Negara Abai: Pangan Naik dan Kapitalisme Biang Segalanya


Oleh : Susi Mariam Mulyasari

(Aktivis Dakwah & Ibu Rumah Tangga)


Pandemi mengakibatkan runtuhnya sistem perekonomian di hampir semua negera, termasuk Indonesia. Negara maju maupun berkembang tak bisa menghindari terjangan badai krisis ekonomi. Dampaknya pertumbuhan ekonomi sebuah negera menjadi anjlok ke angka yang tidak pernah terbayangkan.

Pertumbuhan ekonomi menjadi minus yang dialami oleh negara-negara di dunia, tak ayal mengakibatkan dampak turunan. Di antaranya, perusahaan-perusahan mengalami gulung tikar, disusul oleh angka pengangguran terus meningkat, hingga akhirnya angka kemiskinan semakin mengerikan. Tercatat per Maret 2020 sebagaimana yang dirilis oleh BPS (Biro Pusat Statistika) terdapat 26,47 juta  jiwa penduduk Indonesia berada di garis kemiskinan. Melihat data tersebut, nampaknya pandemi Covid-19 menyiratkan luka yang memilukan bagi suatu bangsa.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?

Sebagaimana yang kita pahami, pemerintah adalah sebuah entitas politik yang memegang kendali atas keberlangsungan hidup suatu bangsa. Artinya pemerintah harus memiliki sebuah formula yang mampu menyelesaikan segala macam persoalan yang dihadapi bangsanya, termasuk di dalamnya masalah dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Setidaknya di dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, sebuah entitas politik yang memiliki wewenang penuh di dalam menjalankan roda pemerintahan adalah memahami dan menganalisa potensi yang dimiliki bangsa tersebut. Atau dengan kata lain, negera harus berpatokan terhadap power mapping yang dimilikinya di dalam menentukan sebuah kebijakan. Seandainya kita sederhanakan masalah pandemi ini, walaupun sangat kompleks, tetapi kita bisa menentukan sikap apa yang akan diambil untuk menyelamatkan hajat hidup orang banyak.

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dilihat dari demografi dan potensi alamnya. Seharusnya negera bisa memprediksi kira-kira berapa lama pandemi ini akan berlangsung. Selama berlangsungnya pandemi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah ruah, seharusnya negera mempunyai seperangkat formula di dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Misalkan meningkatkan pasokan pangan, bahkan bisa saja berujung pada swasembada pangan. Para petani disupport dari segi skill kemampuan bercocok tanam, sehingga hasil kebih optimal. Para nelayan pun sama bisa disupport dari logistik yang dibutuhkan mereka, sehingga hasil tangkap ikannya semakin banyak. Tetapi aneh bin ajaib bangsa ini, para petani kesusahan mencari modal karena pupuk naik misalkan, negera malam impor pangan dari luar negeri. Pantaslah petani kita kalah bersaing dengan hasil impor.  Ditambah lagi harga pangan semakin naik, dampak dari kebijakan impor tersebut. Seharusnya kejadian semacam ini tidak terjadi.

Oleh karena itu, dampak pandemi terhadap ekonomi dan turunannya tidak semata-mata diakibatkan oleh pandemi Covid-19, melainkan kesalahan sistematis yang kebetulan pandemi bisa dikambinghitamkan.

Apakah negera terlambat?

Sangat tergantung kadar keberpihakan negara terhadap rakyatnya. Kalau 100% negera melindungi rakyatnya, maka tidak akan terjadi polemik seperti sekarang. Namun kalau negara lebih berpihak kepada para pemilik modal, maka rakyat akan menjadi tumbal bagi kerakusan mereka. Uang negara dihabiskan oleh hal-hal yang tidak produktif. Yang pada akhirnya rakyatlah yang dikorbankan. Oleh karena itu kita harus mulai berpikir, tentang masa depan bangsa ini. Masa depan yang cerah, penuh kesejahteraan, adalah hal yang diinginkan oleh manusia, dan itu bisa terjadi apabila negera kita terbebas dari pengaruh para kapitalis. Dan satu-satu cara untuk mewujudkannya adalah sistem Islam.

Islam memiliki seperangkat aturan yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Di dalam sistem Islam sumber daya alam merupakan bagian dari kepemilikan umum, maka mustahil diserahkan kepada investor asing maupun lokal untuk mengelolanya. Semua dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyatnya. Negera tidak akan mematok harga, walaupun iya, harga yang ditetapkan sangat minim, dan tidak membebani rakyat. Oleh karena itu hanya Islam lah satu-satu solusi yang mampu menuntaskan segala macam persoalan.

Wallahu a’lam bishshawab.