Peminum Diperangi, Penjual Disayangi


Oleh : Tati Ristianti


Hati siapa yang tidak merasa pilu, ketika mendengar berita yang mengabarkan sudah puluhan nyawa melayang akibat mencekek botol minuman Keras ini, belum lama ini, aksi warga Banjaran turun ke jalan untuk perangi miras, mewakili masyarakatnya, para ketua RW, Kepala Dusun, tokoh masyarakat, agama dan para pemuda Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung. Yang untuk kedua kalinya kembali turun ke jalan memasang spanduk Anti Miras, mereka memasang spanduk tidak hanya di dekat toko yang menjual miras, tapi juga di gang-gang atau tempat strategis lainnya.

Apa yang mereka perjuangkan agar di wilayah desa Banjaran Wetan benar-benar bebas dari miras, peredaran dan penjualan. Tokoh masyarakat lainnya, H. Dadan Permana, bahkan tegas meminta pihak aparat berwenang tidak hanya melakukan razia saja, tapi memproses kasus penjualan miras ini hingga ke pengadilan, "Kami mendorong dan berharap, gerakan warga ini tidak direspon aparat hanya dengan razia saja, tapi hingga proses hukum ke pengadilan, agar kasusnya tuntas, masyarakat tenang dan mendapatkan kepastian,” tegasnya. (Dejurnal.com)

Sikap aksi tersebut bukan hal yang baru artinya lagu yang lama, setelah ramai di media, peredaran dan peminum minol sudah sangat membahayakan generasi muda atau berbagai kejahatan yang dipicu oleh miras, pembunuhan, kekerasan seksual, penyiksaan dan kejahatan yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Barulah masyarakat mulai bahu membahu perangi miras dan obat terlarang, manakala sudah aman tentu mereka akan mulai lagi berjualan bahkan sudah puluhan tahun mereka berbisnis Miras.

Inilah sistem Demokrasi yang minim akan solusi, Berharap pada sistem Demokrasi merupakan hal yang sangat mustahil bisa menuntaskan peredaran dan penjualan miras ini. RUU Minol dibuat hanya sebatas larangan, pengendalian, pengawasan, namun di antara banyak pendapat pemerintah ingin minuman beralkohol tidak dilarang sepenuhnya melainkan hanya perlu diawasi dan diatur peredaran dan penjualannya, di samping itu dengan adanya UU Minol akan menghambat investasi.

Miras dan obat terlarang akan bisa dihilangkan jika didukung oleh tiga komponen; ketakwaan individu, penerapan aturan oleh negara, dan sanksi yang memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan. Dengan pandangan seperti ini, ketakwaan individu seorang muslim senantiasa mengikatkan dirinya dengan Islam, dengan sekumpulan aturan perintah dan larangan-Nya. Sementara negara sebagai ra'in (pengurus urusan rakyat) dan junnah (pelindung sekaligus penjaga rakyat).

Oleh karena itu dalam sistem Islam,  peredaran miras dan narkoba dan sejenisnya akan ditutup dengan rapat. Yaitu dengan melibatkan peran negara (khilafah) di dalamnya. Dengan sikap tegas negara dalam menjalankan perannya maka ini adalah cara yang efektif untuk mencegah dan menjaga seluruh warga negara agar terhindar dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan mengonsumsi miras dan narkoba.

Langkah yang dilakukan oleh negara dalam sistem Islam antara lain:

Pertama, dengan melakukan edukasi atau pembinaan terhadap masyarakat, baik dalam bentuk pendidikan formal atau kajian-kajian dan ceramah umum. Semua itu ditujukan dalam rangka menanamkan iman dan kepribadian Islam pada diri mereka. Dengan keimanan yang kuat seseorang akan  dapat senantiasa mengontrol dan menjaga tingkah lakunya. Karena kontrol yang utama selain dari masyarakat dan negara bagi setiap muslim adalah dirinya sendiri.

Kedua, negara berusaha mewujudkan lingkungan yang kondusif dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah Swt., yaitu dengan cara mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan amar makruf nahi mungkar. Sebab, betapapun besarnya keimanan seseorang ia tetap mungkin terpengaruh oleh lingkungannya.

Oleh karena itu, negara bertugas sebagai junnah atau perisai yang akan menjaga  masyarakat agar tetap menjadi masyarakat yang baik, sekaligus mampu menjadi pengontrol perilaku setiap individu-individunya.

Ketiga, penerapan hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pemberlakuan sistem persanksian (nizhamul ‘uqubat) bagi pelaku pelanggaran. Dalam hal miras dan narkoba, Islam akan menerapkan sanksi tegas bagi yang mengonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya. Karena semua itu termasuk tindak kejahatan yang layak dikenakan sanksi ta'zir terhadap perbuatan tersebut. Bentuk, dan jenis, sanksinya pun ditetapkan sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukan.

Sanksi bagi pelakunya bisa berupa diekspos di depan umum, dipenjara, dikenakan denda, dicambuk, bahkan sampai dihukum mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahaya bagi masyarakat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa." (QS. al-Baqarah : 179)

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Nash Al-Qur'an dan Hadis Nabi:

"Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)." (TQS. al-Maidah : 91) 

Rasulullah saw. juga pernah bersabda, yang artinya: "Rasulullah saw. mengutuk sepuluh orang yang karena khamr; pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan hasil penjualannya, pembelinya dan pemesannya.”(HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Wallahu a'lam bishshawab.