Oleh : Rengga Lutfiyanti

Mahasiswi dan Pegiat Literasi


“Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, anda dapat mengubah dunia”. 

Itulah salah satu kutipan yang disampaikan oleh Nelson Mandela. Suatu ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya sebuah pendidikan. Ilmu merupakan pelita bagi manusia. Tanpa ilmu, tidak akan ada perabadan. Oleh karena itu, segala upaya dilakukan agar pendidikan mampu mencetak generasi yang unggul. 

Seperti yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Vokasi (Ditjen Vokasi) Direktorat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang telah melakukan penyesuaian kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match.

Ada lima aspek perubahan yang dibuat untuk memajukan pendidikan vokasi tersebut, yaitu:

1. Mata pelajaran yang bersifat akademik dan teori akan dikontekstualisasikan menjadi vokasional, misalnya matematika dan bahasa Indonesia akan menjadi matematika terapan dan bahasa Indonesia terapan.

2. Magang atau praktik kerja industri (prakerin) minimal satu semester atau lebih.

3. Terdapat mata pelajaran project base learning dan ide kreatif kewirausahaan selama tiga semester.

4. SMK akan menyediakan mata pelajaran pilihan selama tiga semester, misalnya siswa jurusan teknik mesin dapat mengambil mata pelajaran pilihan marketing.

5. Terdapat co-curricular wajib di tiap semester, misalnya membangun desa dan pengabdian masyarakat. (news.detik.com, 9/1/2021)

Adanya perombakan kurikulum tersebut diharapkan mampu meningkatkan serapan tenaga kerja bagi lulusan industri. Perubahan ini sejalan dengan arahan yang diberikan oleh Mendikbud. Bahwasannya kurikulum dan pengajaran pendidikan vokasional harus fokus pada indsutri. Ia juga menambahkan, bahwa peran industri juga harus ditingkatkan untuk menjadi pemilik konten daripada sekolah-sekolah vokasi. (tribunnews.com, 21/12/2020)

Namun yang menjadi pertanyaan, benarkah perombakan kurikulum tersebut akan menjadikan peserta didik menjadi lebih baik lagi? Tidakkah justru fakta tersebut menunjukkan keserakahan sistem kapitalisme? 

Paradigma pendidikan yang berbasis kapitalisme, telah menggeser hakikat pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan yang berbasis kapitalisme justru menjadikan genarasinya sebagai budak industri. 

Terlebih lagi pasca diterapkannya ekonomi berbasis ekonomi pengetahuan (Knowledge Based Economy/KBE). Pendidikan bukan lagi menjadi pencetak SDM yang berkualitas, baik dari aspek karakter maupun kemanfaatannya bagi umat manusia. Melainkan mencetak SDM sebagai mesin industri. 

Ilmu tidak lagi bertujuan mencerdaskan anak bangsa. Tetapi tujuan mereka dalam menuntut ilmu hanya terdorong oleh keinginan langsung kerja setelah lulus. Ditambah model "Tripel Helix", yaitu Academic-Business-Goverment, juga telah mengubah wajah pendidikan saat ini. Dalam model "Tripel Helix", industri berperan sebagai rumah produksi, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, dan universitas sebagai katalisatornya. 

Sinergitas ketiga sektor tersebut, justru semakin mengukuhkan transformasi pendidikan berbasis kapitalisasi pengetahuan. Yaitu melahirkan SDM dalam inovasi, daya saing, dan skill siap kerja. Setiap lulusan diharapkan memiliki bekal dalam menghadapi dunia kerja. 

Begitulah prinsip para pencari ilmu yang berada dalam pengaruh sistem kapitalisme. Keterampilan dan kompetensi kerja merupakan poin utama yang menjadi acuan untuk mengukur seberapa besar serapan tenaga kerja di dunia industri. Dengan diterapkannya kebijakan KBE, pendidikan diarahkan untuk memenuhi pasar kerja. Maka tidak mengherankan, jika keberhasilan suatu institusi pendidikan dimaknai dengan terjalinnya hubungan harmonis antara dunia pendidikan dan industri.

Tentu hal tersebut akan berbeda jika yang digunakan adalah sistem Islam. Sistem Islam tidak akan menjadikan anak didik sebagai budak industri. Tetapi akan membekali mereka dengan berbagai keterampilan dan keahlian di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga akan dibekali untuk mampu berdikari menciptakan peluang usaha agar mereka tidak bergantung kepada korporat. 

Sistem pendidikan Islam tidak berasaskan pada kebijakan kapitalistik seperti yang terjadi saat ini. Orientasi pendidikan dalam Islam berasaskan akidah Islam. Oleh karena itu, tujuan pendidikan dalam sistem Islam tidak akan lepas dari asas tersebut. 

Tujuan pendidikan dalam sistem Islam antara lain:

1. Membangun kepribadian yang Islami. Yaitu pola pikir dan pola sikap berdasarkan Islam. Sehingga output peserta didik yang dihasilkan bukan menjadi manusia yang kering dari ilmu agama.

2. Mendidik anak didik dengan keterampilan dan pengetahuan agar dapat berorientasi sesuai dengan kebutuhan lingkungan, baik peralatan, inovasi, dan berbagai bidang terapan lainnya. 

3. Mempersiapkan anak didik untuk dapat masuk ke jenjang perguruan tinggi dengan mempelajari ilmu-ilmu dasar yang diperlukan. Baik itu ilmu tsaqofah maupun ilmu sains. 

Berdasarkan visi pendidikan yang demikian, maka pendidikan vokasi dalam sistem Islam akan dirancang untuk mempersiapkan teknisi spesialis dalam teknologi modern. Selain itu, keilmuan yang akan diajarkan dalam pendidikan vokasi adalah hal-hal yang terkait dengan kemaslahatan umat. 

Keilmuan dan keterampilan pendidikan vokasi akan memperhatikan kawasan tempat tinggal anak didik. Apakah di daerah industri, pertanian dan perdagangan, pegunungan, dataran rendah, pesisir, daerah panas atau daerah dingin. Tujuannya adalah untuk mendidik mereka agar menjadi lulusan yang kompeten dalam ilmu dan praktik. 

Itulah kurikulum pendidikan vokasi dalam Islam. Tidak hanya menjadikan generasi memiliki kemampuan dan keterampilan yang mumpuni, tetapi juga memiliki kepribadian yang Islami. Semuanya disusun demi kemaslahatan umat. Oleh karena itu, sudah saatnya kita beralih kepada sistem yang mampu menjamin kemaslahatan umat.

Wallaahu a'lam bishshawaab.

 
Top