Pemaksaan Hijab Terhadap Nonmuslim, Benarkah Islam Intoleran?


Oleh : Hamsina Halisi Alfatih


Baru-baru ini publik kembali dihebohkan dengan isu intoleransi. Polemik intoleransi yang digembar-gemborkan sebenarnya bukan terjadi kali ini saja, tetapi sudah terjadi beberapa tahun silam. Namun isu toleransi yang diangkat ke tengah publik beberapa hari ini seolah mendiskriminasikan Islam dan menuduh bahwa Islam sangat intoleran terhadap nonmuslim.

Seperti yang dilansir oleh laman kompas.com (24/1/2021), menyebutkan polemik intoleransi bermula saat sebuah video yang memperlihatkan percakapan antara orang tua murid dengan pihak SMKN 2 Padang terkait adanya kewajiban memakai jilbab di lingkungan sekolah viral di media sosial pada Jumat, (23/1/2021). Dalam video itu, terdengar orang tua murid tengah menjelaskan bahwa ia dan anaknya merupakan nonmuslim, sehingga ia meminta toleransi kepada pihak sekolah untuk tidak menggunakan jilbab.

Namun menurut pihak sekolah bahwa tidak ada paksaan bagi siswi nonmuslim untuk menutup auratnya. Semenjak beredarnya video tersebut, ramai-ramai pejabat publik angkat suara atas permasalahan tersebut termaksud Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Menanggapi polemik intoleransi perihal pemaksaan jilbab terhadap siswi nonmuslim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pun mengancam akan memecat pihak yang menerapkan kewajiban jilbab bagi nonmuslim itu. (Cnnindonesia.com,28/01/21)

Bahkan Menko Polhukam Mahfud MD tak tinggal diam terkait viralnya kasus siswa nonmuslim yang dipaksa pakai jilbab di SMK Negeri 2 Padang. Beragam reaksi yang ditunjukkan pejabat publik terkait polemik intoleransi penggunaan jilbab bagi nonmuslim seolah tidak bersinergi ketika adanya siswi muslim yang didiskriminasi untuk tidak menggunakan jilbab di sekolah. 

Jika di Padang heboh karena  penggunaan jilbab bagi nonmuslim, justru 2014 lalu adanya kasus pelarangan menggunakan jilbab bagi siswi muslim di Bali. Berkaca dari dua kasus di atas justru menimbulkan pertanyaan, mengapa isu intoleransi lebih diarahkan kepada Islam? Seolah-olah Islam itu keras dan tidak intoleran terhadap nonmuslim.

Padahal jika kita flashback di beberapa kejadian, justru Islam selalu didiskriminasi dari setiap ajaran yang dibawanya. Lalu apakah Islam seintoleran itu? Mengapa Islam selalu tersudutkan dan justru yang melakukannya adalah orang-orang yang mengaku muslim.

Inilah pokok permasalahan yang sebenarnya, ketika sekularisme-liberal melahirkan orang-orang fasik munafik yang memusuhi agamanya serta ajarannya. Padahal Islam merupakan agama yang membawa rahmat serta ajaran yang mampu membawa maslahat serta kebaikan ke tengah umat. Namun, dalam sekularisme-liberal agama benar-benar dipolitisasi oleh oknum yang tak lain pejabat publik di negeri ini.

Sungguh disayangkan, mereka selaku pemegang kekuasaan yang seharusnya mendukung penerapan ajaran Islam, termaksud penggunaan jilbab di lingkungan sekolah justru mempolitisasinya dan menjadikan Islam sebagai agama intoleran. Lantas bagaimana perlakuan Islam terhadap nonmuslim dari segi pengaturan pakaian? 

Dalam aturan Islam yakni khilafah, nonmuslim diperlakukan dalam perkara makanan dan pakaian menurut agama mereka dalam cakupan apa yang diperbolehkan oleh hukum-hukum syariah. Asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, Amir Hizbut Tahrir menjelaskan ada dua batasan dalam penentuan bagi nonmuslim dan muslim dalam berpakaian yaitu:

Batasan pertama, menurut agama mereka. Jadi diperkenankan untuk mereka pakaian sesuai agama mereka. Dan pakaian sesuai agama mereka adalah pakaian agamawan mereka dan agamawati mereka, yakni pakaian rahib dan pendeta dan pakaian rahib wanita. Ini adalah pakaian yang disetujui dalam agama mereka. Maka laki-laki dan wanita mereka boleh mengenakan pakaian ini. Ini berkaitan dengan batasan pertama.

Adapun batasan kedua “apa yang diperbolehkan oleh hukum-hukum syara’. Yaitu hukum-hukum kehidupan umum yang mencakup seluruh rakyat, baik muslim maupun nonmuslim, untuk laki-laki dan wanita.

Jadi pengecualian adalah untuk pakaian sesuai agama mereka.

Adapun selain pakaian agama mereka, maka diberlakukan atasnya hukum-hukum syara’ dalam kehidupan umum. Dan ini untuk laki-laki dan wanita.

Pakaian ini dijelaskan secara rinci di Nizham al-Ijtima’iy. Hal itu berlaku atas seluruh individu rakyat, muslim dan nonmmuslim. Tidak dikecualikan untuk nonmuslim kecuali pakaian sesuai agama mereka seperti yang telah disebutkan di atas. Sedangkan selain itu, maka wajib menutup aurat dan tidak bertabarruj, dan mengenakan jilbab dan kerudung. Karena celana panjang termasuk tabarruj, maka tidak boleh bagi wanita mengenakannya dalam kehidupan umum, hingga meski itu menutup aurat.

Adapun tentang fakta sejarah, maka sepanjang masa khilafah, para wanita baik muslimah maupun nonmuslimah, mereka mengenakan jilbab, yakni pakaian yang luas di atas pakaian dalam dan mereka menutupi kepala mereka. Sebagian kampung yang di situ ada wanita muslimah dan nonmuslimah, pakaian mereka tidak bisa dibedakan hingga setelah hancurnya khilafah. Pengaruh hal itu masih ada sampai pada batas tertentu. 

Jadi sudah sangat jelas bagaimana perlakuan Islam/khilafah terhadap non muslim baik dari segi makanan hingga pakaian mereka. Tidak ada pelarangan terkait tata cara berpakaian mereka, hanya saja ketika berada di negara khilafah mereka (nonmuslim) harus mengikuti kaidah hukum syara' terkait tata cara berpakaian yang menutup aurat. Wallahu a'lam bishshawab.