Muslimah Wajib Memakai Jilbab


Oleh : Fatin

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Di tengah problem yang mendera negara saat ini, mencuat isu tentang jilbab hingga menjadi isu nasional. Tepatnya isu tentang jilbab di Padang Sumatera Barat. Padahal ada isu-isu yang lebih mendesak untuk segera diselesaikan yaitu isu tentang korupsi yang makin brutal. Salah satunya korupsi triliunan Dana Bansos. Yang paling mutakhir, korupsi dana BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp43 triliunan. Isu banjir di Kalsel akibat penggundulan hutan secara semena-mena. Sekaligus isu kegagalan pemerintah dalam menangani Covid-19 yang hingga saat ini tembus 1 juta kasus.

Isu "Jilbab Padang" mencuat saat ada orang tua salah satu nonmuslim yang keberatan putrinya yang bernama Jeni Cahyàni Hia merasa "dipaksa"  memakai jilbab di sekolahnya, sehingga video argumen antara orang tua dan pihak sekolah tentang penggunaan kerudung atàu jilbab pun viral di media sosial. (Detik.com, 23/1/2021)

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Habibul Fuadi, sekolah di Kota Padang memang ada aturan berpakaian muslim bagi murid yang beragama Islam. Adapun pakaian siswi nonmuslim harus sopan sesuai dengan norma sopan santun jika tidak menggunakan jilbab. Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala SMK Negeri 2 Padang Rusmadi bahwa pihak sekolah tidak pernah melakukan paksaan apa pun terkait pakaian seragam bagi nonmuslim. Hal itu pun diungkapkan oleh siswi nonmuslim di SMKN 2 yang bernama EAZ (17) yang merasa tidak keberatan menggunakan jilbab ke sekolah. Tìdak ada unsur paksaan. Saya sudah memakai jilbab sejak SMP kata EAZ kepada wartawan, Senin (25/1/2021). (Kompas.com, 25/1/2021)

Dengan memerhatikan fakta di atas, isu "Jilbab Padang" hanyalah politisasi untuk memojokkan Islam dan kaum muslim. Senyatanya, ini adalah kasus kecil yang dibesar-besarkan oleh sejumlah pihak, termasuk para pejabat negara. Bahkan sekelas menteri pun turut berkomentar. Yang paling ribut tentu para pembenci Islam yang sering teriak-teriak intoleran kepada kaum muslim jika "korban"nya nonmuslim. Sebaliknya dia mingkem saat terjadi tindakan intoleran yang "korban"nya kaum muslim. Misalnya, pada tahun 2014, pernah mencuat kasus pelarangan jilbab di SMAN 2 Denpasar Bali. Namun setelah ditelusuri ternyata hampir seluruh sekolah di Bali jilbab dilarang (Republika.com, 21/2/2014). Faktanya, kalangan pembenci Islam adem-adem saja. 

Di dalam Islam, lelaki muslim maupun wanita muslimah yang telah dewasa wajib menutup aurat sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an di antaranya Al-Qur’an Surat al-A'raf (7) ayat 26 yang merupakan dalil atas kewajiban menutup aurat dalam setiap keadaan (Asy-Syàukani, Fath al-Qadir, 2/200).

Wanita muslimah wajib menutup aurat dengan mengenakan kerudung dan jilbab saat keluar rumah. Allah Swt. berfirman: 

"Katakanlah kepada para wanita mukmin, Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakkan perhiasan (aurat) mereka, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaķah mereka menutupkan kain kerudung ke dada-dada mereka ...." (TQS. an-Nur [24]: 31)

Adapun kewajiban berjilbab terdapat dalam firman Allah Swt.: 

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan para wanita mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka ...." (TQS. al-Ahzab [33]: 59)

Dalam Islam, nonmuslim yang hidup sebagai warga negara khilafah (ahliz zimmah) dibiarkan memeluk akidah dan menjalankan ibadahnya masing-masing. Begitu juga dalam makanan, minuman dan pakaian. Mereka diperlakukan sesuai dengan agama mereka, dalam batas yang diperbolehkan syariah.

Fakta sejarah menyatakan bahwa sepanjang masa khilafah, para wanita baik muslimah maupun nonmuslimah mengenakan jilbab. Di sebagian kampung yang di situ ada muslimah dan nonmuslimah, pakaian mereka tidak bisa dibedakan. Inilah hal yang bisa menunjukkan bahwa pakaian perempuan muslim maupun nonmuslim dalam kehidupan umum diatur sesuai syariah.

Wallahu a'lam bi ash-shawwab.