Oleh : Hermida Idris

(Member AMK, Penulis, Novelis)


Pernah beredar isu tentang radikalisme, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, "Ledakan bom di Surabaya beberapa waktu didalangi oleh oknum-oknum berpaham radikal. Dalam modus terbaru para teroris ini, mereka memanfaatkan anak-anak. Dalam kondisi tertentu, sebaran ajaran radikal menyusup ke berbagai jaringan dan lapisan masyarakat di tempat yang tak terduga." (Selasa, 15/05/2018).

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online menyebutkan radikalisme memiliki tiga arti, yaitu pertama, paham atau aliran yang radikal dalam politik. kedua, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dan ketiga, sikap ekstrem dalam aliran.

Namun seringkali kita dapati isu radikalisme dari kacamata sekuler adalah orang-orang Islam yang taat pada agamanya. Padahal, sejatinya berdasarkan kacamata ajaran Islam, orang-orang yang taat pada sekularisme yang mempunyai visi misi menjauhkan Islam dari kehidupan, keluarga dan negara. Maka, itulah yang radikal.

Bahkan narasi kontra radikalisme diarahkan ke keluarga muslim untuk menghalangi pengenalan terhadap Islam kafah dan implementasi syariah dalam ruang lingkup keluarga masyarakat hingga bangsa. Seakan-akan mengajarkan Islam itu hanya setengah-setengah saja. Padahal, Islam bukan hanya sekadar agama. Namun, juga ideologi yang harus diemban. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Imam Daruquthni dari 'Aid Al-Muzni dengan sanad hasan, Rasulullah saw. bersabda:

"Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam." (HR. Ad-Daruquthni)

Dari hadis di atas menjadi pembelajaran untuk kita semua bahwa Islam bukanlah hanya sekadar agama ritual saja. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika aturan Islam yang harus dijadikan ideologi sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw.

Di tengah gempuran persoalan akibat sistem sekuler, keluarga muslim semakin menyadari pentingnya kebutuhan untuk mengenali agamanya. Sebab, kita dapat mengamati kehidupan saat ini apabila jauh dari Islam, anak-anak keluarga muslim sangat rusak akhlaknya. Oleh karena itu, seharusnya sikap keluarga muslim adalah tetap kokoh konsisten dan menegaskan bahwa sumber solusi atas segala problematika saat ini adalah Islam kafah. teguh dan konsisten menjadikan Islam kafah sebagai sumber solusi atas segala problematika kehidupan.

Keluarga muslim juga harus menegaskan bahwa jika kita mengaku mencintai Allah dan Nabi Muhammad saw. Maka, kita juga harus mencintai syariat-Nya dengan menjalankan syariat Islam secara keseluruhan bukan hanya sebagian saja.

Wallahu a'lam bishshawwab.

 
Top