Oleh : Ati Solihati, S.TP

(Aktivis Muslimah, Penulis, Praktisi Pendidikan)


Ragam Musibah Melanda

Memasuki tahun baru ini, tahun 2021, pandemi belum juga mereda, bahkan semakin mewabah tak terkendali.  Padahal kurang lebih satu tahun telah berlalu. Seperti pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”, akhir-akhir ini masyarakat masih harus menghadapi penderitaan demi penderitaan. Ragam musibah menimpa.  

Tanggal 9/1 terjadi kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air, yang menyebabkan korban meninggal 55 orang. Pada tanggal yang sama, terjadi bencana longsor di Sumedang. Yang berakibat 38 orang meninggal, 29 rumah rusak, dan ribuan orang mengungsi. Tanggal 13/1, bencana banjir terjadi di Kalimantan Selatan.  Menurut LAPAN, bencana tersebut menimpa sebanyak 13 kabupaten/kota. Yang berakibat 38 orang meninggal, 29 rumah rusak, dan ribuan orang mengungsi. Tanggal 14/1, gempa bumi terjadi di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat. Berdasarkan pencatatan Basarnas Makassar, hal tersebut mengakibatkan 88 orang meninggal.  Dan menurut data BNPB, sebanyak 253 orang mengalami luka berat, 679 orang luka ringan, dan sebanyak 19.435 orang mengungsi. (Cnnindonesia.com, 19/1/2021). Tanggal 16/1, banjir dan longsor terjadi di Manado, Sulawesi Utara. Banjir juga terjadi di Kabupaten Lamongan dan Sidoarjo, Jawa Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, hingga Kota Cirebon, Jawa Barat. Tanggal 16/1 pun terjadi peristiwa gunung meletus.  Gunung Semeru di Jawa Timur mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 km. Tanggal 18/1 gunung merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY juga kembali mengeluarkan awan panas guguran. Kemudian pada tanggal 19/1, banjir terjadi di kawasan Puncak Bogor. Sementara pandemi pun belum kunjung mereda, malah semakin merebak. Per tanggal 27 Januari total kasus mencapai 101 juta jiwa.  

Yang sungguh membuat umat semakin pilu adalah musibah yang menimpa bukan hanya musibah dunia, tetapi juga musibah yang menimpa agama.  Sebagaimana kita lihat, semakin ringan orang melecehkan agama. Murtad dari agama Islam dianggap hal yang remeh.  Ajaran-ajaran Islam bukan sekadar dilecehkankan, bahkan dikriminalkan.  Pengajian dibubarkan. Para ulama dibui tanpa bukti. Padahal musibah yang menimpa agama adalah musibah terbesar. Membawa kesengsaraan dunia dan akhirat. Sehingga Rasulullah pun sering meminta kepada Allah agar musibah tidak menimpa agamanya. “(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan musibah kami adalah yang terjadi pada dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami”. (HR. At-Tirmidzi)

Saat ini, terutama selama masa pandemi, kita telah kehilangan sekitar 300 ulama. Ini adalah termasuk musibah agama. Musibah yang sangat memilukan bagi kehidupan umat Islam.  Dengan hilangnya para ulama, maka kehidupan kita akan semakin dikuasai oleh orang-orang bodoh yang sesat dan menyesatkan. Sebagaimana sabda Rasulullaah saw, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, maka manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya. Maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan mnyesatkan”. (HR. Bukhari)

Hakikat Musibah

Musibah yang menimpa, memang merupakan bagian dari sunatullah.  Kehidupan umat manusia tidak dapat lepas dari ujian dan cobaan dari Allah.  Allah berfirman, dalam QS. al-Baqarah ayat 155 yang artinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.  

Musibah itu sendiri ada dua jenis.  Pertama, jenis musibah dimana tidak ada sedikit pun peran manusia di dalamnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. at-Taubah ayat 51 yang artinya, “ Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman””. Seperti musibah gempa bumi, gunung meletus, tsunami.  

Kedua, jenis musibah dimana manusia memiliki peran di dalamnya, baik karena kemaksiatan manusia secara individu, ataupun peran kezaliman penguasa dengan sistem kufur yang diterapkannya, yang bersifat rusak dan menyebabkan kerusakan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. asy-Syura ayat 30 yang artinya, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)“.  Seperti musibah banjir, longsor, dan kebakaran hutan. Yang sering terjadi karena eksploitasi dan tata kelola sumber daya alam ala kapitalis yang tidak mempertimbangkan keseimbangan alam. Sementara peruntukannya pun bukan untuk kesejahteraan masyarakat umum, tetapi hanya untuk memuaskan nafsu serakah segelintir para pemilik modal.

Sikap dalam Menghadapi Musibah 

Setiap musibah, baik yang tidak ada peran manusia maupun yang ada peran manusia di dalamnya, hakikatnya tidaklah akan terjadi, kecuali atas izin Allah. Semuanya merupakan ketetapan dari Allah, yang tidak mungkin ditolak ataupun dicegah. Allah berfirman dalam QS. at-Taghabun ayat 11 yang artinya, “Tidak ada musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya”.  

Dengan demikian musibah apa pun yang menimpa, mesti kita hadapi dengan penuh rida. Sebagai bentuk keimanan kita terhadap qadha Allah.

Salah satu bentuk keridaan kita dengan qadha-Nya adalah bersikap istirja’.  Mengembalikan segala urusan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 155-157, yang artinya, “..Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dalam menghadapi musibah, selain disikapi aspek ruhiyah, di antaranya dengan sikap rida, sabar, dan istirja, Allah pun memerintahkan kita untuk menyempurnakan dengan aspek ikhtiar. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. ar-Ra’d ayat 11, yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Demikianlah. Musibah tidaklah menimpa hamba, kecuali dengan izin Allah. Namun Allah pun memberitahukan pada kita cara yang benar dalam menghadapi musibah.  Dan Allah menjelaskan bahwa bagi mereka berhak mendapatkan kabar gembira, yaitu petunjuk, rahmat, dan keberkahan yang sempurna. Serta surga dengan segala kenikmatannya.

Muhasabah Menghadapi Musibah

Musibah yang menimpa, terlebih lagi musibah yang terus menerus, sudah selayaknya untuk dimuhasabahi.  Disertai perenungan untuk menarik pelajaran, agar dapat mencari jalan keluar dari musibah yang dihadapi, meminimalkan dampak bencana serta berupaya membangun kehidupan lebih baik, lebih maslahat ke depannya.  Sekaligus berupaya mengurangi potensi terulangnya bencana.

Dalam setiap musibah, ada 2 hal yang mesti dimuhasabahi. Pertama, penyebabnya. Kedua, penanganan dan pengelolaan dampak musibah.

Sekalipun musibah tidak mungkin terjadi kecuali atas izin Allah, namun Allah juga memperingatkan bahwa banyak musibah yang terjadi karena peran manusia di dalamnya.  Sebagaimana firman Allah dalam QS. ar-Rum ayat 4 yang artinya, “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah Swt.).

Muhasabah selain ditujukan kepada diri sendiri, juga ditujukan kepada komunal, dalam hal ini terutama kepada negara, sebagai pilar utama dalam tatanan kehidupan. 

Muhasabah kepada diri sendiri, dengan mengevaluasi diri, bisa jadi musibah terjadi ada peran lalainya kita dalam menuhi hak Allah. Sehingga kita sikapi dengan bertaubat dan memohon ampunan dari Allah atas segala kemaksiatan kita, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. 

Muhasabah yang bersifat komunal, tidak lepas dari mengevaluasi apakah  hukum-hukum Allah telah ditegakkan dalam tatanan kehidupan masyarakat ataukah justru dicampakkan. 

Kecelakaan pesawat yang sering terjadi di negeri ini, setelah dikaji lebih detail, bermuara kepada kebijakan negara yang menyerahkan sepenuhnya tata kelola transportasi udara kepada korporasi. Tata kelola korporasi, yang berbasis ideologi kapitalisme, tidak berbasis memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Jaminan keselamatan penumpang tidak menjadi pertimbangan utama. Tetapi kepentingan bisnis dan keuntungan materilah yang menjadi landasan utama. Sehingga alih-alih menjamin keselamatan, justeru nyawa para penumpang bahkan kru pesawat menjadi taruhannya.

Kebijakan zalim dari penguasa ala kapitalis juga menjadi muara terjadinya musibah-musibah yang lain. Seperti banjir di Kalimantan Selatan. Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, tata kelola lingkungan dan Sumber Daya Alam (SDA) di Kalsel sudah rusak. Dari total 3,7 hektar lahan di Kalsel, 50 % nya sudah dialihfungsikan menjadi pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Hal ini didukung data laporan tahun 2020 yang mencatat, terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batubara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi. Lagi-lagi muaranya adalah kebijakan negara yang menyerahkan tata kelola lingkungan dan SDA kepada korporasi. Alih-alih memberikan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan, justru malah hanya menambah pundi-pundi kekayaan korporat dan merusak keseimbangan ekosistem. Berbuah kemiskinan rakyat pemilik sejati kekayaan alam serta menuai musibah banjir, longsor yng semakin melengkapi penderitaan.

Pandemi yang terus berlarut yang menyebabkan kehidupan masyarakat semakin karut marut, juga muaranya sama. Lockdown yang hakikatnya merupakan langkah efektif dalam mengatasi pandemi, sebagaimana tuntutan syariat Islam, tidak pernah ditempuh pemerintah. Lagi-lagi pertimbangannya adalah kepentingan segelintir korporat, yang tidak rela mesin uangnya terhenti karena lockdown, walaupun hanya sesaat.  Padahal akibatnya bukan hanya mengorbankan satu juta lebih rakyat,yang terpapar Covid-19, tetapi ekonomi pun diambang resesi.

Ideologi kapitalisme yang mencengkeram negeri ini bukan hanya menyebabkan berbagai musibah dunia.  Tetapi juga telah menimpa agama (Islam). Ideologi kapitalisme tidak menghendaki terjadinya kebangkitan Islam. Sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menutup ruang, bahkan celah-celah yang diduga bisa menjadi cikal bakal kebangkitan Islam.  

Sebaliknya ideologi kapitalisme dengan beragam produknya yang rusak dan merusak terus dikampanyekan, sekalipun telah nyata-nyata menyebabkan kerusakan alam, penderitaan fisik, kebejatan moral, serta taraf berpikir yang rendah dan hina.

Dengan demikian telah jelas bagi kita, bahwa akar dari semua musibah ini adalah karena sistem kehidupan yang berasaskan ideologi kapitalisme.  Sehingga jalan keluar terbaik tiada lain adalah menghilangkan akar permasalahannya.  

Untuk menghilangkannya tidak ada cara lain kecuali terus menderaskan dakwah ke tengah-tengah masyarakat akan kekufuran ideologi kapitalisme, dan potensi kerusakan yang ditimbulkannya yang telah nyata-nyata menyebabkan beragam musibah, baik musibah dunia maupun musibah yang menimpa agama. Dan satu-satunya solusi untuk keluar dari beragam musibah ini dan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, berlimpah kesejahteraan serta keberkahan, tiada lain adalah menerapkan Islam kafah, menegakkan hukum-hukum Allah, dalam sistem kehidupan yang Allah ridai, yaitu Khilafah Islamiyah.

Allah berfirman dalam QS. al-A'raf ayat 96 yang artinya, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Wallaahu a'lam bishshawab.

 
Top