Oleh: Ramlah Yuliandari, S. E

(Aktivis dakwah)

Berbicara tentang perubahan maka ini sangat dekat kaitannya dengan kesadaran. Oleh karena itu kita harus bisa merasakan terlebih dahulu kondisi saat ini sehingga kita bisa membahas perubahan bagaimana yang harus kita lakukan.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Ruum ayat 41 yang artinya :"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".


Dalam Quran surat Ar-Ruum ayat 41 Allah Swt sudah menunjukkan kepada kita bahwa kerusakan-kerusakan itu sebenarnya sudah sangat dekat dengan kita. Bagaimana penerapan hukum yang tebang pilih. Misalkan penyikapan aparat atas  kasus yang melibatkan ulama terkemuka, sang ulama disebut-sebut terjerat kasus karena pelanggaran PSBB. Di sisi lain kerumunan yang terjadi di Solo dibiarkan tidak ada tindakan hukum sama sekali.

Ada lagi kisah ulama yang sudah “sepuh”, kondisi beliau saat ini pun sering sakit-sakitan. Namun, beliau tetap berada dalam tahanan penjara dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada didalamnya, kondisi ini berbeda dengan para koruptor yang mendapatkan pelayanan yang istimewa dengan fasilitas seperti hotel berbintang


Di sisi lain, kriminalitas semakin meningkat. Masih ingat kisah seorang bocah pahlawan yang meninggal karena berusaha melindungi ibunya dari pemerkosaan. Pelaku yang notabene ternyata mantan pembunuh dan akhirnya dipenjara. Ternyata dapat keluar dari penjara karena program remisi pemerintah saat wabah Corona. Fakta ini sesuai dengan slogan mengatasi masalah dengan masalah. Bukannya tuntas malah menambah panjang masalah kriminalitas yang terjadi


Belum lagi Covid-19 yang belum tuntas terus korupsi yang semakin merajalela, kerusakan sosial yang seolah tidak pernah selesai, kriminalitas ulama dll


Akar Masalah


Kerusakan-kerusakan yang terjadi saat ini adalah buah penerapan sistem demokrasi yaitu menjadikan sekularisme sebagai asasnya. Yakni paham yang memisahkan agama dari dari kehidupan


Dengan konsep ini maka agama tidak boleh ikut campur mengatur permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan beragama dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

Agama hanyalah ruang privasi yang digunakan hanya untuk kepentingan pribadi. Sementara undang-undang untuk mengatur pemerintahan dibuat oleh manusia dengan segala akal terbatasnya dan dengan segala kelemahannya.


Selain itu dalam demokrasi kekuasaan berada di tangan rakyat.

Pengambilan keputusan disandarkan padq suara mayoritas tanpa memandang benar atau salah. 


Demokrasi Tidak Kenal Halal Haram


Sayangnya sebagian umat Islam masih memandang bahwa demokrasi adalah sistem politik terbaik yang bebas nilai. Hingga mereka berpikir, bahwa demokrasi bisa tetap diadopsi dan diperjuangkan lantaran di dalamnya ada kebaikan-kebaikan.


Padahal dari pemikiran dasar dan sejarah kelahirannya demokrasi sangat bertentangan dengan Islam. Karena selain mengagungkan prinsip kebebasan mutlak, demokrasi juga tegak di atas asas sekularisme yang menyingkirkan agama dari kehidupan.


Dalam hal ini, demokrasi memandang urusan moral, agama dan keyakinan sebagai wilayah privat. Negara wajib angkat tangan saat semua urusan itu tak mengganggu hak-hak publik.


Maka dalam praktiknya, kebaikan dan keburukan, disandarkan pada suara rakyat dengan prinsip suara terbanyak. Padahal suara terbanyak dari rakyat standarnya adalah akal (manfaat) yang faktanya sangat relatif dan subjektif, dan bukan agama (wahyu/Islam).


Itulah kenapa dalam sistem demokrasi, praktik riba, pornoaksi, pornografi, babi dan minol yang jelas-jelas haram dalam Islam, justru bisa jadi legal. Yakni ketika mayoritas rakyat di parlemen dan penguasanya menghalalkannya berdasar kesepakatan.


Sementara ajaran jihad, khilafah atau dakwah Islam kafah yang merupakan bagian dari Islam bisa dipandang haram. Yakni jika mayoritas masyarakat dan penguasanya sepakat mengharamkan dan memandangnya sebagai sebuah keburukan.


Kebebasan yang diagungkan demokrasi juga telah membuat propaganda kekufuran, seruan-seruan pada tindak amoral dan penghinaan terhadap agama begitu merajalela. Sementara negara, hanya siap mengatur, jika kebebasan itu beririsan dengan kekuasaan mereka.


Kembali kepada Islam


Realitas demokrasi yang sedemikian tentu bersebrangan dengan Islam. Islam jelas menolak paham sekularisme dan kebebasan. Karena Islam tegak di atas keyakinan bahwa keimanan mengharuskan kehidupan terikat dengan aturan Islam.


Maka seluruh aspek kehidupan, wajib diatur dengan syariat Islam. Termasuk aspek politik yang menjadikan kekuasaan justru sebagai satu-satunya metoda penerapan Islam. Justru penerapan Islam inilah yang akan mencegah segala bentuk keburukan yang justru terbuka lebar dalam sistem sekuker demokrasi kapitalis neoliberal.


Negara dalam sistem Islam akan berperan sebagai pengurus dan penjaga bagi seluruh rakyat. Bukan pengurus dan penjaga para pemilik modal. Karena negara dalam sistem Islam tegak di atas baiat rakyat, bukan di atas sokongan para pemilik modal.


Hanya saja meski rakyat adalah pemilik kekuasaan dan sumber baiat bagi penguasa, negara dalam Islam bukanlah budak bagi rakyat, karena hukum yang ditegakkannya bukan hukum buatan rakyat, tapi hanya lah hukum Allah Swt.


Justru dengan hukum Allah inilah, negara atau penguasa akan mampu mengurus dan menjaga rakyatnya dengan penuh kebaikan dan keadilan. Dan dengan hukum-hukum Allah yang ditegakkannya, negara pun akan mampu mencegah segala bentuk kerusakan dan kezaliman.

Tidak kah kita rindu hidup dalam kondisi hidup dalam koridor aturan-Nya? Yang telah terbukti mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Wallahu a'lam

 
Top