Oleh : Bani Hawanda

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Di penghujung tahun 2020 dan masih di dalam suasana pandemi Covid-19, kaum muslim banyak menggelar agenda muhasabah (introspeksi diri) yang diselenggarakan secara daring. Dimana setiap tahun pun kerap diisi dengan zikir, doa juga tausiah. 

Namun demikian, sesungguhnya muhasabah itu tidak diharuskan di penghujung tahun saja, melainkan dapat dilakukan kapanpun. Akan lebih bagus jika dikerjakan pada malam hari atas amal yang dikerjakan pada siang hari. Karena waktu malam akan terasa lebih tenang dan syahdu.

Seiring dengan berjalannya waktu, muhasabah dirasa amat penting dimana banyak terjadi musibah yang menimpa umat. Mari kita bermuhasabah dan melihat kondisi. Apakah sekarang aturan yang diterapkan sudah sesuai dengan aturan Allah? Ataukah justru sedang mengalami proses perpindahan menuju kemunkaran dan kemaksiatan diri dan umat?

Maka kita dapat merenungkan siapakah diri kita. Sudahkah kita beramal shalih untuk hari yang ditetapkan atas seluruh perbuatan yang kita lakukan? Sementara tak ada satu pun yang bisa kita sembunyikan dari pandangan Allah Swt.

Muhasabah atas diri dapat dimaknai melakukan pembersihan diri dari dosa-dosa yang sudah kita perbuat di masa lampau. Untuk hijrah ke jalan yang diridhai Allah Swt. sampai kita menghadap kepada-Nya.

Terkait bahwa ketika seorang mukmin mengharapkan rahmat Allah Swt., Imam Fudhail bin 'Iyad rahimahumullah berkata, "Mukmin itu rajin menghisab dirinya dan ia mengetahui bahwa ia akan berada di hadapan Allah kelak. Adapun orang munafik lalai terhadap dirinya."

Muhasabah sangat penting bagi seorang muslim di dunia dan di akhirat. Apakah ia sering bermuhasabah dengan mengukur  perbuatan yang ia lakukan. Apakah ikhlas karena Allah Swt. atau sekadar untuk mendapatkan atau mengharapkan pujian orang dan mendapatkan keuntungan dari manusia. Juga apakah ia ingin nerengkuh mardhatillah atau mengharapkan surganya Allah Swt. maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk meluruskan tujuan amalannya. 

Muhasabah bagi seorang muslim juga dapat dilihat apakah perbuatannya sudah selaras dengan hukum Allah Swt.? Ataukah justru membuat putusan pertimbangan atas hawa nafsu yang akan mencelakakan dirinya. Dimana justru di akhirat kelak ternyata yang ia kerjakan selama ini akan membawa kepada kesesatan. 

Allah Swt. berfirman:

"Katakanlah, 'Maukah kalian Aku beri tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Mereka adalah orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam kehidupannya, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya." (QS. al-Kahfi (18): 103-104)

Kita tidak boleh melepaskan atau meninggalkan muhasabah begitu saja dan menganggap enteng pada suatu persoalan. Karena hal itu akan menghantarkan pada kehancuran. 

Ciri-ciri orang yang mengharapkan derajat takwa pasti akan introspeksi diri terus menerus, sehingga tingkah lakunya senantiasa berada di jalan Allah Swt.

Muhasabah sendiri memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah:

Pertama, membentuk kepribadian ke arah kebenaran sehingga ia akan terus melakukan perbaikan dan bertobat kepada Allah Swt. Tanpa introspeksi, seorang hamba akan selalu merasa benar dengan apa yang ia lakukan, dan tidak ada keinginan untuk bertobat. 

Kedua, di saat seseorang selalu takut kepada Allah Swt., maka hal itu akan mencegahnya dari melalaikan hukum-hukum-Nya.

Ketiga, mendorong diri di segala aktivitas menuju kebaikan, mencegah kemungkaran. Ia mengerjakan qiyamulayl, berinfak, bersedekah dan seterusnya.


Pentingnya Muhasabah Total

Selain instrospeksi diri sendiri, kaum muslimin semestinya melakukan muhasabah untuk semua umat atas kondisi umat pada hari ini. Dimana umat telah mengabaikan hukum hukum Allah Swt. secara keseluruhan. 

Pada hari ini kita melihat bahwa hukum-hukum Islam dimusuhi. Bahkan ada seruan agar umat muslim mengganti ayat-ayat suci  dengan hukum pemerintahan (aturan manusia). 

Kita juga menyaksikan orang-orang shalih dikriminalisasi tetapi sebaliknya pelaku kriminal diberi keleluasaan, dibebaskan dan diampuni.

Hal itu karena kini umat berada pada masa dimana aturan Islam tidak diterapkan dengan sempurna. Justru sistem kufur buatan manusialah diterapkan. Yakni sistem kapitalisme sekuler demokrasi.

Rasulullah saw. bersabda:

"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." (HR. at-Tirmidzi)

Semoga kita semua menjadi mukmin yang senantiasa menghisab diri dan kondisi umat menuju penerapan aturan Allah yang menyeluruh (kafah).

 
Top