Meraih Nikmat Sempurna

 


Oleh: Novi Dyah R., S.Pd

Pendidik, Aktivis dakwah dan Member AMK



Surga di telapak kaki ibu

Itulah hadist Nabi Muhammad

Kalau kita berbakti padanya

Di akhirat mendapat surga


Penggalan lagu di atas mengajarkan betapa Islam sangat memuliakan ibu. Islam mengajarkan anak harus berbuat baik lagi taat pada ibunya, dan melarang anak durhaka padanya. Sebagai balasannya kelak di akhirat Allah hadiahkan surga bagi anak-anak yang berbakti dan memuliakan ibunya. 


Namun, lag-lagi jagad dunia sosial media dihebohkan dengan kasus seorang anak yang melaporkan ibunya ke polisi hanya karena cekcok masalah baju. Tak hanya itu, kasus serupa juga terjadi di lombok. seorang anak ingin memenjarakan ibu kandungnya lantaran ribut masalah uang.


Di lansir dari detikcom (9/1/2021), Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota.


"Ditahan sejak kemarin di Polsek (Demak) Kota. Karena berkasnya sudah lengkap atau P21," ujar kuasa hukum terlapor S (36), Haryanto saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/1/2021).


Kasus serupa juga terjadi di Lombok. Di kutib dari Tribunnews.com, Lombok - M (40), warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB)  datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi.


Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor. Namun, laporan M malah ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono.


---------000----------


*Rusaknya hubungan keluarga karena sistem kapitalisme.* 


Tempat pertama tumbuhnya generarsi baru berawal dari keluarga. Keluarga harmonis menjadikan rumah sebagai tempat berteduh, tempat bertukar cerita, melepaskan kasih sayang antar anggota keluarga, transfer ilmu agama, dan aktivitas lainnya. Sehingga rumah menjadi tempat yang nyaman untuk menemukan kebahagiaan semua anggota keluarga. 


Namun membangun keluarga ideal dalam sistem sekuler benar-benar bukan perkara mudah. Karena sistem sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya manusia bebuat sesuka hati tanpa mengenal benar atau salah sebagaimana dalam ajaran Islam. 


Sistem yang jauh dari aturan Allah Ta’ala ini terbukti telah melahirkan berbagai krisis yang berpengaruh terhadap kualitas kehidupan keluarga. Sistem kapitalisme menjadikan manfaat sebagai tolok ukur perbuatan. Menjadikan hubungan di antara anggota keluarga bernilai materi. Hubungan ibu anak diukur dengan untung rugi. Anak mengerjakan perintah ibu bukan karena taat tapi karena ia akan mendapatkan hadiah ataupun imbalan. Jadi tak peduli jika itu dilakukan dengan cara-cara yang curang.


Kini hubungan keluarga menjadi tidak harmonis. Anak yang seharusnya menjadi anugerah, yang terjadi kini anak menjadi fitnah, ujian, cobaan bagi orang tuanya. Anak membangkang dan berani menentang perintah orang tuanya. Bahkan tak jarang untuk mewujudkan sesuatu keinginannya, anak mampu berbohong menipu orang tuanya.


Beban ekonomi yang semakin berat membuat orang tua lebih fokus mencari nafkah. Anak tidak terurus pendidikan agamanya, meskipun cukup secara materi. Hal ini memicu keretakan hubungan keluarga. Karena sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan anak tidak mengenal aturan dalam hidup. Anak tidak diajari adab yang baik kepada orang tua. Anak hanya melulu di beri kecukupan materi tanpa diperhatikan pendidikan akhlaknya.


Negara gagal menghadirkan kehormatan anak kepada ibu. Sehingga lahirlah generasi yang jauh dari islam. Berdampak nyata pada menurunnya kualitas generasi masa depan. Melahirkan generasi muda yang terjebak pergaulan bebas, kriminalitas, gaya hidup hedonis dan jauh dari norma agama.


*Islam melahirkan generasi takwa*


Islam sebagai agama yang sempurna, telah memberikan aturan khusus kepada suami dan istri (ayah dan ibu) untuk mengemban tanggung jawab dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala (qawwam) keluarga, dan istri sebagai ibu (ummun) bagi anak-anaknya dan pengatur rumah (rabbatul bait) suaminya.


Dalam Islam, fungsi keluarga sangat vital. Sebagai pencetak generasi takwa, generasi yang taat pada agama. Tentunya dalam keluarga ayah dan ibu berperan menjadi pencetaknya. Peran ayah sebagai pemimpin keluarga berkewajiban untuk melindungi dan menafkahi seluruh anggota keluarganya. Sedangkan Ibu adalah madrasatul ula. Ibu berperan penting untuk mendidik anak-anak taat syariat.  


Anak bukan hanya menyenangkan (nikmat), tapi juga ujian (fitnah). Allah berfirman, yang artinya: 

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (TQS. Al-Anfal: 28)


Nikmat anak shalih/shalihah adalah “nikmat” yang selalu tepat disandingkan dalam keadaan apa pun. Semisal keadaan orang tuanya kaya, punya wibawa, pangkat dan kedudukan, Allah menganugerahkan anak yang shalih/shalihah, maka “sempurna”.


Begitu juga jika kondisi orang tua miskin papa, tetapi Allah menganugerahkan anak yang shalih/shalihah, akan menjadi hiburan tak terkira bagi orang tua.


Sebaliknya jika kondisi keluarga kaya, punya wibawa, pangkat dan derajat, ditambah anak yang durhaka, naudzubillah, nestapa orang tua tiada akhir, karena hartanya juga bisa habis, pangkat derajat tak berarti.


Yang lebih nestapa lagi jika kondisi orang tua sudah miskin tak punya pangkat dan kedudukan, tapi punya anak yang durhaka, ini adalah neraka dunia bagi orang tua. Naudzubillah.


Untuk itu anak harus dididik dan dipahamkan dengan ajaran islam, agar tidak tumbuh menjadi anak yang liberal dan jauh dari Islam. Karena anak yang berbakti dan taat syariah bukan lahir begitu saja. Perlu perjuangan dan peran orang tua. Dan kelak orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas amanah menjaga dan mendidik anak-anaknya ini.


Islam menyuruh orang tua untuk mengajarkan adab pada anak-anaknya.

 “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah)


Orang tua dapat mengajarkan keteladanan Rasulullah SAW. dalam bersikap sopan santun menghormati orang tua dan perintah untuk memuliakan orang tua.


 Pernah masyur cerita seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah SAW lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku muliakan?”

 Beliau menjawab, “Ibumu.”

 Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”

 Beliau menjawab, “Ibumu.” 

Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” 

Beliau menjawab, “Ibumu.” 

Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”

 Beliau menjawab, “Bapakmu.”


Rasullullah mengajarkan, bahwa orang yang paling pantas untuk dihormati dan dimuliakan adalah ibu dan bapak. Rasulullah mendahulukan ibu tiga kali karena kelemahannya dan kebutuhannya terhadap perhatian di masa tuanya. Betapa mulianya aklak yang diajarkan Rasulullah ini.


Orang tua juga dapat mencontohkan dalam aktivitas sehari-hari sikap yang baik dan sopan dalam keluarga. Keteladan orang tua akan menjadi inspirasi bagi anak-anaknya. Jika di rumah sudah dikenalkan dan dikondisikan anak-anak untuk taat pada aturan agama, insya Allah anak akan tampil dan berkepribadian Islam. 


Orang tua juga memastikan anak-anak berada pada lingkungan yang baik dan terjaga pergaulannya. Selektif memilih teman agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas yang menyesatkan. Anak diajak gemar menuntut ilmu dan mengisi masa muda dengan semangat menjalankan syariat Islam. Tontonannya pun dipilihkan yang bermutu dan berisikan siar Islam, bukan tontonan yang bikin halu dan menyesatkan.


Dengan perannya ini, orang tua telah memberikan sumbangan besar dalam menyiapkan, mendidik, dan memelihara generasi umat agar tumbuh menjadi individu-individu shalih-salihah, yang akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Masyarakat berperan sebagai kontrol sosial dalam menerapkan aturan Islam sedangkan Negara menjadi penjaganya.


Demikianlah sistem Islam mampu menjaga keutuhan hubungan keluarga dan menjamin lahirnya generasi-generasi taqwa yang berbakti pada orangtuanya. Layaknya perhiasan dan kekayaan, anak menjadi curahan kasih sayang, dan harapan orang tua, simpanan pahala yang besar di sisi Allah. Semoga kita dianugerahi nikmat anak-anak yang shalih/shalihah lagi takwa kepada Allah agar hidup kita penuh keberkahan dan sempurna. Wallahu a’lam bishshowab.