Khilafah Menghapus Tuntas Aturan Bermasalah



Oleh : Sasmin

(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, banyak negara di dunia termasuk Indonesia yang hingga saat ini masih menempatkan kedudukan perempuan diposisi yang tidak jelas. Berdasarkan hasil studi Bank Dunia, ada lebih dari 150 negara memiliki aturan yang justru membuat hidup perempuan menjadi lebih susah (KOMPAS.com, 20/12/2020).

Di dunia, tidak hanya Indonesia memang cenderung meletakkan perempuan didalam posisi apakah itu dari norma nilai-nilai kebiasaan budaya, agama sering menududukkan perempuan itu di dalam posisi yang tidak selalu jelas, kata Sri Mulyani (KOMPAS.com, 20/12/2020).

Potensi wanita dalam melakukan sesuatu tentu berbeda dengan pria sebab wanita dan pria diciptakan memang sama namun ada aspek-aspek yang membedakan atas keduanya seperti kekuatan, otak, logika atau emosional, bentuk tubuh bahkan fitrahnya.

Jika kita membuka sejarah peradaban kuno, sejak dulu wanita selalu mendapat diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dimasa Yunani dan Romawi Kuno wanita selayaknya budak yang hanya melayani dan pemuasan bagi suaminya dan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam segala urusan, masa Cina Kuno anak perempuan tidak mendapatkan perlakuan baik dalam keluarganya, sejak kanak-kanak sudah mengalami kesengsaraan bahkan mereka dijual menjadi budak orang elit, masa Arab jahiliyah anak perempuan dikubur hidup-hidup.

Akibatnya banyak wanita trauma karena tertekan dengan aturan-aturan yang sangat tak menghargai wanita sehingga muncullah paham feminisme yang mengusung  gagasan-gagasan untuk menuntut kesetaraan dan sampai saat ini paham feminisme masih di emban diberbagai negara salah satunya Indonesia.

Faktanya feminis bukan sebuah solusi untuk mengubah nasib wanita bahkan perlakuan sama buruknya menyusahkan dan mengeluarkan wanita dari fitrahnya, bekerja keras untuk mencapai materi dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dalam demokrasi, problem perempuan diselesaikan dengan memperbaiki aturan lebih mendorong pada kebebasan namun kebebasan ini terbukti melahirkan masalah baru wanita layaknya tulang punggung bagi keluarga yang diwajibkan untuk bekerja demi memenuhi semua kebutuhan keluarga.

Dilansir dari KOMPAS.com (20/12/2020), Sri Mulyani mengatakan “Kemudian kalau dia udah bekerja dia nggak boleh punya rumah atau tokoh atau usaha atas nama perempuan harus atas nama laki-laki dan itu membuat perempuan tidak bisa mendapat akses mendapat kredit ke bank”.
Dalam sistem kapitalisme terdapat ketimpangan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan hak lainnya yang seharusnya pemerintah menyediakan secara gratis  justru membebankan masyarakat.

Pemerintah yang berkewajiban memenuhi kebutuhan rakyat justru mementingkan dan menguntungkan pribadi dan kaum elit kapitalis, negeri yang memiliki SDA yang sangat melimpah justru dikelolah oleh swasta Asing dan Aseng, pemerintah berkewajiban membuka lapangan kerja yang luas justru di penuhi oleh pekerja asing sehingga internal khususnya laki-laki yang memperoleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya termaksud istri dan anak perempuannya semakin sulit, pada akhirnya hidup perempuanpun makin tidak jelas dan jauh dari kesejahtraan.

Semua berakibat karena sistem demokrasi yang di emban negeri ini  tergiur akan materi membuat pemerintah sewenang-wenang membuat aturan dan melupakan tugas mengurus rakyat. Ditambah lagi demokrasi merupakan sistem yang lahir dari kapitalisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan sehingga aturannya dibuat oleh manusia yang serba terbatas dan dipenuhi nafsu.

Umat  tidak membutuhkan ganti pemimpin melainkan  pergantian sistem yang membawa mereka pada kemaslahatan dan membawa solusi dari masalah dan islam memiliki solusi tuntas dari masalah-masalah masayarakat atau negara.

Dalam Islam pendidikan  bagi wanita sangat penting dan bukan bermaksud menyetarakan  kedudukan wanita dan pria tetapi tidak lain untuk mengajarkan keduanya  mengenai gitrahnya masing-masing, wanita diwajibkan sekolah bukan untuk menjadikannya tulang punggung keluarga melainkan mempersiapkan diri menjadi madrasah pertama untuk bisa mendidik anak-anaknya sesuai syariat islam.

Wanita mendapatkan hak-hak sebagaimana laki-laki mendudukinya seperti mengembangkan ekonomi keluarga dengan cara berdagang, industri dan pertanian.

Islam telah menempatkan wanita pada posisi yang layak dan mengkhususkan kepada wanita dibeberapa perkara, sebab  Allah yang telah mencicptakan wanita lebih mengetahui apa yang cocok dan sesuai dengan pembentukannya.

Islam memberikan standar kebahagiaan yang berbeda dengan sistem kapitalis yang menjadikan materi sebagai puncak pencapaian sedangkan standar kebahagiaan dalam islam yaitu rida Allah Swt.

Pemimpin dalam Islam memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan hidup rakyatnya khususnya wanita janda termaksud mengurangi  pengangguran dengan membuka lapangan kerja yang luas  dan tidak memperkenankan tenaga asing untuk masuk,  kepemimpinan khilafah merujuk pada kepentingan umat bukan kepentingan pribadi.

Oleh karena itu umat membutuhkan khilafah yang merujuk pada aturan Allah yang dijalankan individu hingga negara maka ada jaminan bahwa aturan tersebut melahirkan maslahat dan solusi bagi masalah.

Wallahu a'lam bisshawab