itu dimuliakan oleh Allah Swt., karena perempuan itu indah dari ujung rambut sampai kaki. Jadi jangan pernah memperlihatkan kepada selain mahramnya. Selain perintah Allah, kewajiban menutup aurat memiliki banyak fungsi.

Pertama, wanita akan terhindar dari nafsu syahwat para lelaki. Kedua, menjaga pandangan para lelaki saat melihat perempuan agar mereka tak berdosa. Ketiga, menjaga keluarga termasuk ayah dan kakak kita, agar mereka tak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita. Sebab, sejengkal saja kita keluar rumah tak menutup aurat, maka sejengkal itu pula ayah kita akan masuk ke neraka. Naudzubillah.

Maka dari itu, sebagai perempuan tutuplah auratmu sebelum ajal menjemputmu. Karena kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput kita. Semoga kita istiqamah melaksanakan perintah-Nya sampai maut memisahkan.

Wallahu a'lam bishshawab.