Oleh : Rayani Umma Aqila 


Kejahatan seksual, khususnya terhadap anak, akhir-akhir ini makin mengkhawatirkan. Pengaruh media sosial dan kurangnya pengawasan orangtua ditengarai banyaknya kejahatan seksual yang terjadi. Seperti yang diungkap kasus kejahatan seksual sepanjang tahun 2020, kasus kejahatan seksual pada anak berulang kali terjadi di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kementerian Sosial Republik Indonesia di Konsel, Helpin menyampaikan, selama tahun 2020, kejahatan seksual pada anak di Konsel berjumlah 32 kasus. (Telisik.id 26/12/2020)

Umumnya kejahatan seksual, dikarenakan pengaruh dari video asusila yang diakses oleh anak-anak, sehingga terjadilah kejahatan seksual sesama anak-anak. Melihat maraknya kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak yang terjadi sekarang, jelas bahwa kondisi kehidupan sosial keluarga dan masyarakat sudah di luar kenormalan. Fenomena ini sebagian kecil dari fakta kerusakan generasi muda akibat liberalisasi budaya yang akut. Penggunaan media sosial hampir tidak ada sama sekali filter guna menyaring budaya Barat. 

Semuanya masuk dengan leluasa. Ini semua tak lepas dari bisnis. Kaum kapitalis menciptakan dan memanfaatkan kondisi tersebut guna meraih keuntungan ekonomi. Di sisi lain, dunia pendidikan tak mampu menanamkan nilai-nilai moral. Pendidikan hanya menjadi produsen orang-orang yang materialistis tanpa bekal moral. Pelajaran agama disingkirkan, kalau pun ada porsinya sangat minim. Sementara media massa dan sosial setiap saat 'menjajakan' perilaku hidup bebas hingga ke sudut-sudut kehidupan.

Setiap hari selalu dicekoki budaya permisif (serba boleh). Benteng keluarga dan individu pun tak ada yang melindungi. Negara pun abai terhadap permasalahan ini, tak heran bila kasus demi kasus terulang tanpa henti. Di sisi lain rangsangan seksual di masyarakat kian hari kian bertambah. Materi-materi pornografi dan pornoaksi baik film, majalah dan media sosial porno lainnya begitu mudah diperoleh. Tentu semua ini menimbulkan hasrat seksual pada mereka yang lemah iman. 

Lingkaran setan kejahatan seksual itu terus berlangsung karena perangkat hukum tak bisa membendung. Lama kelamaan lahir generasi yang rusak. Dalam masyarakat dengan sistem sekuler-demokrasi seperti saat ini berhasil menjauhkan nilai-nilai iman dan takwa dari manusia. Dan selain itu dengan nilai kebebasan dan HAM, masyarakat jadi terpasung untuk menghilangkan kemungkaran. Begitupun dengan sikap negara yang membiarkan pornografi dan pornoaksi tersebar di masyarakat, serta penerapan sistem hukum yang mandul, menjadikan para pelaku kejahatan tidak merasa jera. Sistem demokrasi yang mendewakan kebebasan melahirkan kerusakan di semua sendi kehidupan.

Berbeda dengan Islam yang memiliki seperangkat aturan yang melindungi masyarakatnya. Islam adalah agama sekaligus sistem yang sempurna. Ia mampu menjadi solusi untuk segala permasalahan hidup yang sedang dihadapi manusia. Solusi yang Islam berikan tidak hanya berbicara solusi kuratif (penanggulangan), namun juga memberikan solusi preventif (pencegahan). 

Solusi tersebut tercakup dalam mekanisme membentuk sebuah sistem yang baku berlandaskan syariát Islam. Untuk tindak perkosaan, maka dalam hal ini bahwa sanksi bagi pelaku adalah had zinâ, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati, jika pelakunya Muhshan (sudah menikah); dan dijilid (dicambuk) 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun, jika pelakunya Ghair Muhshan (belum menikah). Islam memiliki kejelasan dalam memandang apa yang dimaksud kriminalitas (jarimah). Oleh sebab itu, Islam memiliki sanksi yang tegas bagi pelaku kriminal. 

Yang tentu saja hukuman tegas ini akhirnya akan memberikan efek jera (zawajir) kepada si pelaku, dan sekaligus menjadi penghapus dosa (jawabir) yang telah dilakukannya. Jelaslah bahwa penerapan sanksi dalam Islam bukan dalam rangka menerapkan hukuman yang tidak manusiawi, namun sebagai perlindungan bagi manusia agar takut untuk melakukan tindak kriminal yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa dan takutnya hanya kepada Allah Swt. saja.

Dan mekanisme di atas bukanlah hal yang tidak dapat untuk direalisasikan. Dan tentu hanya dengan Islam yang diterapkan perlindungan terhadap kejahatan seksual akan didapatkan.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top