Oleh : Fadhillah Humairah 

(Aktivis Remaja Baubau)


Setelah tahun berganti, lagi-lagi muncul berita para remaja yang melariskan alat kontrasepsi berupa kondom. Pada beberapa apotek di hari menjelang penutupan tahun 2020. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan dari Yati (25) seorang karyawati di salah satu apotek jalan Sao Sao Kota Kendari. 

Yati mengatakan bahwa dua hari menjelang tahun baru alat kontrasepsi berupa kondom mampu terjual dua kali lipat dari sebelumnya. Kebanyakan pembeli berasal dari remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Tak hanya Yati, Rena yang juga Karyawati di apotek bagian Piere Tandean, Kecamatan Baruga mengaku bahwa dalam tiga hari sebelum tahun baru, kondom cukup laris bahkan satu orang membeli dua hingga tiga bungkus. (Zonasultra.com, 31/12/20)

Buah Penerapan Sistem Sekuler

Peristiwa rusaknya remaja akibat freesex menjelang bergantinya tahun terus terjadi di setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan alat kontrasepsi sudah menjadi barang yang sangat mudah untuk didapatkan. Sehingga, membuka cela bagi siapa saja termasuk para remaja untuk melakukan hubungan di luar ikatan pernikahan. Selain itu, mudahnya dalam mengakses porno melalui genggaman juga menjadi pendukung kemaksiatan terjadi.

Tak berhenti sampai di situ, kurangnya kontrol masyarakat juga menjadi salah satu penyebab mengapa hingga saat ini peristiwa itu masih terulang. Tidak adanya pengawasan terhadap pergaulan pada laki-laki maupun perempuan membuat tingkah laku remaja semakin bebas. Sehingga, kecelakaan pada pergaulan niscaya terjadi. Samar dalam mengatur pergaulan inilah yang menjadikan negara seolah berlepas tangan dari permaslahan yang fatal ini. Bahkan, hingga saat ini belum ada hukum maupun sanksi yang tegas yang mengatur tentang perzinahan remaja. Hal inilah yang menjadi dalih untuk para remaja melakukan tindakan maksiat tanpa rasa takut.

Belum lagi saat ini pendidikan yang dijalani hanya berorientasi pada asas materi. Dimana para peserta didik hanya dibekali cara agar siap bersaing di dunia perindustrian dan dunia kerja. Agar mereka mampu mempunyai penghasilan sendiri setelah menempuh pendidikan. Padahal, fungsi pendidikan bukan hanya sekadar materi saja. Akan tetapi, pendidikan harusnya menjadi sangat penting bagi para remaja agar mengetahui perannya sebagai seorang generasi pelanjut bangsa. Sebab, di dunia pendidikanlah para remaja banyak mendapat pembelajaran dan pengalaman baru. Bahkan, waktunya pun banyak dihabiskan pada pendidikan.

Mirisnya, meski hal ini terus terulang nampaknya tak kunjung mendapat perhatian dari negara. Beginilah jika hidup dalam negara yang menerapkan sistem buatan manusia berbasis sekularis. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan dan menganggap bahwa agama itu hanya menjadi halangan dalam beraktivitas. Akibatnya munculah prinsip kebebasan berperilaku yang menjadi dalih dalam melakukan perbuatan tanpa melihat halal haram maupun mudharat yang ditimbulkan oleh perbuatannya. Oleh karena itu, tak heran jika hari ini kita melihat freesex di tengah masyarakat sudah menjadi hal yang dianggap biasa saja. Inilah yang menjadi akar dari segala permasalahan yang terjadi di atas. Sebab saat ini kita menerapkan sistem buatan manusia yang telah terbukti kelemahan akalnya.

Islam Solusi Tuntas

Dalam Islam, freesex atau lebih dikenal dengan zina sangat bertentangan dengan Islam. Sebab, zina adalah hubungan badan yang dilakukan di luar konstitusi pernikahan. Oleh karena itu, bagi pelaku yang melakukan perbuatan ini akan diberi sanksi yang tegas. Baik usia remaja maupun dewasa akan dihukum 100 kali cambukan bagi pelaku zina yang belum menikah. Bagi yang sudah menikah akan dihukum rajam. Dimana pelaku akan ditanam dalam tanah dengan menyisakan kepala, kemudian dilempari dengan batu yang tidak kecil dan tidak besar hingga mati.

Megenai penjualan kondom dalam Islam tidaklah dilarang, tetapi akan diatur dengan sangat tegas dan akan diawasi dengan ketat oleh negara. Sebab, kondom merupakan alat kontrasepsi bukan untuk mencegah penyakit menular akibat seks bebas. Seseorang yang membeli alat kontrasepsi juga akan dijatuhi sanksi ketika tidak ada kemaslahatan di dalamnya. Apalagi pembelinya masih di usia remaja yang belum terikat pernikahan, tentu akan dijatuhi sanksi yang tegas. Perlu diketahui bahwa sanksi yang diberikan oleh Islam berbeda dengan sanksi pada sistem saat ini. Sebab, saknsi yang diberikan oleh Islam akan memberikan efek jera dan penghapus dosa.

Selain itu, Islam juga mengatur interaksi pada laki-laki dan perempuan. Mereka hanya diperbolehkan berinteraksi di ranah pendidikan, muamalah, kesehatan, dan persanksian. Sebab dalam Islam, perempuan dan laki-laki tidak diperbolehkan untuk berikhtilat atau campur baur. Sehingga, kehidupan antara mereka memang terpisah. Dengan demikian, maka perilaku maksiat tersebut tidak akan terulang terus-menerus. Oleh karena itu, jika kita benar-benar menginginkan remaja selamat dari pergaulan bebas, maka solusi yang kita butuhkan hanya satu, yakni tegaknya Islam kembali di muka bumi ini.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top