Oleh : Adibah NF

Alumni Branding for Writter 

Batch 7


“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (TQS. At-Tahrim: 6)


Perhatian keluarga muslim terhadap kondisi yang terjadi dalam kehidupan saat ini, semakin tampak dari keinginannya untuk kembali pada ajaran Islam. Mereka mulai menyadari pentingnya membentengi keluarga dengan nilai-nilai agama. Yaitu dengan menjadikan agama sebagai tolok ukur dalam kehidupan keluarganya. Mereka semakin sadar dengan apa yang dihadapi dan dirasakan saat ini, kehidupan keluarga kini semakin mengkhawatirkan.


Berawal dari adanya kesadaran ketika menghadapi banyaknya problem yang menghantui kehidupan keluarganya, bertambah kuat keinginan untuk menyelamatkan keluarga, agar segera keluar dari semua permasalahan yang dianggap sangat megerikan itu. Seperti tren perceraian semakin tinggi akibat perselingkuhan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dekadensi moral, maraknya pergaulan bebas baik di kalangan remaja maupun orang dewasa, narkoba, hamil di luar nikah, kemiskinan, pengangguran dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Hal ini cukup menjadi alasan bagi mereka untuk menjadikan agama sebagai penyelamat keluarganya. 


Di tengah antusias keinginan untuk kembali kepada Islam, bertolak belakang dengan isu radikalisme yang semakin massif pula diaruskan. Radikalisme yang dianggap sebagai cikal bakal dari adanya gerakan terorisme. Mirisnya, isu ini selalu diidentikkan dengan Islam, ajarannya dan pemeluknya. Padahal faktanya tidak semua para pelaku tindak kekerasan dan kejahatan itu adalah orang Islam.


Derasnya upaya dilakukan rezim sekuler melalui isu radikalisme. Dimana hal tersebut sengaja disematkan kepada keluarga muslim untuk menghalangi dan menjauhkan mereka dari aturan dan hukum Islam yang benar. Juga berupaya menggerus pemikirannya agar tidak lagi ada keinginan untuk menerapkan aturan Islam dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsanya. Mereka yang ingin menerapkan aturan hidupnya berdasarkan Islam kerap dilabeli sebagai muslim radikal. Dan mereka menyebutnya dengan muslim moderat, bagi siapa saja yang mengikuti aturan dan gaya hidup Barat. Apalagi mengagumi dan ikut menyebarkan serta membelanya.


Melalui narasi-narasi yang mereka buat ini, tidak lain untuk membidik umat Islam. Mereka sengaja membuat beberapa label dengan harapan terjadi konflik antar saudaranya sendiri (politik belah bambu). Sehingga mereka disibukkan dengan membela masing-masing kelompoknya, mazhabnya, bahkan ras dan golongannya. Sampai memalingkan mereka dari tujuan sesungguhnya yakni kembali kepada Islam kaffah. Strategi ini pun berhasil mengelabui umat Islam. 


Keterpurukan dan kemunduran yang dialami umat Islam adalah fakta yang sangat jelas. Karena saat ini umat Islam masih banyak mengadopsi pemikiran sekuler. Terbukti mereka masih menggunakan ideologi kapitalisme dalam menimbang dan mencari solusi segala sesuatunya dengan standar dan prinsip Barat. 


Kondisi inilah yang terus dimanfaatkan oleh rezim sebagai langkah untuk menjegal dakwah Islam kaffah dan khilafah terus digencarkan. Dengan stigmatisasi, monsterisasi, bahkan kriminalisasi ajaran Islam. Dihembuskan pula narasi moderasi Islam secara terbuka terhadap nilai-nilai Barat dan ditampilkan sebagai Islam yang ramah terus diaruskan. Sebaliknya, ajaran Islam kaffah dan khilafah terus dipropagandakan sebagai Islam yang keras dan tak layak bagi mereka. 


Sejatinya, Islam adalah agama sekaligus mabda/ideologi bersumber dari wahyu Allah Swt., kemudian  diwahyukan kepada Baginda Rasulullah saw. Tidak selayaknya kebenarannya ditimbang dengan ideologi kapitalisme maupun persepsi Barat. Namun semestinya ditimbang hanya dengan akidah Islam. Yang terpancar darinya berbagai aturan dan sistem hidup yang mampu menyelesaikan problematika kehidupan. Dan yang mampu menjawab pertanyaan besar berkaitan dengan dari mana manusia berasal, mau apa ada di dunia ini dan akan kemana setelah kehidupan ini. Hanya Islamlah yang mampu menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan akal manusia karena jawaban yang disodorkan sesuai dengan fitrah manusia.


Maka sudah saatnya keluarga muslim bersikap dan mampu menegaskan bahwa sumber solusi atas segala problematika saat ini adalah menerapkan Islam kaffah bukan sistem kapitalisme. Serta membongkar kedok mereka para penguasa dan pemegang kebijakan saat ini, yang tunduk pada sistem kapitalisme dan patuh pada kafir penjajah. Bahkan mereka rela menggadaikan agamanya dan mengorbankan saudaranya sendiri demi dunia.


“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikan kepada Allah Swt. (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (Al-Baqarah: 204)


Dari sini penting dipahami, bahwasanya keluarga muslim tidak boleh mudah terseret arus narasi yang terus diaruskan kafir Barat dan para pengikutnya. Karena mereka tidak akan berhenti hingga umat Islam mengikuti mereka. Namun umat harus berpegang teguh pada Islam dan mempelajarinya dengan baik dan benar. Di samping itu penting dilakukan oleh keluarga muslim agar ikut berkontribusi dalam perjuangan sebagai upaya menegakkan Islam kaffah. 


Tidak diragukan lagi, Islam adalah sebuah sistem aturan dan hukum yang mampu memecahkan dan menyelesaikan permasalahan manusia. Terbukti bagaimana Islam memberikan aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. melalui jalan aturan akidah dan ibadah. Di samping mengatur manusia dengan dirinya sendiri melalui aturan terkait makanan, pakaian dan akhlak. Juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya melalui jalan muamalah dimana di dalamnya termasuk masalah ekonomi, pendidikan, keamanan, politik, dan lain-lain. 


Dalam firman-Nya Allah Swt. mengatakan yang artinya,”…. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu .…” (TQS. Al-Maidah: 3)


Islam tidak pernah memisahkan agama dari kehidupan sebagaimana yang diyakini dan dianut oleh kapitalisme dengan akidah sekulernya. Seluruh perbuatan dalam Islam diatur dengan jelas. Islamlah yang mampu memberi solusi hakiki, kuncinya hanya dengan menerapkan Islam kaffah dalam seluruh sendi  kehidupan. 


Dengan demikian, keluarga muslim akan bahagia hanya dengan Islam yang diterapkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan negara. Dalam wujud Daulah Khilafah Islamiyyah. Dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi/mabda yang berhasil membuat gemilangnya peradaban dunia yang menjadikan seluruh manusia berada dalam kesejahteraan, keadilan, keamanan dan ketenangan. Sebagaimana dicontohkan oleh Raulullah saw. di awal berdirinya daulah Islam di Madinah Al-Munawarah dan dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya.

 

Para pemimpin Islam saat itu yakni para khalifah, tidak ada satu pun yang menerapkan selain hukum dan aturan Islam. Selain ia adalah kewajiban dari Allah Swt., juga bukti yang ditunjukkan atas kecintaannya kepada Rasulullah saw. Sebab, salah satu wujud cinta kepada beliau yakni dengan mengikuti apa-apa yang beliau jalankan. Siapa saja yang menginginkan keluarganya selamat dan keluar dari berbagai persoalan saat ini, maka berjuanglah dengan penuh kesungguhan agar syariat Islam bisa dijadikan pedoman dan diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga Islam pun bisa tegak kembali menjadi mercusuar dunia. Tidak ada satu pun negara yang akan meremehkannya. Apalagi berani mengadu domba umat Islam.

  

Wallahu a’lam bishshawwab.

 
Top