Pandemi Butuh Solusi


Oleh : Tsani Tsabita Farouq

(Aktivis Smart With Islam)


Hingga saat ini pandemi Covid-19 belum juga menemui ujungnya, bahkan terus memakan korban. Dikutip dari kompas.com (02/01/2021), jumlah tenaga kesehatan yang meninggal karena pandemi Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Menurut catatan Lapor COVID-19 hingga 28 Desember 2020, total ada 507 nakes dari 29 provinsi di Indonesia yang telah gugur karena Covid-19. Sebanyak 96 di antaranya meninggal dunia pada Desember 2020, dan merupakan angka kematian nakes tertinggi dalam sebulan selama pandemi dan juga tertinggi se-Asia.

Kematian nakes yang menduduki posisi hingga top 5 ini, menunjukkan betapa lemahnya pemerintah dalam mengatasi pandemi. Nyawa seorang dokter yang jasanya sangat dibutuhkan bahkan tak ada harganya. Jelas semua ini terjadi dalam negara kapitalis sekuler yang menjadikan segala kebijakan berdasar atas keinginan tangan manusia dan tidak ada campur tangan aturan Allah Swt. Menimbang-nimbang setiap aturan sesuai dengan kepentingan dan manfaat bagi diri dan golongannya, sehingga tidaklah mungkin dapat menghadirkan solusi terbaik dalam segala hal termasuk mengatasi pandemi seperti saat ini.

Sistem ini membentuk penguasa yang berjiwa serba perhitungan dalam mengatur negara. Kesehatan merupakan hak dasar rakyat yang harus dipenuhi, tetapi justru malah dikomersilkan dan kesehatan hanya bisa dinikmati oleh kalangan yang berada. Padahal nyawa jutaan rakyat menjadi taruhan, tetapi hingga saat ini pemerintah enggan menyediakan tes masal berbiaya murah bahkan gratis dengan dalih membutuhkan anggaran yang fantastis. Hal ini akhirnya membuat pemerintah tak mampu mengetahui rakyat yang sakit dan sehat.

Bagaimana pemerintah bisa memberikan kesehatan terbaik dengan gratis jika sumber pendapatan besar negara yaitu sumber daya alam dari negeri ini justru diserahkan kepada asing. Sistem kapitalis membuka pintu bagi liberalis untuk menguasai SDA milik rakyat ke tangan korporat, padahal SDA harusnya dikelola mandiri oleh negara dan hasilnya yang sangat besar itu dikembalikan pada masyarakat untuk menjamin kesejahteraannya termasuk kesehatan. Jika begini pastilah nyawa orang-orang yang berada di garda terdepanlah yang akan menjadi tumbal yaitu tenaga kesehatan. Begitu mudahnya nyawa nakes melayang karena keserakahan penguasa dan bobroknya sistem kapitalis sekuler yang menempatkan ekonomi sebagai prioritas utama kebijakan negara, bukan nyawa masyarakat. 

Berbeda halnya dengan syariat Islam yang menempatkan negara sebagai penanggung jawab urusan umat, oleh karena itu negara dengan sistem Islam akan hadir sebagai pengurus kebutuhan umat sekaligus yang melindungi kehormatan harta dan jiwa rakyatnya. Ada atau tidak adanya pandemi, keselamatan rakyat adalah prioritas utama negara dalam membuat kebijakan. Sistem Islam selalu berupaya mewujudkan hifdzu an-nafs (penjagaan nyawa manusia). Maka di dalam Islam dikatakan bahwa sejak awal terjadi pandemi negara akan melakukan tindakan pemutus rantai dengan cara lockdown lokal sesuai dengan anjuran Rasulullah saw., selanjutnya negara akan segera memisahkan antara orang yang sakit dan orang yang sehat agar penyakit tidak menyebar dengan cepat dan meluas ke wilayah lain. Pemisahan tersebut dilakukan secara tes baik swab test maupun rapid test masal dan masif secara gratis. Apabila didapati masyarakat yang terbukti terinfeksi mereka akan segera diisolasi dan ditangani dengan pelayanan medis yang berkualitas dan akan dijamin seluruh kebutuhan pelayanan kesehatan pasien tersebut secara gratis hingga mereka sembuh. Proses perawatan hingga pemenuhan kebutuhan, sepenuhnya dijamin oleh negara. Sedangkan bagi mereka yang sehat, mereka tetap dapat melakukan aktivitas sebagaimana biasanya dengan protokol kesehatan. Upaya ini sangat efektif untuk menekan angka penularan penyakit, sehingga membuat negara dan nakes bisa fokus menangani orang orang yang terinfeksi.

Inilah bentuk perlindungan negara terhadap nyawa masyarakat. Adapun untuk melindungi dan menjamin keselamatan tenaga medis, negara akan bertanggung jawab secara mutlak untuk memenuhi kebutuhan medis seperti APD, obat-obatan, peralatan untuk pasien dan sebagainya. Tenaga medis pun akan diberikan beban kerja yang manusiawi dan jumlah nakes yang berkualitas juga berkompeten dalam negara tidak akan habis karena didukung dengan sistem pendidikan dokter yang mumpuni, selain itu negara akan memerintahkan lembaga-lembaga penelitian untuk mencari tahu mekanisme penyakit dan mendorong mereka untuk melakukan riset pengobatan/vaksin, sehingga negara dapat mengambil tindakan antisipasi pencegahan penyakit dengan tepat karena berbasis bukti.

Betapa sempurna Islam menawarkan aturan di dalam kehidupan, tidak terkecuali dengan solusi yang diberikan saat pandemi.

Wallahu a'lam bishshawab.