Ketika Para Nakes Harus Menjadi Tumbal



Oleh : Neti Ummu Hasna


Kapitalisme yang Kejam

Penanganan wabah Covid 19 di Indonesia terbilang semrawut dan kurang serius. Maka dampaknya pun fatal. Terbukti saat ini, wabah menyebar merata di 34 provinsi tak terkendali. Angka kematian penduduk pun semakin tinggi. Kurangnya fasilitas dan jaminan keselamatan yang memadai untuk kalangan medis juga harus dibayar mahal. Tragis, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia, dan masuk ke dalam lima besar di seluruh dunia.


"Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19," ujar Adib Khumaidi, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI) dikutip dari siaran pers PB IDI, Sabtu (2/1/2021).


"Jumlah itu terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis," tuturnya.


Adib merinci, para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 131 dokter umum, 101 dokter spesialis dan serta 5 residen yang seluruhnya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).

Keberadaan tenaga medis tentu merupakan faktor yang sangat penting dalam urusan pelayanan kesehatan suatu negara. Untuk melahirkan para tenaga medis yang ahli pun membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Sehingga, dengan banyaknya tenaga medis yang meninggal tentu akan berdampak pada semakin menurunnya kualitas pelayanan kesehatan. 


Memang dalam sistem kapitalisme, nyawa manusia seperti tak memiliki nilai berarti. Hal ini terbukti dalam penanganan wabah Covid 19 di Indonesia selama ini. Kebijakan-kebijakan yang diambil, seperti PSBB dan new normal dan keengganan untuk melakukan lockdown total, menunjukkan pemerintah cenderung lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan dengan keselamatan rakyat termasuk para nakes.


Andaikata pemerintah mau mengambil langkah-langkah yang tepat dalam penanganan wabah, tentu kematian para tenaga kesehatan bisa diminimalisir atau bahkan tidak ada sama sekali. Karena dengan banyaknya tenaga medis dan kesehatan yang meninggal, negaralah yang akan merugi. Ditambah saat ini wabah belum usai. Kondisi yang semakin runyam sudah terbayang di depan mata. Anehnya hal ini tidak menjadi perhatian dari pemerintah.


Beda kapitalisme, beda pula dengan Islam. Dalam Islam nyawa atau keselamatan jiwa adalah prioritas utama yang harus dilindungi negara. Penguasa senantiasa berupaya mewujudkan penjagaan nyawa manusia sebagai bagian dari tujuan syariat Islam. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat sebagaimana keamanan dan pendidikan yang harus dijamin pemenuhannya oleh negara. Pelayanannya tidak berorientasi pada materi, seperti apa yang terjadi pada sistem kesehatan saat ini.


Negara pun memuliakan para nakes dengan melengkapi kebutuhannya, seperti APD, obat-obatan, dll. Sistem keuangan yang kuat, akan mampu memenuhi itu semua. Selain itu, jam kerjanya pun akan manusiawi, nakes tak akan dibebankan dengan jam kerja yang berat walaupun saat pandemi. Karena jumlah nakes akan banyak dan berkualitas.


Sistem pendidikan yang dikendalikan penuh oleh negara akan menghasilkan tenaga medis yang berlimpah dan berkualitas. Pendidikan akan sangat murah dan gratis karena dijamin negara. Beban biaya pendidikan tidak diberikan pada individu. Termasuk juga dana penelitian akan besar-besaran digelontorkan pemerintah, apalagi masa pandemi agar vaksin cepat ditemukan.


Inilah gambaran penerapan sistem kesehatan dalam Islam yang saling berkaitan dengan sistem yang lain seperti ekonomi dan pendidikan. Semuanya lahir dari sebuah aturan yang haq yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Benar. Sudah saatnya kita mencampakkan sistem kapitalisme yang tidak pernah memanusiakan manusia dan beralih pada sistem Islam yang mulia dan adil.