Oleh : Ike Marliana

(Pemerhati Sosial dan Remaja)


Ahli epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman mengimbau pemerintah untuk meningkatkan upaya pencegahan corona dengan mengubah perilaku masyarakat dari 3M menjadi 5M.

Dicky menyebut 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan) tidak lagi cukup karena pandemi semakin parah, perlu ditambahkan Membatasi Mobilitas dan Menjauhi Kerumunan sehingga menjadi 5M.

"Kita tidak bisa lagi 3M harus menjadi 5M, ditambah membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan atau keramaian, dua hal ini masalah mobilitas dan kerumunan ini sangat terasa kontribusinya dalam menyebabkan terjadi banyak infeksi," (Suara.com, 4/1/2021)

Berkaca dari libur panjang akhir tahun kemarin, Dikcy menilai Indonesia tidak belajar dari dua libur panjang sebelumnya yang mengakibatkan lonjakan kasus corona. "Kita sekali lagi tidak belajar dari kejadian sebelumnya, dimana kita tahu bahwa mobilitas penduduk yang tinggi menimbulkan kerumunan ini terbukti dalam riset studi epidemiologi terakhir memicu ledakan kasus memperburuk pandemi," jelasnya.

Dia memperkirakan jumlah pasien positif Covid-19 akan meroket 40 persen akibat libur panjang Natal dan Tahun Baru. "Potensi peningkatannya 40 persen setidaknya untuk Indonesia pasca libur panjang termasuk Pilkada, ini bersinergi bisa naik 40 persen," ungkap Dicky.

Dicky meminta kepada seluruh masyarakat yang nekat berlibur pada akhir tahun kemarin, agar mengisolasi diri mandiri di rumah selama dua pekan untuk memantau kondisi kesehatan mereka. "Ini harus dipantau, buatlah sistem yang bisa memantau siapa yang baru pulang dari berlibur, perkantoran, pabrik yang mempekerjakan pegawai yang libur ini termasuk pegawai pemerintahan juga harus mengidentifikasi pegawai yang baru berlibur agar diwajibkan bekerja di rumah setidaknya 2 minggu," tutupnya.

Diketahui, berdasarkan data Satgas Covid-19, positivity rate (jumlah hasil positif per jumlah kasus yang diperiksa spesimen) Indonesia saat ini 15,4 persen, terlampau jauh dari standar aman WHO yakni 5 persen. Pandemi Covid-19 telah menginfeksi 765.350 orang di Indonesia sejak Maret 2020, 110.679 di antaranya masih dalam perawatan, 631.937 orang sembuh, dan 22.734 jiwa meninggal dunia. (Suara.com, 4/1/2021)

Begitulah, ketika pemerintah abai dan gagal merespon pada sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang berbasis industrialisasi & komersialisasi. Hal ini mengakibatkan tekanan besar pada sistem kesehatan dan berpengaruh terhadap penyediaan pelayan kesehatan, masyarakat sulit memperoleh pelayanan rumah sakit bahkan mahalnya biaya kesehatan tak sedikit menelan korban sementara itu tekanan tenaga kesehatan semakin berat, semakin nyata puncak kegagalan respon sistem kehidupan sekularisme kapitalisme ditandai dengan pengarusan agen new normal oleh PBB ini berakibat fatal membawa dunia pada kondisi psikologis dan tindak aksi menormalkan sesuatu yang nyata-nyata tidak normal.

Berbeda dengan sistem Islam, kepemimpinan di dalamnya menjadi sentral penyelesaian problem keumatan. Penguasa dalam Islam benar-benar berfungsi sebagai pengurus dan penjaga umat, yang pertanggungjawabannya tak hanya berdimensi dunia saja, tapi juga berdimensi akhirat.

Penguasa Islam tak mungkin abai terhadap satu pun nyawa satu pun manusia. Sebagaimana sistem demokrasi kapitalisme neolib hari ini, yang justru abai bahkan tega mengorbankan ratusan juta manusia.

Penguasa Islam memegang amanah berat, mengurus umat dan menyejahterakan mereka. Yakni dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti pangan, sandang, dan papan. Juga kebutuhan publik mereka seperti pendidikan, keamanan, dan kesehatan.

Semua ini benar-benar diniscayakan, karena Islam memiliki seperangkat aturan, yang jika diterapkan akan mampu menolong para penguasa menunaikan seluruh amanah mereka. Termasuk aturan tentang perekonomian yang membuat negara memiliki modal besar untuk menyejahterakan rakyatnya.

Di luar itu, kepemimpinan Islam pun dipastikan mampu menjadi jawaban atas tantangan kekinian, yaitu kondisi wabah dan krisis lain yang juga bersifat global. Karena kepemimpinan Islam juga bersifat global, satu kepemimpinan untuk semua.

Maka, ketika hari ini wabah tampak begitu sulit diatasi, baik karena menghadapi kondisi dilematis terkait kondisi ekonomi atau karena ada kebijakan berbeda antarpenguasa negeri, atau karena negara-negara adidaya berkompetisi memanfaatkan situasi; dengan kepemimpinan Islam semua itu pasti akan mudah diatasi.

Siapa pun paham, wabah tak akan mengglobal jika sejak awal si sakit segera diisolasi. Begitu pun dengan pintu-pintu penyebarannya, baik di negara atau wilayah asal maupun di wilayah penularan, semuanya juga harus segera dikunci.

Strategi mengunci ini dalam Islam justru merupakan tuntunan syari. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., yang artinya, "Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu ada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya." (HR. Imam Muslim)

Hanya saja, bersamaan dengan proses ini, negara tentu wajib men-support segala hal yang dibutuhkan agar wabah segera dieliminasi. Mulai dari dukungan logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, vaksin, dan lain-lain. Bahkan negara wajib memastikan kebutuhan masyarakat selama wabah tetap tercukupi. Negara atau penguasa tak boleh membiarkan masyarakat menantang bahaya hanya karena alasan ekonomi.

Di sinilah negara akan mengelola sumber-sumber keuangan yang ada, termasuk harta milik umum di kas negara untuk memenuhi hajat hidup masyarakat, khususnya mereka yang terdampak agar kesehatan mereka terjaga dan imunitasnya tinggi. Tentu tanpa iming-iming syarat atau prosedural yang memberatkan.

Edukasi dan riset pun akan di-support penuh oleh negara sebagai manifestasi tanggung jawab kepemimpinan mengurus dan menjaga umat. Keduanya berjalan secara simultan dengan penerapan aturan lain yang semuanya ada dalam kontrol negara.

Terkait edukasi misalnya, negara wajib memastikan tak boleh ada satu pun masyarakat yang tak paham apa yang sedang terjadi, sehingga mereka membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Maka, seluruh kanal media yang dimiliki akan dioptimalkan untuk membangun kesadaran umat ini dengan kesadaran berbasis akidah.

Masyarakat akan terus-menerus diajak berpartisispasi melakukan apa pun yang bisa membantu wabah segera teratasi. Seperti dengan taat menjalankan protokol kesehatan, yang dalam Islam dinilai sebagai bentuk ketaatan pada kepemimpinan.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top