Peta Jalan Pendidikan dalam Islam


Oleh : Verawati, S.Pd

(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan) 


“Muliakanlah anak-anakmu dan perhatikanlah pendidikan mereka, karena anak-anakmu sekalian adalah karunia Allah kepadamu." (HR. Ibnu Majah)

Hadis Nabi Muhammad saw. di atas adalah salah satu hadis yang memerintahkan para orangtua dan negara sebagai pengatur rakyat untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Hadis ini telah diterapkan oleh umat muslim terdahulu dan juga penguasanya yang begitu memperhatikan pendidikan. Sehingga lahirlah orang-orang alim/ilmuan hebat yang hingga hari ini ilmunya sangat bermanfaat. Seperti Ibnu Sina, Al-Farabi dan masih banyak yang lainnya. Selain dikenal sebagai ilmuan mereka juga dikenal sebagai pribadi taat beribadah dan memahami Islam. Dengannya negara Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. 

Barangkali mereka adalah tokoh yang mewakili keberhasilan Islam dalam dunia pendidikan. Sangat berbeda jauh kondisinya saat ini khususnya di negara tercinta Indonesia. Berbagai persoalan mulai dari input, proses dan output pendidikan masih terus mengalami persoalan terlebih ketika ada wabah Covid-19 saat ini. Dunia pendidikan hampir lumpuh bahkan saat ini bisa dikatakan darurat pendidikan. Kasus yang membuat hati miris adalah adanya anak yang dibunuh oleh orangtuanya akibat kesulitan dalam belajar daring.  Kelemahan pendidikan saat ini menunjukkan lemahnya sistem demokrasi-kapitalisme yang diterapkan di negeri ini dalam mengurus negara. Meski sudah melewati 75 tahun kemerdekaan, namun belum merdeka belajar. 

Untuk menyelesaikan problem yang ada. Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadim Makarim menyampaikan idenya yaitu peta jalan pendidikan. Dilansir media itjen.kemdikbud.go.id, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim,  memaparkan Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 pada rapat kerja (raker) dengan Komisi X DPR RI, di Jakarta, pekan lalu. Dalam kesempatan itu, Mendikbud menyampaikan gagasan untuk meningkatkan hubungan mahasiswa dengan dunia kerja melalui program Kampus Merdeka. Program tersebut memberi peluang sebesar-besarnya kepada mahasiswa diberi peluang yang sebesar-besarnya untuk belajar di luar program studi selama tiga semester, salah satunya dengan berwirausaha.

Akan tetapi, ide peta jalan pendidikan ini masih pro kontra. Kontra datang dari ormas-ormas keagamaan di antaranya adalah PBNU. Dilansir oleh media jpnn.com (13/01/2021), Pihak PBNU juga mengkritisi peta jalan pendidikan 2020-2035 yang dianggap hanya berorientasi kepada wilayah perkotaan. “Bahwa peta jalan yang disusun hanya dari perspektif kelas menengah dan kota, belum bisa menjawab persoalan Pendidikan di level grassroot, pedalaman,” ujar Sekertaris Lembaga Pendidikan Maarif PBNU, Iklila Muzayyanah.

Dari sini bisa kita lihat hingga hari ini arah pendidikan saja masih diperdebatkan. Arah pendidikan adalah salah satu persoalan fundamental. Fundamental karena berkaitan dengan asas ideologi. Peta jalan ini ditujukan untuk menentukan seperti apa rancang bangun atau profil sumber daya manusia Indonesia akan dibentuk. Maka jika kita lihat dari arah pendidikan yang sedang dicanangkan saat ini adalah arah yang berasas pada kapitalis. Mendisain profile pendidikan hanya untuk menciptakan lulusan untuk disiapkan menjadi pekerja atau buruh pabrik semata. Menurut Francis Wahono (dalam Komara, 2012), kapitalisme pendidikan merupakan arah pendidikan yang dibuat sedemikian rupa sehingga pendidikan menjadi pabrik tenaga kerja yang cocok untuk tujuan kapitalis tersebut.

Jelas dengan disain seperti ini pendidikan hanya akan menciptakan pelajar yang hanya mengejar secarik kertas ijazah, manusia yang hanya berpikir keuntungan materi semata dan jauh dari tujuan menuntut ilmu itu sendiri yakni menjauhkan dan menghilangkan kebodohan dan menjadi manusia yang bermanfaat dengan ilmunya. Ujungnya adalah akan menjadikan bangsa ini tetap dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Lebih dari itu, akan menjauhkan pelajar dari nilai-nilai agama dan tertanamnya ide sekularisme itu sendiri.

Beda halnya dengan pandangan dalam Islam. Islam memandang bahwa pendidikan bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam. Yakni memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Mereka akalnya dipenuhi dengan pemahaman-pemahaman Islam dan memiliki sikap, sifat dan adab yang mulia. Selain itu, mempersiapkan pelajar menjadi ulama-ulama atau ilmuwan-ilmuwan yang ahli di setiap aspek kehidupan baik ilmu keislaman maupun ilmu terapan. Ulama-ulama yang membawa negara Islam dan umat Islam menempati posisi puncak di antara bangsa-bangsa. Bukan sebagai negara yang dijajah, pengekor maupun menjadi agen pemikiran dan ekonomi negara lain. 

Negara Khilafah akan menjamin pelaksanaan pendidikan secara berkualitas dan gratis untuk seluruh penduduk. Guru dan pelajar akan mendapatkan perhatian khusus. Sehingga mereka akan fokus dalam mengajar dan belajar. Negara juga  menciptakan lingkugan yang mendukung terhadap keberhasilan pendidikan baik keluarga, lingkungan masyarakat dan negara. Semua pembiayaan pendidikan akan diambil negara dari kas baitul mal yang sumber pendapatannya diambil dari harta negara ataupun dari kepemilikan umum.  

Demikian pandangan pendidikan dalam Islam. Pastinya pandangan ini tidak bisa diterapkan dalam bingkai negara demokrasi-kapitalisme, melainkan hanya dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh dalam aspek kehidupan. Maka sudah saatnya kita tinggalkan demokrasi-kapitalisme dan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan tegaknya Daulah Khilafah.

Wallahu a'lam bishshawab.