Oleh : Nengani Sholihah

(Pegiat Literasi)


Hampir satu tahun negeri ini dilanda pandemi Covid-19. Berbagai solusi pun dilakukan untuk menekan tingginya angka penyebaran. Mulai dari social distancing, PSBB, PSBM sampai perketat protokol kesehatan. Namun tetap saja menghasilkan tingginya angka positif corona dan kematian. 

Akhir-akhir ini, pemerintah pun mengeluarkan kebijakan baru terkait penanganan pandemi agar tidak menyebar luas yaitu dengan pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat. PPKM merupakan solusi lainnya yang diterapkan di Jawa dan Bali. PPKM pertama berakhir pada tanggal 25 Januari 2021, namun disebabkan masih meningkatnya kasus corona menyebabkan PPKM ini diperpanjang sampai dengan tanggal 8 Februari 2021. 

Kuningan sendiri sebagai kabupaten yang menerapkan PPKM sejak 11 Januari 2021 lalu, kemungkinan akan memperpanjangnya kembali. Dikarenakan pemerintah setempat mendapatkan laporan peningkatan setelah diberlakukannya PPKM. Bupati Acep menyatakan, “Kita mendapatkan laporan masuk setelah ada PPKM justru kasusnya meningkat. Berarti ada penyebabnya atau belum berjalan sebagaimana mestinya, jadi akan lebih diketatkan lagi nanti.” Sebagaimana yang telah dilansir oleh detik.com, Kamis (21/1/2021). 

Berbagai macam program yang diberlakukan untuk menangani penularan Covid-19 nyatanya tidak mampu menekan laju peningkatan kasus. Social distancing atau diam di rumah telah dilakukan oleh sebagian masyarakat, namun hal ini pun tidak efektif dalam mempersempit penyebaran virus. Kemudian pembatasan sosial berskala besar pun diterapkan, hal ini pun tidak mampu menekan peningkatan lajunya kasus positif dan kematian. Banyak masyarakat yang tinggal di kota-kota besar tempat yang terpaparnya virus mulai bosan dan jenuh bahkan perekonomian pun lumpuh. Akhirnya tidak sedikit dari mereka pulang ke kampung halaman demi menyambung hidup yang dikatakan sebagai carier. Hal ini menyebabkan virus menyebar luas. Saat ini PPKM pun dilaksanakan, namun lagi-lagi banyak masyarakat tidak respect terhadap solusi ini. Akhirnya kasus pun semakin meningkat setiap harinya.

Tuntutan kebutuhan yang mendesak mendorong masyarakat untuk tetap beraktivitas seperti biasanya, meskipun resiko yang dihadapi begitu tinggi. Dalam penanganan wabah virus Covid-19 ini, menandakan bahwa pemerintah setengah hati dalam menanganinya. Sejatinya masyarakat pun harus diperhatikan dan dipenuhi kebutuhan ekonominya. Sehingga merasa tenang dengan kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi, meskipun kegiatan mereka terbatas.

Walhasil berbagai program yang disodorkan pun bukanlah sebuah solusi yang tepat dalam menangani wabah pandemi Covid-19. Karena fakta yang berbicara. Tidak adanya jaminan pemenuhan kebutuhan ekonomi dalam menghadapi pandemi. Masyarakat dituntut untuk menjaga penyebaran virus sementara kebutuhannya tidak terpenuhi. Adapun bantuan sosial yang diberikan, nyatanya tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama satu bulan ke depan. Ada sebagian masyarakat yang hanya menerima satu kali bantuan selama pandemi terjadi. Tidak hanya itu, penyaluran bantuan pun banyak yang tidak tepat sasaran. Bahkan dana ini pun dikorupsi secara besar-besaran.

Salah jalan dalam arah pandang yang diambil oleh negeri ini adalah penyebab utama terjadinya karut marut berbagai persoalan yang dihadapi. Bukan ajaran Islam yang dijadikan kiblat oleh negeri ini, melainkan kapitalisme Barat. Sejatinya penanganan wabah ini yang dilakukan dengan cara social distancing hingga PPKM adalah sebuah solusi dari Barat yang tidak sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw. 

Dalam kasus ini Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah kalian memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu berada di tempat itu maka janganlah keluar rumah.” (HR. Muslim). Mengisolasi daerah atau wilayah yang terkena wabah adalah solusi yang tepat. Namun alih-alih ingin menyelamatkan perekonomian, istilah baru pun disematkan, new normal life. Sehingga pada sektor ekonomi dibuka dengan lebar. Dengan terbukanya sektor ini, aktivitas masyarakat pun semakin tidak terkendali. Akhirnya semakin meningkatnya kasus. Padahal dengan cara mengisolasi daerah wabah akan mampu menekan penyebaran wabah, sehingga masyarakat yang berada di luar wilayah ini akan beraktivitas seperti biasanya tanpa adanya kekhawatiran akan resiko tinggi yang dihadapi. Ekonomi pun berjalan dengan baik. Namun tidak hanya mengisolasi wilayah tersebut, negara pun berperan penuh untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat di wilayah yang terkena isolasi. Dimulai dari ekonomi, kesehatan sampai pendidikan pun negara harus menjamin terpenuhinya kebutuhan ini.

Maka selama masih menerapkan kapitalisme dan Barat menjadi arah pandang dari negeri ini, solusi apa pun tidak akan mampu menyelesaikan problematika kehidupan. Karena  berasal dari manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan. Sehingga penerapan sistem kapitalis ini menimbulkan kekacauan demi kekacauan yang terjadi. 

Solusi yang tepat dalam menangani wabah adalah dengan menerapkan sistem Islam. Tidak ada lagi sistem yang terbaik dalam mengatasi problematika kehidupan selain sistem Islam. Karena sistem ini  berasal dari yang Haq yaitu Maha Pencipta dan Maha Pengatur, Allah ‘Azza Wa Jalla.

Wallahu a'lam bshshawab.

 
Top