Dr.Hj.Septimar Prihatini, M.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Penulis Buku Asesmen Ilahiyah)

Siapa menyangka, ujian panjang perjuangan melawan penyakit coronavirus alias Covid-19 yang telah dinyatakan sebagai pandemi. Hingga hari ini masih banyak yang tengah berjuang melepaskan diri.

Terhitung secara nasional sudah 940 ribu kasus hingga hari ini 21 Januari 2021. Banten menduduki peringkat teratas dengan 22.828 kasus sebagaimana yang dirilis wikipedia. Dari sekian banyak kasus tersebut sebagian sudah berhasil sembuh dinyatakan negatif, sebagian tak tertolong hingga meninggal dan masih banyak lagi dalam masa perawatan.

Setahun sudah berlalu, ingat pertama kali berita ini saat saya dan keluarga sedang melakukan ibadah umrah di akhir tahun 2019. Tak lama kemudian tepatnya di bulan Maret negeri pertiwipun mulai kedatangan tamu makhluk renik ini. Berubah drastis seluruh sendi kehidupan dan perlahan lumpuh karena penyebarannya bukan main-main. Tentu, sebagai seorang praktisi pendidikan dan aktif di berbagai komunitas masyarakat saya wajib ikut mematuhi berbagai protokoler standar. Diantaranya sangat ketat menjaga 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak).  

Berbulan menjalani kondisi seperti ini dengan harap-harap akan segera berakhir setiap berganti pekan dan bulan. Hingga berganti semester, periode tahun ajaran baru bahkan telah masuk semester genap di tahun ini.

Tidak pernah terbayangkan, di samping betapa repotnya penataan berbagai urusan harus menyesuaikan dengan kehati-hatian agar terhindar dari penularan Covid-19, awalnya menimpa beberapa kenalan, teman, kerabat hingga keluarga dekat.

Dalam tulisan ini saya akan bercerita, sebuah pengalaman, rasa dan semangat di saat harus berhadapan melawan penyakit ini. Harapannya agar dapat menjadi pelajaran dan hikmah bagi siapa saja yang membaca serta membagikan pada yang membutuhkan.
Qadarallah adalah takdir yang tak kuasa untuk ditolak. Siapa saja bisa kena, tak pandang siapa dia tanpa pilah-pilih, termasuk saya, suami dan beberapa anggota keluarga kami menjadi bagian dari orang-orang yang harus ikut berjuang melawan virus ini.  Tepat di penghujung tahun 2020 karena kondisi sedang tidak fit kami coba periksakan. Hingga hasil tes antigen saya dinyatakan positif, dan disusul oleh anggota keluarga yang lainnya.

Tentu, sebagai manusia siapapun yang telah mengenal virus ini akan membayangkan  sederetan konfirmasi yang berbulan-bulan tentang wabah Corona. Sebagai muslim tentu kami mesti menerima ini bagian dari ketetapan Allah yang tidak boleh untuk disesali. Di lain sisi kami harus segera berpikir untuk segera sembuh-sehat kembali.

Mengapa Bisa Ke Wisma Atlet? 

Sedianya kami mencoba untuk isolasi mandiri dengan harap bisa berangsur pulih melalui suplemen dan obat-obatan. Beberapa hari kami jalani seluruh aktifitas di dalam rumah dan menjalankan protokoler isolasi.

Namun hari itu, Selasa 5 Januari 2021 suasana agak panik saat kondisi suami khususnya yang sudah sesak sulit bernafas. Kami harus mencari pertolongan tercepat yaitu ke rumah sakit. Sementara harus mencari rumah sakit rujukan Covid-19. Tidak semua mau dan boleh menanpung pasien Covid-19 semacam kami ini. Saat tiba di RS saya dan suami di CT scan paru di Siloam Kelapa Dua. Karena banyaknya pasien yang berdatangan dengan riwayat sama Covid-19, penuh di depan IGD hingga teras karena memang bukan diperuntukkan bagi pasien Covid-19. Sementara seluruh rumah sakit baik negeri atau swasta full.

Kami perlu oksigen buat suami yang sudah sangat kelelahan dan menderita. Butuh kesabaran dan tetap menata hati dalam keridhaan.

Singkat cerita dengan segala jurus ikhtiar mencari tempat perawatan, Allah beri kemudahan. Akhirnya alhamdulillah kami  bisa ditempatkan  di Wisma Atlet. Sebuah gagasan brillian Gubernur Anies Baswedan.Wisma ini menganggur sejak ajang Asian Games 2018. Sebuah karya spektakuler menyulap Wisma Atlet menjadi rumah sakit berdaya tampung ribuan tersebut.
Sekalipun utama diperuntukan bagi warga DKI dan sekitarnya. Ini adalah bagian dari pertolongan Allah, alhamdulillah wa syukrulillah, Allah mudahkan kami berdua diterima di sana.

Khusus suami dengan kondisi terpasang oksigen langsung ditangani dengan sigap dan teliti oleh para dokter dan perawat. Mereka dokter muda penuh dedikasi. Spesialis paru, penyakit dalam, jantung dan spesialis lainnya.  Sementara saya ditempatkan di salah satu kamar lantai 23 tower 6.  Bagaimana rasanya? semula sendiri takut tapi karena darurat, rasa takut itu hilang. Lagi-lagi saya mencoba menghadirkan kekuatan ruh menghadirkan Allah dalam setiap ruang. Berprasangka baik, walau butuh perjuangan tersendiri namun harus dilakukan selain doa tanpa henti.

Di sana kami mendapat makan yang lengkap gizi 3 kali sehari. Obat obatan minimal 3-5 jenis tiga kali sehari serta multivitamin.
ditambah dengan herbal pemberian saudara-saudara.

Berbagai obat herbal rekomendasi untuk Covid-19 saya minum. Sementara juga tidak lupa suntik insulin.
Semua dilakukan secara mandiri serta keinginan untuk sembuh dan sembuh. Motivasi kuat supaya bisa mengurus suami yang masih perlu _High Care._
Suami agak terbatas asupan obatnya karena harus selalu tersambung selang oksigen. Obat masuk melalui selang infus. Karena lebih cepat terserap dibanding obat minum.
Dalam kondisi seperti ini bertarung sekuat tenaga, tak lupa kami usahakan terus salat meski dengan segala keterbatasan gerak. Memaksimalkan bacaan salat sambil afirmasi terus konsentrasi kepada Allah Maha Penyembuh,  Penggenggam nyawa manusia, mohon diberi kemudahan urusan dan kesehatan.

Momentum Menguatkan Diri

Hari demi hari dijalani dengan penuh harap banyak perubahan. Di tengah perjuangan melawan Covid-19 mendengar ulama Ustdz. Ali Jabber wafat rasanya seperti kehilangan literan darah. Semangat sembuh masih melekat, tapi sedikit turun kadar penerimaan ikhlas, tersadarkan bahwa nyawa manusia tak kuasa digenggam kecuali oleh Allah azza wa jalla .
Walau sebelumnya kami mendengar beliau sudah melalui masa kritis Covid-19 dan sudah sembuh. Bahkan saya jadikan semangat buat suami agar _keep in fighting._
“AA Gym sembuh, Ustdz Ali Jabber juga sembuh, ayo pak kita berjuang..” itu selalu saya bisikkan saat suami tersengal sengal nafasnya.
"Semangat pak, kita masih banyak cita-cita dan perjuangan dakwah yang belum selesai.." demikian bisikku.
"Mohon kepada Allah agar amal dan niat kita beribadah, berjuang fii sabilillah lebih kuat untuk jadi wasilah kesembuhan kita.”
Berazzam untuk lebih bertakwa jika sembuh, 
menjadikan kami banyak belajar dari musibah ini.
Alhamdulillah wa syukrulillah, keikhlasan ini sudah kembali.

Banyak perasaan bergelora, namun Alhamdulillah dengan semakin yakin kepada keagungan-Nya membuat hati ini menjadi tenang. Terlebih lagi di saat melihat suasana sekitar, saya termasuk beruntung sebagai orang dewasa bisa mencoba mengendalikan perasaan agar menyatu dengan pikiran membuat tidak boleh berputus asa. Tengok anak-anak, bayi dalam gendongan dan dekapan ibunya betapa manusia kecil inipun harus turut berjuang melawan serangan Covid-19. Bukan hanya satu dua bahkan saya menyaksikan sekeluarga enam sekaligus dirawat di tempat ini. Wajah-wajah dengan harapan sembuh terlihat saat harus turun untuk berolah raga di lapangan. Sambil dalam hati saya berusaha terus berdoa semoga kondisi ini segera berakhir. Saya berpikir mereka tidak bisa sendiri menghadapinya, sangat butuh peran negara tentunya.

Saya menonton video dari salah seorang trainer- motivator menjelaskan tiga jenis orang yang kena serangan Covid-19 yaitu
1. OTG, dia tidak merasakan apa-apa, 2. Menengah, merasakan serangan virus yang menyakitkan. Demam, segala sakit badan, batuk tapi masih bisa bernafas.
3. Berat , hingga sesak dan sulit bernafas. Sempurna sakitnya.
Saya termasuk jenis ke-2. Sementara suami jenis ke-3.

Hingga tulisan ini dibuat, saya belum bisa pulang karena kondisi suami masih observasi di High Care Unit. Walau saya
sudah tujuh hari yang lalu dinyatakan negatif dan sudah bisa pulang.
Tapi harus rela mengorbankan pemulihan saya terpakai untuk merawat suami yang masih belum bisa turun dari tempat tidur terutama untuk kebutuhan yang bersifat pribadi.

Luar biasa saya menyaksikan para dokter dan perawat di Wisma Atlet ini, kerja tidak ada hentinya. Inilah sebuah dedikasi kerja dan loyalitas  kemanusiaan. Saya terpanggil berusaha membantu paling tidak untuk urusan suami. Mulai ganti seprei, ganti baju hingga bersih-bersih dan sikat gigi. Bahkan kadang sampah tissue yg berantakan dibuang sembarangan oleh para pasien karena tak berdaya untuk bangun, saat sink mampet saya bantu bersihkan. Ini saya lakukan sambil terus bershalawat.
Semua saya kondisikan dalam ruang otak alpha dan theta seperti yang jelaskan dalam video singkat sang trainer.

Saya menceritakan ini untuk menggiring hati agar senantiasa berbagi. Saya lakukan semua dengan ikhlas. Ternyata ikhlas itu nikmat dan meringankan penyakit. Bersabar tentunya menjalankan berbagai ikhtiar penyembuhan dapat mengalahkan keluh kesah. Inilah yang terbaik, maha suci Allah dalam segala hal. Mengatur ranah kuasaNya bagi seluruh hamba : "mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak"  inilah lingkaran "musayyar" atau takdir-Nya. Kita pun harus tetap rida, keridaan kita akan membuat jiwa menjadi lapang. Sementara ikhtiar adalah ranah lingkaran kuasa manusia sebagai "mukhayyar" di samping usaha berobat tentu tidak lupa selalu berdoa.

Teringat menghadirkan konsep asesmen ilahiyah dalam kondisi sakit amatlah penting karena pada kondisi inilah kadar iman kita akan teruji. Saya berusaha menghadirkannya. Al-Qur'an tentunya sebagai obat,
saya juga meminta suami untuk membaca sebanyak mungkin ayat-ayat kesembuhan. Yang saya tahu suami banyak menghafal  ayat-ayat dalam kesehariannya. Fokuskan pikiran sambil membayangkan paru-parunya bersih oksigen mengalir, lendir-lendir keluar buang penyakit.

Kekuatan pikiran itu sangat penting. Allah dihadirkan saat berdoa, berdialoglah dengan Allah agar berasa nikmat ibadah bukan sekedar lisan yang diwiridkan. Saya berkeyakinan hal
ini bagian dari olah pikir penyembuh. Secara fisik bisa sambil melakukan totok punggung di area paru dan sekitar pernafasan.

Di saat yang sama berpikir positif dan menghadirkan Allah secara langsung mendapat peningkatan iman dan imun. Dua hal ini akan seiring sejalan. Sekalipun capek, lelah menyertai fisik saya rasakan yang harus turun naik lift 3-4 kali dari kamar lantai 23 ke ruang HCU lantai 2, tempat suami dirawat. Semua dilakukan dengan kekuatan karena Allah. Saya pikir saya butuh kekuatan selain diri sendiri. Saat itulah hadirnya kekuatan. Nikmat iman dalam Islam sungguh luar biasa. Termasuk mengamalkan kata-kata sabar, teringat firman Allah Swt, yang artinya :

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa mereka batas." (TQS.az-Zumar[38]:10).

Begitupun tentang ikhlas, Rasulullah Saw. bersabda :

"Sungguh Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridha Allah semata."(HR. an-Nasai dan Abu Dawud).

Khatimah

Demikian sekelumit perjuangan hari-hari kami dalam proses penyembuhan. Jika ada kebaikan di dalamnya semoga menjadi dakwah bil haq. Allah menerimanya dan menjadi wasilah kesembuhan suami saya dan keluarga. Ketetapan terbaik dari sisi Allah. Tugas kita taat pada-Nya, menjalankan syariat yang telah dititahkan baginda Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasalam.

Wallahu alam bi shawab.

 
Top