Oleh : Dra. Rivanti Muslimawaty, M.Ag. 

Dosen di Bandung 


Di penghujung masa jabatannya, Bupati Bandung Dadang M. Naser kembali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat. Kali ini melalui beragam inovasi pelayanan publik, ia mendapatkan Innovative Government Award (IGA) 2020 untuk kategori kabupaten sangat inovatif, dari Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri). (BandungKita.id, 21/12/20)

Bupati mengatakan, berbagai prestasi yang diraih tidak lepas dari peran aktif para ibu di berbagai bidang, baik sebagai eksekutor maupun motivator. Banyak ibu yang menjadi pejabat di Kabupaten Bandung, termasuk bidang perekonomian, sektor UMKM juga didominasi ibu-ibu. “Makanya, ibu sangat berperan dalam mendorong perekonomian Kabupaten Bandung, meningkatkan kualitas SDM dan IPM. Itu tak lepas dari dukungan ibu-ibu yang selalu memberikan motivasi atikan dan didikan,” ujar Dadang.

Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, Dadang menyebutkan betapa pentingnya peran seorang ibu dalam melindungi keluarga dari keterpurukan ekonomi dan kesehatan suami dan anak-anaknya. Sebetulnya, lanjut Dadang, peran ibu sejak dulu sampai sekarang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kalau dulu para ibu atau perempuan itu memperjuangkan kesetaraan gender, seperti yang dilakukan R. A. Kartini dan Raden Dewi Sartika. Namun, saat ini kesetaraan gender itu sudah ada, tinggal bagaimana memperjuangkan penegakan hak-haknya. (dara.co.id, 2/12/20)   


Apresiasi Bupati terhadap peran ibu dalam peningkatan

IPM (Indeks Prestasi Manusia) maupun peran tangguh ibu dalam membantu suami di masa pandemi ini, sebenarnya tidak ada kaitan dengan kesetaraan gender. Hal ini karena sebagai sebuah ide, kesetaraan gender sejatinya hanyalah sebuah ilusi karena bertentangan dengan kodrat manusia. Secara fitrah, laki-laki dan perempuan diciptakan Allah Swt. tidak sama, sehingga masing-masing memiliki tugas khusus sesuai dengan kodratnya tersebut. Memaksakan perempuan menjalani tugas laki-laki –seperti mencari nafkah dan menjadi pemimpin dalam hirarki pemerintahan- akan memberikan beban ganda kepada perempuan. Beban ganda ini selain akan memperberat hidup perempuan, juga akan memberikan dampak buruk bagi anak-anak, sehingga peran perempuan sebagai ibu generasi akan terabaikan. Akibatnya, anak-anak akan tumbuh tanpa bimbingan dan sangat potensial melakukan berbagai kenakalan remaja, sebagaimana yang ditunjukkan oleh berbagai penelitian maupun yang terindra dalam fakta sehari-hari.

"Islam memandang perempuan dan laki-laki sebagai bagian dari umat manusia yang memiliki berbagai naluri dan kebutuhan jasmani yang sama. Kaum laki-laki maupun perempuan adalah makhluk Allah Swt. yang memiliki kedudukan yang sama." (QS. ‘Ali Imran [3]: 195)

"Keduanya memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt." (QS. adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Tatkala hak dan kewajiban bersifat manusiawi (insaniyah), yaitu ketika pertanggungjawaban berhubungan dengan kemanusiaan laki-laki dan perempuan, maka di saat itu dijumpai persamaan hak dan kewajiban yang tidak berbeda maupun bertentangan. Berdasarkan ini maka tidak ada perbedaan dalam hal kewajiban da’wah, ibadah, berakhlak mulia, mu’amalah, 'uqubat, maupun mencari ilmu. Hak dan kewajiban mereka akan berbeda bila berkaitan dengan fitrah mereka sebagai laki-laki atau perempuan, yang menyebabkan mereka memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan.  Sebagai misal, kaum perempuan akan terkena hukum mengandung dan menyusui, sedangkan laki-laki tidak. Hal ini karena hanya perempuanlah yang memiliki rahim, yang akan menjadi tempat tumbuh kembangnya calon manusia baru. Perbedaan ini tidak menjadikan perempuan lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki, karena dalam Islam kemuliaan manusia terletak pada ketakwaannya kepada Allah (TQS al-Hujurat [49]; 13). Perbedaan hukum ini justru menjamin terwujudnya peran masing-masing sesuai dengan kodratnya. 

Islam juga menetapkan negara (khilafah) menjadi pengatur urusan umat, yang wajib memenuhi kebutuhan umat, baik laki-laki maupun perempuan. Khilafah menerapkan syari’at Islam secara _kaaffah_ (utuh-menyeluruh) dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini menjadikan perempuan dimuliakan, karena ditempatkan pada posisi yang sebenarnya yaitu kemuliaan. Penerapan syari’at oleh khilafah akan mewujudkan kesejahteraan dan kemuliaan bagi perempuan. Sejarah panjang kaum muslim telah membuktikannya. Janganlah kita meragukannya.

Wallaahu a’lam bi ashshawaab.

 
Top