Oleh: Indah Ummu Haikal

Ibu Rumah Tangga dan Penulis di Komunitas Muslimah Rindu Surga


Dilansir dari Tempo.com (3/12/2020), Inisiator pandemic Firdza radiang mengatakan jumlah tenaga kesehatan di Indonesia yang meninggal karena covid-19 lebih besar dari jumlah kematian warga di 6 negara Asia tenggara. Ia juga mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia belum maksimal atau sangat buruk. Bahkan, positivity rate atau tingkat penularan di Indonesia konsisten 14-15 persen selama beberapa bulan. "Padahal standar WHO itu maksimal 5 persen," katanya.


Seharusnya pula harus ada penanganan yang serius dari pihak yang berwenang untuk mengintervensi tingkat kematian nakes dan adanya perwakilan Dinkes yang mengawasi agar tingkat kematian nakes bisa turun di rumah sakit.


Senada dengan hal tersebut, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (5/12/2020) Ketua Umum Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, angka kematian tenaga kesehatan naik hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu seminggu pertama pada Desember 2020.


IDI menghimbau kepada masyarakat agar menghindari kegiatan berkerumun yang melibatkan banyak orang,serta tetap menjalankan protokol kesehatan. Tingginya angka kematian Nakes dan bertambahnya angka kasus harian di Indonesia, menjadi pengingat para tenaga medis untuk tetap waspada dan selalu memakai APD dalam menjalankan tugasnya.


Bahkan Epidemologi dari griffith university Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa terus bertambahnya dokter yang meninggal dunia akibat covid-19 adalah suatu kerugian besar bagi Indonesia, artinya Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduk.kehilangan tenaga medis adalah salah satu sinyal serius yaitu betapa lemahnya dalam program pengendalian pandemi.


Terjadinya lonjakan kematian Nakes di Indonesia karena kurang seriusnya pemerintah dan tidak konsistennya dalam penerapan protokol kesehatan, yaitu cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker.


Bukan rahasia umum lagi, pada saat Pilkada, Tahun baru bahkan dalam pembagian bantuan dari pemerintahan terjadi kerumunan massa yang tidak bisa dihindarkan. Padahal seharusnya pemerintah harus konsisten dalam penanganan pandemi covid -19 ini dan juga seharusnya dapat meminimalisir adanya kerumunan massa tersebut.


Sungguh sangat mengenaskan, perjuangan tenaga kesehatan tidak berbanding dengan penjagaan agar penyebaran covid-19 dapat diminimalisir ditengah masayarakat. Bahkan mungkin pada pandemi ini malah dijadikan lahan bisnis untuk meraup keuntungan pribadi dan golongan yang mengekor di belakang pada para kapitalis dan rakyatnya pun dijadikan kelinci percobaan.

Sampai kapan pandemi Covid- 19 ini berakhir dari Bumi pertiwi kita ini Jika protokol Kesehatan masih diabaikan bahkan tidak dilakukan secara maksimal oleh Negara. Beginilah potret realitas penanganan pandemi dalam sistem Kapitalis, carut marut tak memiliki solusi yang tuntas.



Pembudayaan Hidup Sehat dan Bersih

Berbeda dengan sistem Kapitalis dimana kesehatan individu tidak dibiasakan untuk sungguh-sungguh menjaga pola hidup bersih dan sehat sehingga tidak terjaga dari serangan penyakit yang berbahaya, dalam Islam sudah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana berperilaku agar menajdi kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya: menekankan kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengkonsumsi madu, susu kambing atau habatussaudah, dan sebagainya.


Menarik untuk mencatat bahwa di dalam Daulah Islam, pada tahun 800-an Masehi, madrasah sebagai sekolah rakyat praktis sudah terdapat di mana-mana.  Tak heran bahwa kemudian tingkat pemahaman masyarakat tentang kesehatan pada waktu itu sudah sangat baik.


Pemajuan Ilmu dan Teknologi Kesehatan

Sementara dalam sistem Kapitalis bidang kesehatan malah dijadikan ajang bisnis yang merugikan masyarakat, sebaliknya pada masa keemasan Islam, para Muslimin secara sadar melakukan penelitian-penelitian ilmiah di bidang kedokteran secara orisinal dan memberikan kontribusi yang luar biasa di bidang kedokteran yang hasilnya untuk kepetingan umat. 


Tidak dapat dipungkiri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. adalah inspirator utama kedokteran Islam.  Meski beliau bukan dokter, kata-katanya yang terekam dalam banyak hadis sangat inspiratif, semisal, “Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” (HR al-Bukhari).


Muslim ilmuwan pertama yang terkenal berjasa luar biasa adalah Jabir al-Hayan atau Geber (721-815 M).  Beliau menemukan teknologi destilasi, pemurnian alkohol untuk disinfektan, serta mendirikan apotik yang pertama di dunia yakni di Baghdad.


Ibnu an-Nafis adalah Bapak Fisiologi peredaran darah yang merupakan perintis bedah manusia. Pada tahun 1242 ia sudah dapat menerangkan secara benar sirkulasi peredaran darah jantung-paru-paru.  Di Barat baru tahun 1628 William Harvey menemukan hal yang sama.


Pada abad 15, kitab Tashrih al-Badan karya Mansur bin Ilyas menggambarkan secara lengkap struktur tubuh manusia, termasuk sistem syaraf.


Semua prestasi ini terjadi tidak lain karena adanya negara—yakni Khilafah—yang mendukung aktivitas riset kedokteran untuk kesehatan umat.  Umat yang sehat adalah umat yang kuat, produktif dan memperkuat negara. Kesehatan dilakukan secara preventif (pencegahan), bukan cuma kuratif (pengobatan).  Anggaran negara yang diberikan untuk riset kedokteran adalah investasi, bukan anggaran sia-sia.


Menarik untuk mengetahui, bahwa cikal-bakal vaksinasi sebagai cara preventif itu juga dari dokter-dokter Muslim zaman Khilafah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. Ini diceritakan pada buku, 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World.  Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri Duta Besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa ilmu vaksinasi ke Inggris untuk memerangi cacar ganas (smallpox).  Namun, Inggris perlu menunggu hampir setengah abad, sampai tahun 1796 Edward Jenner mencoba teknik itu dan menyatakan berhasil.  Cacar ganas yang pernah membunuh puluhan juta manusia hingga awal abad-20 akhirnya benar-benar berhasil dimusnahkan di seluruh dunia dengan vaksinasi yang massif.  Kasus cacar ganas terakhir tercatat tahun 1978.  Akhirnya, Jennerlah yang disebut dalam sejarah sebagai penemu vaksinasi, terutama vaksin cacar.


Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit.  Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien.  Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset.   Rumah Sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa.  Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.


Semua rumah sakit di Dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu.


Khatimah

Fakta-fakta di atas dengan terang benderang menunjukkan bahwa kaum Muslim terdahulu sangat memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, namun pertama-tama urusan masing-masing untuk menjaga kesehatan diri.  Namun, dengan adanya sinergi yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan Muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi kedokteran.


WalLâhu a’lam bi ash-shawab

 
Top