Optimisme Janji Bupati Bedas, Akankah Terwujud?

 


Oleh : Asti

Pegiat Literasi


Menarik. Begitulah kesan yang didapat tatkala mengikuti pemberitaan seputar rencana kerja Bupati Bandung terpilih periode 2021-2026, pasangan Dedi Supriatna dan Syahrul Gunawan atau yang dikenal dengan sebutan pasangan Bedas. Bedas tampak penuh optimisme, janji-janjinya menghadirkan harapan bagi warga Kabupaten Bandung akan perubahan keadaan yang selama ini sedikit banyak menyempitkan kehidupan mereka. 

Pada salah satu laman berita, Bupati Bandung terpilih akan memprioritaskan penanggulangan gelombang banjir tahunan di Bandung Selatan dengan membebaskan warga darinya hanya dalam kurun waktu tiga tahun. (www.balebandung.com)

Di samping itu, juga akan memasang ring road antar kabupaten melalui pembukaan tiga jalan alternatif. Dimana kelak akan menghubungkan diri dengan Kabupaten Garut lewat Kertasari dan menautkan Kabupaten Cianjur lewat jalur Pacira (Pasir jambu, Ciwidey, Rancabali).

Perhatian mulia juga dipersembahkan untuk kalangan petani dengan pencanangan Kabupaten  Bandung tahan pangan mandiri. Janji semasa kampanye ditutup manis via program bantuan langsung terasa teruntuk para guru ngaji, serta pejabat RT, RW dengan pemberian insentif Rp500 ribu per ustaz-ustazah.

Dilihat dari bobot program, tampak semua itu merupakan kerja berat yang membutuhkan banyak energi super untuk pembangunan Kabupaten Bandung tercinta.  Mampukah Bupati Bedas mewujudkan rencananya tanpa imbas tertentu tanpa konsekuensi di kemudian hari?

Jika diamati setidaknya ada lima faktor yang terkait rencana gebrakan bupati ini. Yaitu perihal sumber pendanaan, analisis dampak bagi lingkungan, konsesi pembebasan lahan warga terdampak, efektivitas rencana strategi, dan soliditas team work.  Setiap proyeknya dipastikan menelan biaya ekstra besar. Mewujudkan gabungan semua program meniscayakan anggaran belanja yang cukup fantastik untuk ukuran sebuah kabupaten. Dari mana kucuran dana akan mengalir? Tidak mungkin APBD mampu memenuhinya.

Tidak mudah juga jika janji-janji semasa kampanye pemilihan bupati dikatakan sebagai iming janji semata tanpa mungkin terealisasi. Karena ada hal lain yang justru dapat dibaca sebagai pergerakan kaum kapitalis pemilik modal dalam meluaskan penguasaan atas wilayah kabupaten demi menyempurnakan ambisi global mereka. 

Dalam alam demokrasi saat ini, kemanfaatan adalah tolok ukur yang menjadi perhitungan satu-satunya. Disadari atau tidak, dalam segala hal apapun itu, paradigma berfikir untuk meraih kesenangan dan keuntungan materi sebanyak mungkin telah mendorong seseorang untuk menempuh segala cara. Sudut pandang kapitalistik sekuler telah merata mendominasi pemikiran semua kalangan. Maka adanya pengusaha ingin menjadi penguasa, dan seseorang ingin menjadi penguasa dengan cara bekerja bersama pengusaha adalah hal yang lumrah ditampakkan secara kasat mata. Tidak aneh lagi saat seseorang berkuasa naik menjabat suatu posisi  strategis kemudian apa-apa yang dilakukannya serupa pengusaha yang sedang mengelola modalnya untuk menjadi mesin perputaran hartanya.

Sudah menjadi rahasia umum dalam sistem demokrasi jika ajang Pemilu selalu menyedot modal kampanye yang luar biasa mahal. Maka jabatan hanya bisa diraih bagi kalangan tertentu dengan cara tertentu pula. Posisi mantan anggota dewan yang juga  pernah tercatat sebagai Kades dan  duetnya bersama artis terkenal mengantar Bedas melenggang sukses. Jabatan Bupati ini akan menjadi ujian, apakah  akan benar adanya sebagaimana sistem kapitalisme telah mengatur pola pergerakan penguasa dalam ikatan pengusaha ataukah Bedas dapat membuktikan pada masyarakat kabupaten bahwa Bupati Bedas tulus ingin memperbaiki kualitas hidup warganya.

Berbicara efektivitas rencana strategi akan mengupas keterkaitan antara apa yang dilakukan Bedas sesuai dengan apa yang sebenarnya diperlukan warga kabupaten. Pembukaan tiga jalur jalan alternatif, pendirian empat rumah sakit serentak, penguatan ketahanan pangan dengan  cara rencana program beraroma industrialisasi, sekaligus juga bagi-bagi rezeki untuk ketua RT, RW dan Asatiz. Kesemuanya itu akan menuntut pasangan Bedas membuktikan janji -sekali lagi- bahwa Bedas tulus peduli pada warga Kabupaten Bandung seluruhnya. 

Mencermati hal-hal di atas, sebenarnya ada paradigma lain yang selalu ada menerangi penguasa-penguasa yang hendak tulus bekerja untuk warganya.  Dialah jalan Islam, jalan dari Sang Khaliq yang mengamanahkan kekhalifahan manusia atas dunia ini. 

Islam telah menetapkan pengaturan urusan masyarakat berada di tangan penguasa negara yang disebut secara khas yaitu khalifah/imamah/amirul mukminin. Khalifah memegang otoritas penuh atas segala kebijakan dan kekuasaan. Seluruh kewenangan itu ditujukan untuk satu tujuan yaitu mensejahterakan rakyat secara keseluruhan. Pemimpin yang terpilih dalam Islam tidak akan banyak memberi janji karena hal itu adalah utang yang harus ditunaikan. Sementara janji itu wajib dipenuhi. Sebagaimana firman Allah Swt. Yang Artinya, ”Wahai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janji.”

Untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat maka negara dalam Islam akan memaksimalkan sumber pemasukan baitulmal atau kas negara baik berupa zakat, shadaqah, jizyah, kharaj, usyur dan lain sebagainya. Dan akan senantiasa mendistribusikan ke seluruh wilayah daulah (negara) Islam dan dipastikan per-individu dapat terpenuhi kebutuhanya. Walahu a’lam bi ashshawab.