Melejitnya Harga Kedelai: Buah Sistem Kapitalisme


Oleh : Ikhwatunisa


Beberapa hari yang lalu, harga kedelai impor di pasaran naik hingga 20 persen. hal ini berdampak pada mogoknya pengrajin tempe, yang bahan bakunya adalah kedelai.

Sejak Kamis, (31/12/2020) lalu hingga Minggu (3/1/2021) malam, produsen tahu dan tempe di DKI Jakarta melaksanakan aksi mogok produksi. Aksi mogok yang berlangsung selama tiga hari tersebut diserukan oleh Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta menyusul melonjaknya harga bahan baku kedelai, dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram. (Kompas.com, 3/02/2021)

Kedelai merupakan bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu, seperti yang sudah diketahui bahwa tempe merupakan pangan nabati yang mudah dijangkau oleh semua kalangan karena harganya yang murah. Namun bagaimana jadinya ketika harga tempe melonjak tinggi? 

Jika dilihat dari kenaikan kedelai yang termasuk ke dalam bahan pokok, maka imbasnya tidak hanya kepada pengrajin atau produsen kedelai saja tapi kepada masyarakat banyak, khususnya kalangan menengah ke bawah. 

Melonjaknya harga kedelai impor, disinyalir karena naiknya harga kedelai dunia yaitu melonjaknya permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, kenaikan bahan pokok seperti kedelai bukan kali ini saja terjadi, dan tidak heran ketika kejadian yang sama akan terus berulang dan berulang lagi selama Indonesia masih memegang kuat paham kapitalisme yang masih satu muara dengan liberalisme.

Dalam paham ini, negara bebas menerima impor selama hal tersebut menguntungkan bagi negara. Kerena ketika masuknya importir dari luar, maka akan menambah devisa negara. Namun ternyata rakyatlah yang harus menjadi korban. Tidak hanya itu, dengan membuka kran bagi importir maka pengrajin lokal akan tergeserkan, karena persaingan yang begitu ketat dengan barang dari impor yang dinilai lebih berkualitas. Inilah wajah kapitalisme liberal, yang dimana tolok ukurnya adalah kepentingan dan keuntungan untuk segelintir orang saja.

Dengan demikian, jelas kapitalisme tidaklah akan membawa manusia kepada kesejahteraan, karena ciri masyarakat sejahtera adalah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok. Aturan-aturan dalam kapitalisme yang dihasilkan dari buah pikir manusia, aturannya tidak sesuai dengan fitrah manusia. Karena hukum buatan manusia bersifat lemah terbatas dan atas dasar kebermanfaatan semata.

Dalam hal ini, Islam sebagai agama ideologis memiliki jalan keluar atas permasalahan yang dialami saat ini . 

Agama Islam hadir bukan hanya sekadar agama ritual saja, tetapi sekaligus mengatur kehidupan berpolitik dan bernegara, termasuk dalam mengatur ekspor impor barang.

Islam akan mengatur semua permasalahan umat dan secara praktis diterapkan oleh sistem Islam dalam bingkai khilafah.

Dalam negara khilafah ini, petani akan diberikan modal baik secara subsidi atau tunai. Petani akan diberikan bantuan berbagai bentuk modal, peralatan, benih, teknologi ,obat-obatan, informasi dan sebagainya.

Khilafah juga menjamin infrastruktur untuk memudahkan pertanian, sehingga arus distribusi lancar.

Selain itu, khilafah juga akan menciptakan perluasan lahan untuk menambah hasil pertanian sehingga ketika ada kenaikan permintaan barang, petani tidak kekurangan karena sudah tersedia stok barang, stok barang di sini bukan dalam arti menimbun tapi lebih kepada persediaan barang ketika kurang.

Jika Islam mampu memberikan solusi yang praktis masihkah mau berharap pada kapitalisme yang sudah terbukti kecacatannya?

Wallahu a'lam bishshawab.