Korban Terus Berjatuhan, Kemanakah Arah Pembinaan Generasi Z Sesungguhnya?


Oleh : Maretika Handrayani, S.P

(Aktivis Dakwah Islam) 


Pemuda adalah potret peradaban. Kualitas pemuda hari ini, menentukan nasib generasi. namun bila rusak kondisi para pemuda hari ini, suramlah nasib bangsa tersebut di kemudian hari.  

Namun realitanya, potret generasi Z hari ini masih diwarnai dengan beragam kenakalan dan kerusakan. Berita yang tak sedikit kita dengar di tengah pandemi ada siswa yang menjadi korban kecanduan gadget bahkan sampai masuk ke Rumah Sakit jiwa. 

Tentu ini sebuah PR besar bagi kita semua terlebih bagi para penguasa yang memimpin negeri ini. Kemana arah pembinaan Generasi Z sesungguhnya? Atas fenomena yang mengkhawatirkan ini, cukupkah kesalahan hanya kita tunjukkan kepada para remaja? Saat realitanya kurikulum pendidikan yang terus berubah-ubah gagal mencetak generasi takwa bervisi mulia.

Di sisi yang lain, absennya kehadiran negara dalam melindungi remaja dari ganasnya dunia maya dengan konten-konten yang merusak pemikiran dan perasaan remaja berikut puluhan aplikasi-aplikasi di gadget mereka yang bermuatan gaya hidup hedonis dan permissive turut menjadi ancaman bagi anak-anak kita.

Problem sistemis yang saling berkelindan buah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) sebagai asas dalam tatanan kehidupan hari ini terus menjatuhkan korban jiwa. Seharusnya negaralah yang menjadi benteng utama dalam melindungi generasi dari berbagai kerusakan pemikiran dan tingkah laku mereka. 

Negara harus hadir dalam mengerahkan segenap sumber daya untuk menciptakan sistem pendidikan yang kondusif, gratis dan berkualitas untuk generasi. Tidak akan sulit bagi negara yang berasaskan Islam yang meletakkan pendidikan sebagai kebutuhan mendasar setiap masyarakat misal dengan membuat aplikasi hingga mengatasi kendala teknis agar hak pendidikan setiap generasi terpenuhi. Yang menjadi sulit dan seolah tak mendapat solusi adalah ketika sekularismelah yang menjadi asas negara, negara gagal mendefiniskan bahwa pendidikan adalah kebutuhan mendasar semua rakyat yang wajib dipenuhi secara gratis dan berkualitas.  

Bukankah Rasulullah saw. bersabda: 

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu pengurus rakyatnya, dan ia bertanggung jawab atas seluruh yang pengurusan rakyatnya. (HR. Al-Bukhari)

Al-Imam yang menjadi pemelihara yang disebutkan dalam hadist ini, memang hanya akan terwujud dalam sistem terbaik yang pernah dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat beliau dalam sistem kekhilafahan yang menerapkan Islam kafah. Dalam negara khilafah, sistem pendidikan akan melahirkan  generasi muda yang kokoh iman, punya integritas, pola pikir dan sikapnya sesuai ajaran Islam, punya ilmu dan keterampilan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Sistem pergaulan sosial dalam Islam mampu menjaga kesucian generasi dari rusaknya pergaulan bebas. Sistem ekonomi Islam akan memberi dukungan finansial yang cukup dalam rangka pengembangan potensi dan pengabdian generasi terhadap umat. 

Hanya dengan penerapan khilafahlah potensi penting generasi muda dapat teroptimalisasi dalam masyarakat serta terjaga jiwa dan kemuliaannya. 

Selayaknya kita segera perjuangkan sistem terbaik yang akan menjamin generasi muda tumbuh berkembang dalam tatanan hidup yang akan memuliakan manusia dan seluruh alam semesta. Allahu a’lam bishshawab.