Oleh: Siti Aisyah, S.Pd

(Pegiat Literasi Muslimah Papua) 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu mengumumkan pergantian (reshuffle) kabinet. 

Pergantian ini terjadi karena adanya kekosongan yang terjadi di beberapa menteri di kabinet Indonesia Maju. Dua menteri di kabinet Jokowi tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setidaknya ada dua kursi menteri harus diisi lewat pergantian. Tidak hanya itu, Jokowi juga mengisi posisi yang ditinggal pejabatnya. 

Ada enam posisi menteri yang sekakigus diganti oleh Jokowi. Keenam menteri tersebut yaitu:

1.Menteri Perdagangan diisi oleh 

Muhammad Lutfi

2.Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif diisi oleh Sandiaga Salahudin Uno

3.Menteri Sosial diisi oleh Tri Rismaharini

4.Menteri Agama oleh Yaqut Cholil Qoumas

5.Menteri Kelautan dan perikanan diisi oleh Sakti Wahyu Trenggono

Itulah keenam menteri baru yang diangkat oleh Presiden Jokowi dalam kabinetnya (kompas,  22/12/2020).

Pergantian menteri ini bertujuan agar Indonesia bisa lebih baik lagi kedepannya. Serta dapat menyelesaikan permasalahan yang tidak berkesudahan. Ada yang menarik disini, Presiden Jokowi mengangkat menteri dari kubu oposisi yaitu Sandiaga Uno sebagai menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Padahal kita ketahui bersama, Sandiaga Uno adalah lawannya di Pemilihan presiden 2019 lalu.Akankah Indonesia akan lebih maju kedepannya? 

Tak dapat dipungkiri, kinerja para menteri di era Jokowi memang kerap mendapatkan raport merah. Rushuffle dalam kabinet Jokowi bukan hanya terjadi ini saja. Sebelumnya Jokowi juga pernah merombak kabinetnya pada periode pertama masa jabatannya. Namun pada kenyataannya tidak membuat Indonesia lebih baik lagi. Indonesia tetap saja tertinggal dan terpuruk di segala bidang. 

Menurut Ubaidilah Badrun, Analisis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta ( UNJ) sebenarnya masih ada tiga menteri di kabinet Indonesia Maju yang mempunyai catatan raport merah tetapi masih dipertahankan oleh Jokowi saat pergantian kabinet. Misalnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan .Menurutnya tidak menunjukkan  kemajuan sesuai janji-janji soal investasi. 

Sementara Menteri keuangan Sri Mulyani, menurutnya juga perlu diganti karena angka pertumbuhan ekonomi yang terus merosot. Adapun menteri dan kebudayaan, Nadiem Makariem, dia menyinggung masalah kurikulum yang bikin gaduh (Cnnindonesia, 23/12/2020).

Begitulah kondisi yang sebenarnya terjadi di Kabinet Jokowi. Program atau Visi misi yang sudah dirancang begitu sempurna untuk 5 tahun kedepan. Namun pada prakteknya rakyat tetap saja bekum sejahtera. Bahkan program -program tersebut justru menambah masalah baru yang tidak berkesudahan. Misalnya program Menteri Sosial dalam Bantuan Sosial untuk mengatasi pandemi Covid -19 justru bantuan itu dikorupsi oleh menterinya sendiri. 

Begitu juga program untuk mensejahterakan para petani, justru pemerintah lebih memilih ekspor bahan pangan sehingga hasil pertanian dal negeri tidak laku dinpasaran. Adapun program dalam mensejahterakan para nelayan, justru Menterinya tertangkap tangan KPK menerima suap untuk menjual bayi lobster ke luar negeri. Lebih parah lagi di bidang keuangan negara atau Menteri keuangan yang baru baru ini menambah hutang luar negeri untuk mengatasi pandemi Covid -19.

Ini sangat ironis, hutang luar negeri kita semakin bertambah besar. Mengapa negara tidak mengelola Sumber Daya Alam yang melimpah ini dan memanfaatkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Justru menjualnya kepada Asing. Sehingga rakyat tidak sejahtera dan untuk menstabilkan keuangan negara malah mengambil hutang dari negara lain. 

Permasalahan yang terjadi di Indonesia tidak akan bisa terselesaikan. Karena ini adalah permasalahan yang sifatnya sistemik. Maka penyekesaiannya juga harus bersifat sistemik, tidak bisa bersifat parsial atau tambal sulam. Tapi kita harus menuntaskannya dari akarnya. 

Akar masalah dari semua permasalahan ini karena Indonesia saat ini menerapkan sistem demokrasi kspitalis. Di dalam sistem ini, hanya orang -orang yang memiliki modal besar(kapital) yang sejahtera. Para kapital ini bekerjasama dengan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan publik. Sehingga terjadilah kerjasama yang sangat menguntungkan antara penguasa dan pengusaha (kapital). Para kapital inilah yang mensetir pemerintahan agar sesuai dengan kehendak mereka, dan juga menguntungkan mereka tanpa memperhatikan kesejahteraan untuk rakyat. 

Didalam sistem kapitalis ini, rentan sekali para pejabat terseret  kasus korupsi. Suap menyuap antar pejabat sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Ini dudah dianggap biasa di kalangan mereka. Bukan lagi hal yang tabu yang harus ditutupi karena dosa. Ditambah lagi dengan para pejabat atau keluarganya yang hidup hedonis dan bermental korup. Maka korupsi mudah sekali terjadi, bshkan sangat halus sehingga tidak di sadari mereka terjerumus didalamnya. Sistem ini membuat orang alim menjadi dzalim jika sudah masuk kedalamnya.lbaratnya malaikatpun akan menjadi iblis.Naudzubillah.. 

Adapun dengan diangkat Sandiaga Uno dalam kabinet Jokowi ini. Inilah sebenarnya wajah demokrasi. Dimana tidak ada lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan pribadi. Dulu lawan sekarang kawan. Dulu benci sekarang sayang. Begitulah demokrasi. Dalam memenuhi kepentingannya apapun akan dilakukan. Bukankah disini tidak ada aturan yang baku yang berlaku, tapi aturan yang dibuat sendiri oleh manusia sesuai nafsu dan kepentingan dirinya ysng selalu berganti.Jadi sah  sah saja dalam hal ini. Karena tidak ada aturan yang dilanggar. 

Oleh sebab itu sebagai orang yang beriman kepada Allah Swt dan hari akhir. Sudah saatnya kita campakkan Demokrasi ini. Kita terapkan sistem yang berasal dari Sang Khalik, pencipta manusia dan juga yang mengatur kehidupannya yaitu Allah Swt. Karena berapa kalipun ganti menteri, tetap saja tidak akan terjadi perubahan yang lebih baik. Ibarat sebuah mobil yang sudah rusak, maka yang harus diganti mobilnya bukan supirnya. 

Begitu juga sistem demokrasi kapitalis ini adalah sistem yang rusak dan menbuat kerusakan di muka bumi ini. Allah berfirman yang artinya:

"Telah nampak kerusakkan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. " (TQ. S Ar-rum : 41).

Dalam ayat ini Allah Swt menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di muka bumi ini adalah akibat perbuatan atau maksiat yang dilakukan oleh manusia. Setiap perbuatan yang melanggar perintah Allah Swt dikatakan maksiat, dan maksiat yang lebih besar adalah mencampakkan hukum Allah Swt dan membuat hukum sendiri seperti yang terjadi dalam sistem demokrasi. Dimana rakyatlah yang memegang kedaulatan sehinga dikatakan suara rakyat suara tuhan. Padahal ysng berhak dalam membuat hukum hanya Allah Swt. Mana mungkin manusia mau menyaingi penciftanya. Inilah kemaksiatan yang paling besar di muka bumi.

Oleh karena itu marilah kita kembali kepada jalan yang benar yaitu islam. Kita terapkan islam dalam kehidupan sehari hari dengan berislam secara kaffah(keseluruhan) dengan sistem yang yang benar, sesuai fitrah dan menentramkan jiwa dalam sistem islam yang diterapkan secara kaffah dalam bingkai Khilafah menuju perubahan hakiki. 

Wallahu a'lam bishawab

 
Top